Iftitah, syahadat dan shalawat dan salam kepada Rasul saw dan seruan untuk taqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah mati kecuali beragama Islam
Muslimin sidang jum’ah rahimakumullah
Alhamdulillah, insyaAllah kita akan bersua Romadlon lagi karena sekarang sudah tanggal 22 bulan Sya’ban 1432. Bulan Sya’ban ini telah diadopsi oleh orang Jawa sejak Sultan Agung menjadi bulan Ruwah. Berbagai kegiatan yang dikaitkan dengan menyambut Romadlon dilakukan masyarakat Jawa. Bahkan ada suatu lembaga yang diklaim sebagai Pondok Pesantren mengajak santrinya menuju pantai untuk mandi di laut dengan dalih untuk mensucikan diri guna menyambut Romadlon. Padahal kita tahu Rasulullah saw dan para sahabat hidup di Madinah, jauh dari pantai. Dan tak ada satupun riwayat yang menceritakan Rasul saw dan para sahabat berbuat seperti itu.
Di kampung-kampung diadakan selamatan ruwahan dengan alasan untuk menghormati arwah, mengirim doa arwah membersihkan diri dan para arwah dari dosa. Pernah saya dengar di radio takshow tentang budaya Jawa, mengenai ruwahan ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa arwah leluhur menjelang puasa pada datang ke rumah ahli warisnya, maka ahli waris harus melakukan upacara agar arwah tersebut tenang. Upacaranya dilakukan dengan selamatan atau kenduri, tentu banyak biaya untuk itu dikeluarkan. Namun kalau kita tilik mereka, tidak banyak mengeluarkan biaya yang justru dituntunkan oleh Allah swt, misalnya aqiqoh untuk bayi yang baru dilahirkannya, kurban pada Idul Adha, zakat atau haji. Dari sini dapat diketahui bahwa ajaran yang turun temurun itu bukan dari Islam dan dikuasai oleh orang yang dulu menganut Hindu, lalu memanfaatkan ketidak tahuan umat Islam, dibelokkan untuk ritual yang tak bermakna dari segi ibadah jika dibandingkan dengan ibadah nusuk (pengorbanan) yang telah kami sebut di atas.
Untuk itulah mari kita pelajari dengan sungguh-sungguh, bagaimana Rasulullah saw dan para sahabat menyongsong Romadlon di bulan Sya’ban. Jika kita mau mengikuti tradisi Jawa di bulan Ruwah, pilihlah kegiatan yang tidak tidak bertentangan dengan Islam, misalnya ziarah kubur, masuk kubur mengucapkan salam kepada ahli kubur, membersihkan kuburan orang tua atau leluhur agar mudah dikenali, rapi dan bersih. Tidak perlu membangun kijing (berbagai adukan semen dan marmer atau keramik untuk menghiasi kuburan) dengan dalih bakti kepada ortu yang sudah meninggal. Tidak perlu membawa bunga, apalagi warna putih dan kuning, karena telah jelas bunga warna itu adalah syarat ritual bagi agama Hindu.
Kita umat Islam, berziarah kubur sangat simpel dan murah yang diajarkan Nabi saw yaitu salam tadi, lalu berdoa bagi kesejahteraan almarhum baik sendiri atau jamak dengan doa yang sudah masyhur dari Nabi saw. Nabi saw dan para sahabat tidak membaca Al-Qur’an di kuburan. Seandainya memang disyariatkan, tentu Nabi saw menganjurkan dan mengajari dan para sahabat melaksanakan dan terus menyiarkan amalan itu. Ternyata kan tidak ada riwayat yang demikian, jadi kita ikut saja ajaran Rasul saw, agar selamat dan kelak bertemu dengan baginda Nabi saw dan para syuhada’, orang-orang yang benar dan orang-orang shaleh, sebagaimana ayat di bawah ini:
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, ara shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (An-Nisa’ [4]:69)
Rasulullah saw juga melakukan puasa sunnah yang lebih kerap di bulan Sya’ban, sampai-sampai sahabat sulit membedakan kapan beliau tidak berpuasa atau berpuasa.
Di bulan ini juga ada sebagian umat Islam yang merayakan 15 Sya’ban dengan berkumpul di masjid/musholla, berdoa bersama, membaca surah yasin bahkan ada juga yang shalat sunnah. Semua itu tidak ada contohnya dari jaman Rasul saw dan para sahabat, sehingga mengapa kita melakukannya?
Muslimin rahimakumullah
Rasulullah saw menyampaikan berita gembira kepada umat Islam, sebagai bulan yang penuh rahmat, penuh pengampuna, jika puasa dan qiyamullail dengan ikhlas, maka diampuni dosanya seperti bayi baru lahir. Dan doa orang yang puasa Romadlon merupakan doa yang tidak akan ditolak Allah alias dikabulkan, sebagaimana sabda Nabi saw:
“Tiga orang hak atas Allah tidak menolak doa mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, orang yang sedang teraniaya sehingga terlepas dari aniaya dan orang yang bepergian (musafir) hingga kembali” (HR Al-Bazzar)
Marilah menyiapkan mental untuk beribadah bulan Romadlon mulai sekarang. Kesempatan itu sangat luar biasa, sebagaimana hadits di atas. Maka jangan sampai kita menyia-nyiakan. Bagaimana menyia-nyiakan Romadlon? Banyak terjadi di kalangan muslim karena kebodohannya, misalnya:
• Ngabuburit (sore-sore pergi ke luar rumah, berjalan-jalan, menunggu buka puasa). Kalau kita ingat hadits di atas, semakin sore seorang yang puasa jelas makin menderita, sehingga semakin dekat dengan Allah swt, maka seharusnya kita manfaatkan untuk berdoa semaksimal mungkin.
Sabda Nabi saw lainnya:
“Bulan Romadlon adalah bulan yang Allah telah memfardlukan atasmu berpuasa di dalamnya, dan aku telah mensunnahkan bagimu qiyamullail (shalat malam) di dalamnya. Barangsiapa berpuasa dan bershalat qiyamullail di malamnya karena iman dan karena mengharapkan (ridlo) Allah, niscaya ia keluar dari dosanya, sebagai ketika hari dimana ia dilahirkan oleh ibunya”.
Nah kita siapkan malam-malam Romadlon nanti hanya untuk ibadah. Jangan mau dibujuki untuk ke Mal-mal dengan iming-iming MIDNIGHT SALE dan lain-lainnya. Mengapa kita ingin diskon 20 – 50% padahal jika kita tidak keluar malam dan hanya ibadah, kita akan mendapat yang lebih besar dari itu. Anak-anak muda juga masih ada di simpang lima atau di tempat-tempat begadang, padahal Romadlon itu peluang emas bagi kita yang butuh pengampunan dan barokah Allah.
Muslimin rohimakumullah
Kewaspadaan lain manakala kita masuk bulan Romadlon adalah menguatkan niat dan komitmen, semangat agar beribadah Romadlon stabil hingga akhir bulan, ibarat maraton harus dijaga jangan sampai tidak masuk finish.
Umumnya umat Islam itu tampak aneh dan lucu di kala bulan Romadlon, karena di minggu pertama, sungguh luar biasa semuanya berbondong-bondong ke masjid untuk shalat Isya’ dan tarawih, tetapi makin beranjak ke minggu berikutnya, demikian pula jamaah shalat mulai berangsur-angsur berkurang. Pada tanggal-tanggal itu juga masyarakat malah meramaikan Mal-mal bahkan sampai berdesak-desakan. Mengapa kita mengutamakan yang remeh-temeh dibanding surganya Allah? Apakah karena kebodohan atau krisis iman? Jika memang kita paham akan hal itu, mari kita persiapkan sebelum Romadlon untuk cadangan Idul Fitri.
Sangat beda dengan di Timur Tengah, khususnya Makkah dan Madinah, semakin tanggal bertambah maka jamaah makin bertambah banyak. Mengapa? Peluang kita kan harus dapat memperoleh lailatul qadar, dimana Rasul saw menganjurkan mengejarnya pada bilangan ganjil sepuluh terakhir bulan Romadlon. Lalu kalau kita justru tidak aktif dan tidak lagi ke masjid, apakah kita yakin dan sadar bahwa lailatul qadar sangat penting dan luar biasa?
Bagi muslimin yang berjualan makanan, sebaiknya meniru beberapa saudara kita yang tergabung dalam asosiasi Rumah Makan Padang. Mereka benar-benar menyiapkan Romadlon sebagai tamu agung, sebagian dari mereka telah siap manajemennya, gaji karyawan tetap diberikan, tetapi rumah makannnya tutup atau buka hanya 30 menit sebelum buka. Orang yang membeli makanan boleh dibawa pulang untuk bekal berbuka puasa, tetapi dilarang makan di restorannya jika belum jam buka. Inilah landasan yang diikuti oleh saudara-saudara kita itu, yaitu Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalannya lebih penting dari sekedar duniawi (8 masaalah duniawi) sbb:
Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah [9]:24)
Aquulu qoulii haadzaa wastaghfirullaahal ‘adhiem lii walakum walisaa-iril muslimiina wal muslimaat wal mu’miniina wal mu’minaat fastaghfiruuhu innahuu huwal ghofuurur rohiim.
Disampaikan pada Khutbah Jum’at di Masjid Al-Kautsar Jl. Cempolorejo V Semarang tanggal 20 Sya'ban 1432/ 22 Juli 2011 oleh Dr. H. M.Masyrifan Djamil, MPH., MMR.
Disajikan sedikit ilmu dan pengalaman bidang kesehatan dan agama Islam kepada siapa saja yang berusaha sehat dan selamat
Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka
Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.
Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.
Sabtu, 26 November 2011
Peluang Bertemu Romadlon, maka Jangan Sia-siakan Peluang Emas itu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar