As-Salamu’alaikum wr wb
Iftitah, syahadat dan shalawat
Seruan untuk taqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah mati kecuali beragama Islam
Muslimin rahimakumullah
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam
Muslimin sidang jum’ah rahimakumullah
Marilah kita ulang baca firman Allah swt yang sangat berharga untuk kita pedomani, sehingga kita benar-benar menggantungkan diri kepada Allah swt guna mewujudkan pribadi yang sesuai dengan kehendak-Nya dan menggerakkan keluarga dan orang yang kita cintai untuk berbuat yang sama.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. (Al-Hujurat [49]: 15)
Jadi bila kita ingin dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka keimanan kita menghasilkan keyakinan penuh yang tidak lagi pernah ada keraguan dan berjihad dengan jiwa dan harta kita. Pertanyaannya, apakah kita sudah sampai pada tahap itu? Jika belum, bertanya saja kepada diri sendiri sudah lumayan daripada bertanya saja tidak. Namun mengetahui ayat ini saja juga lebih baik daripada tidak mengetahui, dan hanya yakin bahwa sekarang ini kita sudah benar menjadi seorang muslim sesuai ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Muslimin rahimakumullah
Sebelum sampai kepada tahap iman yang demikian, marilah kita berlatih diri menjadi manusia yang kuat dengan bimbingan Allah swt dan Rasul-Nya. Telah nyata manusia adalah zalim dan bodoh
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh (Al-Ahzab [33]: 72)
Hal itu sudah nyata kita saksikan sehari-hari betapa zalimnya dan bodohnya manusia, terutama yang tidak beriman dan tidak mau mengikuti bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Manusia juga lemah:
Dan manusia dijadikan bersifat lemah (An-Nisa’ [4]: 28)
Oleh karena itu manusia bersifat berkeluh kesah, dalam kondisi apapun banyak yang mengeluh dan tidak/kurang bersyukur. Allah swt telah memperingatkan di banyak firman-Nya agar manusia mengikuti petunjuk-Nya agar manusia menjadi kuat dan oleh karenanya tidak mudah digelincirkan oleh syetan. Salah satu upaya agar manusia menjadi kuat, menurut Allah swt adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. (Al-Ma’arij [70]: 19-22).
Aquulu qoulii haadzaa wastaghfirullaahal ‘adhiem lii walakum walisaa-iril muslimiina wal muslimaat wal mu’miniina wal mu’minaat fastaghfiruuhu innahuu huwal ghofuurur rohiim.
KHUTBAH KEDUA
Iftitah, syahadat dan shalawat
Seruan untuk taqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah mati kecuali beragama Islam
Muslimin rahimakumullah
Jika ayat-ayat tadi kita ulang baca hingga sampai ayat 35 akan kita dapati bahwa shalat dan amalan utama yaitu bersedekah menjadi sifat manusia yang unggul. Dan shalat akan mencegah muslimin dari berbuat keji dan munkar:
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, aitu Al-Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabut [29]: 45)
Manusia memandang baik dan buruk berbeda dengan Tuhan kita Allah swt. Umumnya manusia menilai seseorang dari luarnya, dari pakaian, dari sikapnya, dari perilakunya, dari kekayaan dan kedudukannya dan seringnya dermawan kepada lainnya. Pada masa Nabi saw persoalan baik dan buruk yang umum itu, ditambah dengan ejekan kepada umat Islam dari Yahudi dan Nasrani, yang menganggap mereka lebih baik dari Islam, karena kiblat umat Islam telah digeser yang semula menghadap Masjid Aqsha ke Ka'bah atau Masjidil Haram. Maka ayat ini menjadi ukuran kebaikan menurut versi Allah swt yang menguatkan iman kita untuk istiqomah benar-benar mencari kebaikan yang dituntunkan Allah sbb:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah [2]: 177)
Pengertian baik menurut manusia (awam) dan ketentuan Allah swt, sangat berbeda, karena telah diterangkan di ayat tersebut, yang utama adalah iman lalu ada faktor sholat. Jadi seseorang menjadi kuat ya karena sholat, menjadi baik ya diantaranya karena sholat.
Selain itu amalan ibadah kita yang pertama dihisab di hari kiamat adalah shalat, sebagaimana sabda Rasul saw:
Amalan yang mula2 dihisab bagi seorang hamba di hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya diterima, maka seluruh amalnya diterima. Jika shalatnya ditolak, maka semua amalannya ditolak (Ath-Thabarany, Al-Jami’ush Shaghir)
Kesimpulannya:
Shalat akan membedakan manusia dari kebanyakan, karena dengan shalat kita menjadi pribadi yang kuat dan baik serta bermanfaat untuk lingkungannya.
Mari kita perbaiki diri kita dengan terus istiqomah dalam beriman dan bertaqwa.
Karena itu kita perbaiki terus shalat kita agar menjadi manusia yang berbeda dengan umumnya yakni menjadi manusia yang kuat, baik dan bermanfaat untuk lingkungan kita, untuk mencapai ridlo Allah dan faedah di dunia berdasarkan ajaran Allah swt.
Shalawat
Do’a, ditutup dengan:
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّ نْيَا حَسَنَةً وَفِى الْاَ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Disampaikan pada Khutbah Jum’at di Masjid Al-Kautsar 22 Rajab 1432/ 24 Juni 2011 oleh Dr. H. M.Masyrifan Djamil, MPH., MMR.
Disajikan sedikit ilmu dan pengalaman bidang kesehatan dan agama Islam kepada siapa saja yang berusaha sehat dan selamat
Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka
Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.
Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.
Jumat, 25 November 2011
Shalat membentuk pribadi yang kuat dan baik serta bermanfaat untuk lingkungannya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar