Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Minggu, 13 Maret 2011

Pedoman ketika anggota keluarga menjelang ajal dan meninggal dunia (Bag IV)

Kemanakah roh keluarga kita yang telah meninggal?

Jika pembaca membaca Pedoman sebelumnya, maka dapat menarik kesimpulan sendiri bagaimana roh keluarga kita yang telah wafat. Berdasarkan hadits Nabi saw, detik terakhir jenazah mendengarkan suara keluarga adalah sesaat setelah didoakan ketika selesai pemakaman. Ketika semua pelayat pulang meninggalkan kuburan, menurut Rasul saw jenazah dapat mendengarkan derap sandal para mu’aziyyin (yang bertakziyah, pelayat), sebelum malaikat datang untuk menanyai si jenazah. Jadi jenazah atau roh si mati sejak itu berada dalam alam kubur (lihat catatan di bawah). Jadi kalau ada cerita bahwa roh bergentayangan, tentu bukan ajaran Islam bahkan berasal dari kepercayaan animisme.


Keterangan selain di atas tentang roh yang sahih dari Nabi saw sejak adanya kematian seseorang antara lain adalah sbb:
• Kita diminta menutupkan mata jenazah, karena keluarnya roh diikuti dengan pandangan mata. Pada saat itu dilarang berkata buruk tentang si mati, dianjurkan berdoa yang baik buat si mati karena dicatat malaikat dan akan dikabulkan
• Ketika kita merawat jenazah, kita diminta berlaku santun, hati-hati, pelan-pelan, jangan sampai kasar, apalagi sampai mematahkan tulangnya, karena si mati merasakan sakit sebagaimana ketika masih hidup
• Ketika membawa ke kubur diperintahkan melangkah cepat tetapi tetap hati-hati, jangan berlari, sehingga menggoncangkan jenazah. Tidak ada keterangan bacaan sebagaimana yang dilakukan sebagian umat Islam. Akhir-akhir ini juga ada amalan membaca Al-Fatihah sebelum jenazah berangkat berjalan ke kuburan, ini tidak ada dasarnya ( di beberapa daerah lain-lain, ada 3 kali ada yang 5 kali ada yang 7 kali, menunjukkan tidak ada perintah dari Nabi saw. Karena kalau ada perintahnya pasti dilakukan di seluruh Indonesia/dunia, hanya khilaf berapa kalinya)

Di masyarakat ada juga keyakinan bahwa menjelang Idul Fitri roh-roh berdatangan ke keluarganya, maka keluarga harus menyiapkan ini dan itu serta ziarah kubur. Keyakinan ini juga berasal dari agama lain (bukan Islam), karena tak ada satu keteranganpun dari Nabi saw mengenai hal itu. Biasanya di kota Semarang pada hari Idul Fitri setelah shalat Id berbondong-bondong ke kuburan, banyak diantaranya yang membawa bunga. Ziarah kubur dianjurkan Nabi saw, tetapi tidak ada satu keterangan harus dilakukan pada hari Idul Fitri atau menjelang puasa (bulan Ruwah) dan tidak diperlukan bunga. Yang diperlukan si mati adalah doa kita untuknya.
Karena roh adalah soal ghaib dan bagian dari keyakinan (aqidah) Islam, maka jika tidak ada keterangan dari Allah swt atau Nabi saw, kita harus mengingkarinya (dan wajib kita buang dari kalangan keluarga kita, anak cucu kita) termasuk cerita roh berdatangan kepada keluarganya pada Idul Fitri atau menjelang Romadlon.
Pengajian mengupas alam kubur akan kita lakukan pada kajian berikutnya, namun perlu juga dibaca hadits sbb yang ternyata dhoif di bawah ini, jadi tidak bisa dijadikan hujjah (dasar ibadah/keyakinan):

“Sesungguhnya semua amalanmu akan diperlihatkan kepada sanak saudara dan kerabat kalian yang telah wafat. Apabila amalan kalian baik, maka mereka akan merasa gembira, dan bila sebaliknya, mereka berkata, ‘Ya Allah, janganlah Engkau matikan mereka sehingga Engkau berikan hidayah kepada mereka seperti yang Engkau berikan kepada kami”.


Hadits di atas diriwayatkan Ahmad, namun karena ada kemajhulan yang tidak diungkapkan antara perawi Sufyan dengan Anas bin Malik, maka para ahli hadits melemahkan hadits ini (dinyatakan dhoif).
Rasulullah saw pun tidak mengetahui tentang roh, dan diperintahkan Allah swt untuk menjawab pertanyaan tentang roh, bahwa roh adalah urusan Allah, sebagaimana firman-Nya:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (Al-Isra’ [17]: 85).

Jikalau Rasulullah saw saja diminta mengatakan demikian mengenai roh, alangkah sesatnya orang awam (bukan Nabi) yang berani menyampaikan tentang roh dengan penuh keyakinan. Darimana datangnya keterangan yang diperolehnya? Mengapa tidak ada hadits (sahih) yang dikutipnya? Apakah dia lebih pandai dan benar daripada Nabi saw? Apakah dia Mengarang? Tentu, atau hanya bersumber kata ayah kata kakek dsb. Jika kita muslim kebenaran hanya dari Tuhan, atau Tuhan menyampaikan kepada Rasul saw yang dipilih-Nya. Kata manusia selainnya tidak bisa kita jadikan pegangan. Maka keyakinan yang demikian itu tak perlu kita hiraukan, karena hanya Allah swt yang mengetahui alam roh di alam kubur dan bagaimana keadaan roh keluarga kita yang telah meninggal di alam itu. Namun keyakinan akan adanya siksa kubur ada keterangannya dari Nabi saw. InsyaAllah nanti pada kesempatan lain kita bahas siksa kubur.

Makanan bagi keluarga yang berduka

Anggota keluarga yang bersedih karena ada anggota keluarganya yang meninggal diperkenankan menangis, tetapi dilarang meratap. Karena dalam keadaan sedih dan repot menyiapkan perawatan jenazah hingga pemakaman maka keluarga tersebut tidak memasak makanan dan minuman. Rasulullah saw memerintahkan keluarga dekat dan tetangga dekat mengirim makanan kepada keluarga yang berduka. Hadits Nabis saw:

Dari Abdullah bin Ja’far berkatalah dia: “Setelah datang berita kematian Ja’far (ketika ia terbunuh), Nabi saw bersabda ‘Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka sesuatu yang menyusahkan mereka’ “. (HR At-Tirmidzi, hadits hasan)

Sebagaimana telah diuraikan pada Pengajian sebelumnya, umat Islam di sebagian daerah Nusantara justru mengamalkan amalan yang bukan berasal dari agamanya yaitu misalnya keluarga yang berduka sebagian menyiapkan makanan, makanan kecil yang nanti akan disantap oleh sebagian keluarga dekat yang pulang dari pemakaman (kuburan) ada yang menamai ini bedah bumi dan juga tujuh malam berikutnya. Padahal amalan demikian bukan berasal dari agama Islam. Maka seharusnya setelah mengetahui hal itu bukan ajaran Islam, kita wajib meninggalkannya. Rasul saw memerintahkan agar keluarga yang berduka justru dikirimi makanan oleh sanak keluarga dekatnya dan tetangganya, karena sedang kalut.

Di daerah tertentu ada juga yang melakukan upacara penyembelihan hewan untuk upacara memperingati kematian. Inipun tak ada dasarnya. Hal itu terjadi juga di jaman jahiliyah. Rasulullah saw telah melarang kegiatan itu, sebagaimana sabdanya:

Dari Anas, berkatalah ia: “Rasulullah saw bersabda ‘Tidak ada penyembelihan (di kuburan) dalam Islam’.”. Abdurrazzaq (perawi) berkata: “Dahulu (pada masa jahiliyyah) orang-orang biasa menyembelih lembu atau kambing di kuburan”. (HR Abu Dawud).

Berkabung

Dalam ajaran Islam untuk lamanya berkabung adalah 3 hari bagi lelaki dan 4 bulan 10 hari bagi istri yang suaminya meninggal dunia.

“Wanita tidak boleh menanggalkan hiasan (berkabung) terhadap mayit lebih dari 3 hari kecuali terhadap suaminya, maka ia berkabung terhadapnya selama empat bulan sepuluh hari” (Muttafaq alaih)

Dikumpulkan oleh M. Masyrifan Djamil
12 Robi'ul Akhir 1432/14 Maret 2011

Catatan: manusia melintasi beberapa alam, yaitu alam ruh (sebelum Allah meniupkan ruh seseorang ke janin pada usia kehamilan 4 bulan), alam dunia (termasuk di alam kandungan), alam barzakh (alam kubur, menunggu hari kebangkitan, sungguh amat sangat lama. Bayangkan yang mati sebelum Masehi/jaman purba, sudah berapa lama. Dan masih lama atau sebentar, kita tidak tahu kapan kiamat akan terjadi, kecuali Allah swt yang mengetahui) dan alam akhirat (didahului hari kiamat dan kebangkitan, lalu pengadilan yang maha adil, ada yang mendapat balasan ke surga ada yang ke neraka sesuai amalnya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar