Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Sabtu, 23 April 2011

Keselamatan dan kebahagiaan dipengaruhi peran perempuan

Iftitah : Hamdalah, syahadatain, sholawat Nabi saw dan seruan taqwa.

Muslimin rahimakumullah
Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah swt, atas nikmat karunia dan rahmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita, yang tiada terkira jumlahnya. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya.
Saya berwasiyat kepada hadirin sidang jum’ah dan kepada diri saya sendiri, bertaqwalah kepada Allah swt dengan sebenar-benar taqwa. Dan janganlah meninggal dunia, kecuali dalam keadaan beragama Islam.

Muslimin rahimakumullah
Banyak kejadian besar yang menakjubkan yang kita saksikan pada akhir-akhir ini, yang menggetarkan hati kita dalam mengarungi kehidupan ini, namun dipihak lain semakin meningkatkan iman kita kepada Allah swt. Allahu akbar, laa haula walaa quwwata illaa billaah. Ada Tsunami yang hebat di Jepang, ada banjir di beberapa daerah, ada musibah yang menimpa orang-orang yang telah kita akui sebagai pemimpin karena dipilih rakyat dalam pemilu legislatif atau pilkada, pemimpin umat. Musibah itu menimpa dirinya atau anaknya atau cucunya, bahkan cicitnya. Ada hama ulat bulu yang sangat cepat menyebar kemana-mana, ada bom yang justru meledak saat iqomah sholat Jum'ah dikumandangkan, dll. Semua itu menunjukkan bahwa keselamatan umat manusia bukan ditentukan oleh manusia itu sendiri. Namun kebanyakan manusia tidak menyadari hal itu sehingga tergelincir atau jatuh karena berbagai hal yang sesungguhnya karena perbuatannya sendiri.
Allah swt selalu mengingatkan kepada kita bahwa jalan keselamatan ialah dengan mengikuti apa yang difirmankan-Nya dalam Kitab-Nya:
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Al-Maidah [5]: 16)

Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. (Thaaha [20]: 47)



Muslimin rahimakumullah
Kemarin bangsa kita memperingati Hari Kartini. RA Kartini sebenarnya bukanlah satu-satunya perempuan Indonesia yang berjasa dalam pendidikan rakyat dan umat, terutama kepada kaum perempuan. Namun Pemerintah RI telah sejak dahulu bersikukuh hanya berfokus kepada jasa-jasa Kartini, sehingga menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini. Dulu di Majalah Panji Masyarakat buya HAMKA memaparkan adanya tokoh wanita yang sebenarnya mendahului Kartini yang berperan dalam pendidikan rakyat, umat dan perjuangan melawan penjajah.

Karena sudah terlanjur ada hari Kartini, maka telah banyak lahir kajian mengenai Kartini, bagaimana sikap dan gerakannya dalam memajukan rakyat di lingkungannya, dan juga bagaimana sebenarnya agama dan amaliyahnya. Ibu kandungnya adalah garwo ampil (istri kedua) Bupati Jepara, bernama Siti Ngasirah. Pendidikan RA Kartini dilakukan bersama-sama dengan semua putra-putri Bupati dan tentu lebih sering berinteraksi dengan Ibu Bupati yang utama, bersama sang Bupati yang tentunya mempunyai tradisi kebangsawanan Jawa (priyayi). Tidaklah mengherankan bila Kartini hanya sedikit mengenal agama, beda dengan komunitas Kauman Jepara, yang sejatinya hanya selangkah keluar rumah dinas Kabupaten.

Sampailah saatnya Allah memaparkan Kartini dengan sumbernya Islam, melalui seorang ulama dari Semarang yakni Kyai Saleh Darat. Penjelasan Tafsir Surah Al-Fatihah Kyai Saleh Darat ketika beliau memberi pengajian di rumah dinas Bupati Demak, mempesonakan Kartini tentang keagungan agama Islam, ia menangis karena haru. Ia lalu menanyakan kepada kyai, mengapa pengajian di kampung-kampung tidak ada penjelasan semacam itu. Memang di kampung-kampung saat itu, anak-anak mengaji tentang wudlu, sholat, fikih sekitar sholat dan Juz Amma hanya untuk melafalkan bunyinya, tanpa tahu maknanya.

Muslimin rahimakumullah
Melalui khutbah ini saya menyeru agar umat Islam jangan keburu nafsu mengikuti gerakan gender atau kesetaraan antara perempuan dan lelaki yang tidak Islami. Karena gerakan gender yang murni dari Barat hanya akan menjauhkan seseorang perempuan muslimah dari ajaran Islam, apabila diikuti tanpa penapisan yang baik, terlepas dari nilai-nilai agama.

Selain itu kedudukan perempuan dalam Islam telah jauh lebih maju dibanding perempuan di masa Kerajaan berbasis Agama di Eropa, dimana ada mitos perempuan diasosiasikan dengan iblis dan kala itu perempuan tidak mempunyai hak apapun dalam dunia kerja dan politik. Islam sejak abad ke VII justru mengangkat kedudukan perempuan, demikian mulia, menjadi ibu, menyusui anaknya selama 2 tahun (yang sekarang dikenal dengan ASI eksklusif hanya 6 bulan), pendidik anak-anaknya dan penentu keberhasilan dan keselamatan keluarga. Dari ibu yang hebat dan solihah, lahirlah keturunan yang cemerlang sepanjang jaman misalnya Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz. Di Negeri kita, ada BJ Habibie dan Amien Rais yang bersaksi kepada publik, bahwa yang membesarkan beliau adalah berkat kehebatan ibu beliau.

Dalam Islam, tidak ada bedanya kaum lelaki dan perempuan yang beriman dan beramal saleh, sama-sama memperoleh kedudukan yang mulia, mendapat balasan tiada beda, sebagaimana firman-Nya:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl [16]: 97). Ayat yang semisal dapat dibaca pada surah An-Nisa’ [4]: 124.

Seorang ibu atau perempuan dalam Islam berhak atas anak-anak lelakinya, meskipun si anak sudah berkeluarga, sebagaimana sabda Rasul saw:
‘Aisyah bertanya kepada Rasul Allah: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita?”. “Suaminya”, jawab Rasul saw. “Siapa pula orang yang paling besar haknya atas seorang lelaki?”, tanya A’isyah lagi. “Ibunya”, jawab Rasul saw.

Allah swt menjunjung tinggi perempuan solihah, mendampingi suami dalam keluarganya, dan Allah swt menjaga mereka, sebagaimana firman-Nya:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu. Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS An Nisa’ [4]: 34)

Dan, sidang jum’ah pasti telah mengetahui bahwa Rasulullah saw menempatkan perempuan yang sholihah sebagai tolok ukur kebahagian bagi seorang muslim di nomor pertama, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
Empat macam kebahagian: wanita sholihah, rumah yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman. Dan ada empat macam kenistaan (lawan kebahagiaan): tetangga yang jelek, wanita yang buruk, dan rumah yang sempit dan kendaraan yang tidak baik (HR Ibnu Hibban, sahih).

Namun meskipun perempuan juga menentukan, dan mempunyai kesamaan dengan lelaki, tentu mempunyai perbedaan kodrati yang berujung pada proporsi pembagian peran yang serasi untuk membangun keluarga yang bahagia dan selamat di dunia dan akherat.

Muslimin rahimakumullah
Marilah keselamatan yang telah kita peroleh kita jaga. Kita jaga keselamatan keluarga kita, dengan selalu mendidik agar senantiasa beriman, bertaqwa dan beramal saleh, bagi diri sendiri dan anggota keluarga semuanya. Hati, lisan, perbuatan kita hanya mengamalkan apa-apa yang selamat dan menyelamatkan. Kita mengetahui bahwa kehidupan di dunia ini penuh dengan gangguan terhadap keselamatan kita, dari mana datangnya dan kapan, kita tidak tahu. Marilah kita evaluasi mengapa bahaya terhadap keselamatan selalu mengintai. Pertama, selagi manusia hidup, ia mempunyai nafsu, dan kedua, karena setan selalu berupaya menggoda manusia untuk menggelincirkan manusia dari imannya, untuk membuat manusia tidak bersyukur kepada Allah, dan yang ketiga, karena pengaruh lingkungan yang buruk.

Dan tentu saja usaha menjaga keselamatan itu harus disertai dengan selalu memohon kepada Allah swt agar kita dijaga-Nya, senantiasa mendapat keselamatan. Demikianlah nasihat Rasul saw agar kita perbanyak doa keselamatan.
Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi saw pernah berkata kepada pamannya, Al-Abbas: “Wahai Pamanku, perbanyaklah berdo’a untuk meminta keselamatan (Silisilah Hadits Sahih no. 1523, Nashiruddin Al-Albani)

Marilah kita akhiri khutbah ini dengan membaca satu ayat yang agung tentang manusia yang berkorban untuk mencari keridhaan Allah swt
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (QS Al Baqarah [2]: 207).

Aquulu qoulii haadzaa wastaghfirullaahal ‘adhiem lii walakum walisaa-iril muslimiina wal muslimaat wal mu’miniina wal mu’minaat fastaghfiruuhu innahuu huwal ghofuurur rohiim.

Disampaikan pada Khutbah Jum’at di Masjid Al-Kautsar Jl. Cempolorejo V Semarang tanggal 18 Jumadal Ula 1432/ 22 April 2011 oleh Dr. H. M.Masyrifan Djamil, MPH., MMR.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar