Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Rabu, 02 Maret 2011

PENGALAMAN AGAMA DI BANJARNEGARA YANG UNGGUL (Bagian Lima)

Hanya satu RT di Daerah Tertinggal mampu berkurban sapi hingga 4 ekor

“Barangsiapa mempunyai keleluasaan untuk melaksanakan ibadah kurban tapi tidak melaksanakannya, maka janganlah mendekati tempat ibadah kami” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Umat Islam sebenarnya mempunyai potensi yang hebat bahkan mungkin dahsyat di segala bidang, jika potensi itu benar-benar dikelola dan diwujudkan dalam bentuk nyata. Salah satu potensi hebat yang bisa diwujudkan adalah kemampuan untuk berkurban di hari Idul Adha dan 3 hari tasyrik setiap tahun yang bermanfaat untuk menambah gizi kaum papa. Kurban di hari raya Qurban itu sesungguhnya merupakan kewajiban umat Islam semuanya bagi yang mampu. Mampu dalam konteks ini adalah bila seseorang muslim pada hari itu bisa makan dengan layak untuk seluruh keluarganya, dalam kondisi yang tidak miskin atau secara kontemporer mampu memenuhi kebutuhan fisik minimum bagi dirinya dan keluarga serta mempunyai harta atau tabungan yang cukup. Kalau dengan kriteria sederhana ini, maka sesungguhnya jumlah umat Islam yang mampu berkurban amat sangat besar sekali . Dan jika terjadi, tak mungkinlah bagi Indonesia mempunyai rakyat yang kurang gizi. Di negara-negara Timur Tengah, hewan kurban yang banyak telah diolah untuk diawetkan (misal dengan pengalengan) untuk didistribusi yang luas sampai ke Afrika dan dalam waktu lama (setelah Idul Adha usai).



Selanjutnya karena suatu kelompok masyarakat telah terbina dengan baik, yakni mengikuti kajian Islam setiap hari di Kota Banjarnegara (lihat artikel sebelumnya tentang Pengajian rutin di Kota Banjarnegara). Mereka terbina organisasinya dalam kelompok-kelompok RT atau sekitar masjid/musholla dan karena juga persatuan masyarakatnya yang kuat (bahasa Jawanya guyub), maka umat Islam di Kota Banjarnegara itu semakin yakin tentang kewajiban kurban, karena membaca hadits tersebut di atas.

Sebagai contoh di suatu RT yaitu RT 4 RW 5 Kelurahan Kutabanjar dimana penulis pernah tinggal selama 8 tahun, mengadakan pengajian yang disebut Pengajian Qurban yang berhasil membina umatnya. Peserta pengajian adalah semua warga yang beragama Islam, tidak pandang bulu apa Ormas Islam yang diikutinya . Setiap warga dalam suatu keluarga menabung uang sukarela selama satu tahun untuk kurban tahun berikutnya. Bagi yang mampu umumnya menabung Rp.50.000,- sampai Rp.100.000,- per bulan, namun tak jarang ada yang hanya Rp.10.000,-, kepada bendahara yang ditunjuk khusus untuk tabungan kurban. Jika selama satu tahun telah cukup untuk membeli 1 ekor kambing, maka anggota jamaah itu melaksanakan kurban. Jika belum cukup, maka ia terus menabung sampai pada suatu saat mampu berkurban 1 ekor kambing. Mereka juga menyisihkan uang untuk infaq atau zakat ke Bendahara khusus ZAIQOH (Zakat Infaq dan Shodaqoh).

Pengajian diadakan rutin, selalu di tanggal 8 setiap bulan, digilir siapa yang menjadi tuan rumahnya atau atas permintaan salah satu warga yang ingin menjadi tuan rumah. Segmentasi waktu/acara pengajian selalu sama yaitu:
• Pembukaan
• Sambutan tuan rumah
• Pengajian yang diisi oleh warga yang dipandang alim dalam pengamalan dan ilmu agamanya (meskipun tidak dijuluki ustadz) juga bergiliran. Lama (durasi) pengajian rata-rata 30-60 menit.
• Tanya jawab
• Makan snack atau hidangan ala kadarnya. Biasanya tuan rumah menghidangkan makan malam sekedarnya (tidak mewah-mewah)
• Laporan kas bulanan yaitu pengumuman anggota jamaah dan berapa tabungannya. Anggota nanti di akhir pengajian mendapat kartu yang berisi daftar tabungannya setiap bulan dari bendahara, setelah menyetor uangnya pada awal pertemuan beserta kartunya.
• Laporan kas ZAIQOH dan pengeluaran untuk fakir miskin dll.
• Sambutan Ketua Pengajian Qurban dan/atau Ketua ZAIQOH
• Sambutan dan informasi dari Ketua RT. Jadi Ketua RT selalu hadir dalam forum pengajian ini, menyatu dengan warga sekaligus untuk membina dan memberi pengumumuan-pengumuman penting.
• Doa bersama atau jika ada warga yang meninggal juga didoakan oleh semua jamaah dengan lafal (kalimah doa) yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw*.

Setiap tahun RT 4 RW 5 Kelurahan Kutabanjar Kota Banjarnegara dengan pola Pengajian Qurban ini bisa berkurban rata-rata 4 (empat) ekor sapi pada hari Raya Qurban. Bahkan di RT sebelahnya pada Idul Adha (Kepatihan) tahun lalu berhasil menyembelih kurban 7 ekor sapi. Jika dihitung 1 ekor sapi adalah untuk 7 orang muslim yang berkorban, maka di RT 4 RW 5 ada 28 orang yang berkorban. Padahal kita tahu, satu RT dihuni atau merupakan unit organisasi masyarakat dan pemerintahan yang meliputi 40-50 kepala keluarga (KK) saja. Di RT 4 RW 5 itu hanya ada 36 KK. Jadi KK yang tidak korban hanyalah sekitar 8-10 orang. Padahal penulis menyaksikan sendiri bahwa keluarga muslim yang hidup di RT itu yang benar-benar mampu hanya sekitar 4-5 orang, sebagian besar pendatang (ada dokter atau apoteker atau sebagai Kepala Dinas Kesehatan atau Direktur RSU menempati rumah dinas di RT itu). Sisanya adalah keluarga yang sederhana atau cukup. Oleh karena jumlah kurbannya melimpah, daging yang dihasilkan dapat dibagikan meluas keluar dari wilayah RT itu.

Sungguh lur biasa potensi muslimin, karena keikhlasan yang tinggi umat di komunitas Banjarnegara Kota itu rela mengeluarkan sebagian rejekinya karena Allah swt, meskipun mereka bukan orang kaya. Beginilah pengamalan Islam yang benar dan nyata. Sekali lagi hal ini tentu karena pertolongan Allah swt yang telah memberi hidayah iman dan membuka mata hati muslimin di Kota dawet ayu itu, namun tidak terlepas karena pembinaan dan bimbingan para ulamanya yang berlangsung kontinyu dan lama agar umat selalu di jalan Allah swt, melakukan sunnah Rasulullah saw.

Wahai muslimin di Nusantara ini, marilah mencontoh amalan Islam di Kota Banjarnegara itu, padahal beberapa puluh tahun yl sebelum tahun 2010 kota itu tergolong sebagai Daerah Tertinggal. Kalau di daerah tertinggal saja bisa, apalagi di Kota anda yang lebih mampu atau kaya raya....tentulah lebih bisa. Kalau tidak bisa, janganlah dekat-dekat dengan musholla (masjid) anda. Sungguh merugi umat yang demikian.....


27 Robi’ul Awal 1432 / 2 Maret 2011

* Karena memang demikianlah tuntunannya. Rasulullah saw, keluarganya dan para sahabat telah memberi contoh bagaimana mendoakan anggota keluarga yang telah tiada, dengan kalimah doa yang indah dan mulia. Rasulullah saw, keluarga dan para sahabat tercintanya tidak melakukan apa yang dilakukan sebagian masyarakat muslim di Jawa/Indonesia sekarang ini yaitu tahlilan/yasinan/fida’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar