Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Rabu, 23 November 2011

Kebangkitan umat Islam dimulai dari ilmu (II), setelah iman, ahlaq dan amal saleh

Iftitah, hamdalah, syahadat, shalawat dan salam kepada Nabi saw dan ajakan taqwa. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia Telah mendapat kemenangan yang besar. (Al-Ahzab [33]: 70-71)

Muslimin rahimakumullah
Pada khutbah yang lalu telah kami sampaikan bahwa Islam dan muslimin bangkit dan maju antara lain karena 3 hal: (1) iman yang benar sehingga melahirkan ikhlas (beribadah hanya untuk Allah, mendekatkan diri kepada Allah swt), (2) ahlaq yang mulia (karena alasan diutusnya Rasul saw adalah ahlaq mulia), lalu disusul (3) ilmu yang diberi peluang untuk berkembang di dalam Islam, karena keutamaannya langsung digerakkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan imbalan kemuliaan di dunia dan akhirat.
Karena di masa kekhalifahan Islam, ilmu berkembang dengan pesat, dipadukan dengan iman dan amal saleh yang menghasilkan ahlaq (etika, budi pekerti luhur), maka lahir dan berkembanglah masyarakat madaniah (civil society) dan peradaban yang tinggi. Telah disebutkan di berbagai keterangan oleh Barat sendiri, bahwa ketika Islam telah membangkitkan umatnya dengan keteraturan, kesejahteraan, melek huruf (Masyarakat MADANIYAH, Civilization), ternyata Barat masih banyak yang belum melek huruf, menyelesaikan masalah dengan pedang dan senjata, dengan kata lain masih kedodoran.

Gustav Le Bon (The World of Islamic Civilization) yang dikutip Syafi’i Ma’arif (Jurnal Ulumul Qur’an Vol III N0. 2 Tahun 1992): “Perkenalan dengan peradaban Islamlah sebenarnya yang membawa Eropa menjadi dunia beradab”. ”Pada Abad 9 & 10, pada saat Pusat2 Islam di Spanyol sedang berada di puncak kecemerlangannya, pusat-pusat intelektual di Barat hanyalah berupa benteng-benteng perkasa, dihuni oleh para bangsawan semi barbarik, yang merasa bangga atas ketidak-mampuannya membaca”.




Sidang jum’at yang berbahagia, muslimin rahimakumullah

Karena iman yang kuat dan benar, umat Islam menjadi umat yang amanah, umat yang adil. Tidak mau dia mengambil hak orang lain, walaupun tidak ada yang menyaksikan. Bahkan bukan umat Islampun pernah mempraktekkan kejujuran dan amanah ini, walaupun konon karena takut kepada Ratu yakni Ratu Shima di Kalingga yang sudah melegenda.
Pelajaran ini yang dulu diajarkan para guru untuk membentuk murid yang jujur dan amanah, misalnya kisah Ratu Shima sengaja menaruh pundi emas di jalan. Disuruhnya hulubalangnya mengawasi dari tempat yang tidak diketahui (sekarang disebut hidden camera). Berbulan-bulan rakyat Kalingga lewat jalan itu, namun tak satupun orang yang mau mengambil barang yang bukan miliknya.

Sekarang ini, walaupun Indonesia memperingati 3 hari besar dalam 2 bulan ini yaitu Hari Pendidikan Nasional, Harkitnas dan Hari Kesaktian Pancasila, makin banyak saja kita temui ketidak jujuran di hampir semua bidang kehidupan. Bahkan yang paling keji adalah orang berdagang makanan atau bahan mentah seperti ikan atau daging ayam, diberinya formalin agar awet. Padahal formalin itu merusak pemakainya, khususnya organ liver dan ginjal. Alangkah naifnya, orang yang mendapat rejeki dari pembeli, malah pembelinya diracuninya. Sungguh bergidik bulu kuduk kita atas fakta itu. Sedangkan di Malaysia, seorang kawan bercerita, kalau jualan ikan tidak laku, maka dibagi-bagikannya kepada tetangga si penjual, karena selama berdagang, tak selalu mengalami kerugian. Dengan dimanfaatkan sekitar, ia mendapat banyak keuntungan pahala dan ia pasti dicari orang yang pernah diberinya manakala membutuhkan ikan segar kelak suatu hari.

Pada Ujian Nasional yang lalu kita temui ada tindakan curang berjamaah, justru guru Kepala yang mengkoordinir! Tetapi Menteri Pendidikan memilih cara penyelesaian masalah model “adem”, “beres di permukaan”, tetapi sesungguhnya masalahnya masih ada dan ibarat api, ada dalam sekam. Mengapa? Karena ada pihak yang sakit hati dan dikalahkan sekaligus dizalimi secara berjamaah, meskipun pada posisi benar. Proses yang ada telah melukai pihak-pihak yang sejatinya benar, mengabaikan kebusukan yang nyata dilakukan, didukung kaidah-kaidah ilmiah yang diumumkan di media, bahwa setelah diteliti tidak ada masalah. Apa yang terjadi dan sesungguhnya bisa memberikan hikmah atau pelajaran tak punya efek pendidikan sama sekali, bahkan efeknya adalah sebaliknya.

Muslimin rahimakumullah
Umat yang beriman dan berahlaq mulia, dijunjungnya tinggi-tinggi nilai luhur kemanusiaan, keilahian dan kerasulan. Salah satu syair Arab yang terkenal:

“Jika ahlaq suatu bangsa telah rusak. Negara pun akan lenyap”

Lalu apalagi yang membuat Islam dan muslimin bangkit dan maju 800 tahun lamanya? Banyak lagi faktornya, namun perlu saya ulang-ulang, fondasinya adalah iman, sebagaimana firman Allah swt:

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (Al-Hujurat [49]: 7)

Jadi orang beriman benci kekafiran, kefasikan (kejahatan) dan kedurhakaan. Tidak mungkin ketiga hal ini bercampur dengan keimanan seseorang. Karena orang mukmin sudah percaya janji Allah dan Rasul-Nya, salah satunya ialah bahwa dirinya sudah dibeli oleh Allah swt dengan surga:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah [9]: 111)


Dikuatkan sabda nabi Muhammad saw bahwa amal utama setelah iman adalah jihad yang digambarkan ayat di atas al salah satunya adalah perang mempertahankan aqidah:

Hadits dari Abu Hurairoh ra: Rasulullah ditanya (oleh sahabat) “Apa amal yang utama?”, Rasulullah saw menjawab: “Iman kepada Allah dan RasulNya”. Sahabat bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”, Rasulullah saw menjawab: “Kemudian jihad di jalan Allah”. Sahabat bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”, Rasulullah saw menjawab: “Kemudian haji mabrur”. (Fiqhus Sunnah, halaman 626).

Orang mukmin yang telah kuat imannya tidak mencuri karena ia yakin dengan janji Allah swt melalui Rasul-Nya, bahwa seorang mukmin yang telah mempunyai makanan untuk hari ini tidak perlu ragu2 namun malah bahagia, karena burung keluar sarangnya setiap pagi, tak ada apa-apa di tangannya. Tetapi mereka dijamin Allah swt rejekinya. Jadi mengapa harus jahat atau mencuri atau korupsi? Kemuliaan kita telah jelas karena taqwa, bukan harta atau lahiriah.

Kesimpulannya, jika orang berkata atau bahkan menunjukkan bahwa dia iman, tetapi tidak ada perwujudan setelahnya, yaitu lisan dan amalnya benar sesuai Allah dan Rasul-Nya, kita meragukan keimanannya

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. (Al-Hujurat [49]: 15)

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله الذى هَذَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَا نَا الله. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.أَمَّا بَعْدُ : فَيَاعِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ. قال الله تعالى فى القرآن الكريم : يَآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ilmu yang terus dikembangkan dalam dunia Islam, yang dijiwai ahlaq mulia, pengabdian (jihad fi sabilillah) secara pasti menghasilkan ilmuwan-ilmuwan dan ilmu yang adiluhung. Salah satu yang kita catat adalah Ibn Sina, dokter pertama umat Islam yang mengintrodusir ilmu kedokteran, anatomi dan filsafat serta agama. Jadi tidak ada sekularisasi dalam ilmu(pemisahan ilmu agama dan selain agama). Ia menulis buku paling tebal pertama yang sekarang dikenal sebagai textbook kedokteran (Canun of Medicine). Manuskrip aslinya masih disimpan di Barat.

Bukanlah karena rendah diri jika sekarang ini kita menyebut-nyebut kejayaan Islam, karena kejayaan Islam saat itu adalah fakta sejarah, tak bisa dihapus. Tetapi dengan pembahasan ini saya ingin mengajak muslimin mukminin agar kembali ke inti ajaran Islam yang otentik, yang berhasil medorong peningkatan iman, ahlaq, ilmu dan amal saleh, yang bermanfaat untuk bumi seisinya, menyelematkan manusia dan memanusiakan manusia serta menyejahterakan manusia. Maka kalau yakin dengan sistem lain dan dipraktekkan di negeri kita, mengapa tidak yakin dan tidak pede kepada sistem Islam yang telah teruji zaman dan terbukti kebaikannya. Padahal kita mengaku taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
اَللَّهُمَّ رَبَّنَا أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا
اَللَّهُمَّ اَرِنَاالْحَقَّ حَقّا وَارْزُقْنَااتِّبَاعَهُ وَاَرِنَا الْبَا طِلَ بَاطِلاَ وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ رَبَّنَا
لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّ نْيَا حَسَنَةً وَفِى الْاَ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِ الْعِزَّةِ عَمَّايَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Disampaikan pada Khutbah Jum’at di Masjid Al-Kautsar 3 Juni 2011 oleh Dr. H. M.Masyrifan Djamil, MPH., MMR.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar