Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Minggu, 27 Februari 2011

PENGALAMAN AGAMA DI BANJARNEGARA YANG UNGGUL (Bagian Empat)

Hasil pembinaan umat puluhan tahun: Pengajian Rutin di Kota Banjarnegara

Rasulullah saw dan para sahabatnya berinteraksi setiap hari lima waktu dan di hampir semua kegiatan Rasul saw. Pembinaan umat yang sekarang dikenal dengan istilah pengajian merupakan kegiatan rutin pada saat interaksi Rasul saw dan para sahabatnya itu. Jadi pembinaan itu sungguh sangat intensif, berkelanjutan, sesuai masalah dan diikuti dengan kerelaan serta antusiasme yang tinggi dari para sahabatnya radliallahu ‘anhum (ra). Sehabis shalat jamaah Rasul saw selalu memberikan fatwa dan nasehatnya, sedang yang kontekstual (sesuai masalah) adalah dimana kegiatan itu berlangsung.



Semua itu sebelumnya tidak tercatat rapi, karena memang Rasul saw melarang para sahabat mencatat perkataan beliau. Jadi mereka hanya menghafalnya dan menyampaikannya secara lisan kepada sahabat lain yang tidak hadir (mouth to mouth, atau gethok tular). Namun setelah Al-Qur’an berhasil dikumpulkan dalam satu Mushaf, pencatatan hadits mulai berlangsung. Kemudian di abad pertama hadits semakin terkenal dan tersebar, dan ditemukan ribuan hadits palsu mengatas-namakan Rasul saw untuk kepentingan pribadi.

Salah satu contoh hadits palsu adalah yang kurang lebih berbunyi “Malaikat akan memintakan ampunan bagi muslim yang memakai sorban pada hari Jum’at”, ternyata dikarang oleh pedagang surban supaya laku dagangannya. Hadits lain yang di Indonesia terkenal adalah “Perselisihan diantara umatku adalah rahmat”. Hadits ini menurut ulama ahli hadits semuanya, ditemukan tidak jelas asal usulnya, tidak dikenal siapa yang meriwayatkan (perawinya). Dan jelas-jelas bertentangan dengan firman Allah swt yang meminta umat Islam bersatu (misalnya dapat dikaji di Surah Ali ‘Imron [2]: 103; Al-Anfal [8]: 46; Al-Hasyr [59]: 14).

Inilah contoh ketika Rasulullah memberi pelajaran kepada para sahabat:
Pada suatu hari Rasul menasehati kami para sahabat, dengan nasehat (pengajaran) yang menggetarkan hati kami semua dan kami mencucurkan air mata. Maka kami berkata kepada beliau: ”Ya Rasulullah, pengajaran ini seakan-akan nasehat terakhir dari seseorang yang akan pergi. Maka berilah kami nasehat”. Rasul saw berkata: ”Aku nasehati kalian, hendaklah kalian selalu bertaqwa kepada Allah, dan mendengar serta mentaati pimpinan, meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak dari Habsyi (yang berkulit hitam). Sesungguhnya siapapun yang hidup sepeninggalku kelak, maka kalian akan mendapati berbagai pertentangan. Sebaiknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang terpimpin. Maka pegangilah kuat-kuat dengan gigi gerahammu. Janganlah kalian mengada-adakan yang baru, sebab setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (Hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, dari Irbadl bin Sariyah)
. (Lihat catatan di bawah)

Di Kota Banjarnegara ada pengajian yang telah berlangsung puluhan tahun dan hingga kini tetap berjalan dengan tertib, lancar dan ruangan selalu penuh walaupun hujan lebat turun. Padahal pengajian ini berlangsung setiap hari yaitu jam 16.00 (tepat) sampai jam 17.00 (tepat) pesertanya ibu-ibu, baik tua ataupun muda, sekarang ustadznya adalah KH. Hasyim Ahfadl. Ini tentu hasil karya para ulama Banjarnegara yang tekun dan sabar serta tak putus-putusnya membina umatnya. Lokasinya di sebelah barat alun-alun Banjarnegara, berseberangan dengan Gedung Dakwah Muhammadiyah Banjarnegara.

Ustadz yang memimpin sungguh sangat disiplin membawa umatnya. Beliau datang sebelum jam 16.00 untuk sekedar berbincang-bincang dengan jamaah yang hadir sebelumnya. Lalu tepat jam 16.00 pengajian dimulai. Pola pembagian waktunya (segmentasi isi) selalu sama kecuali ada mendatangkan ustadz untuk memberi materi tambahan. Penulis merasa beruntung dan dimuliakan, karena beberapa kali pernah diminta memberikan kajian baik kesehatan maupun agama di majelis yang mulia itu. Segmentasi materi pengajian adalah sbb:
• Setelah pembukaan, membaca atau yang sudah hafal menghafalkan doa Rasulullah saw yang cukup panjang. Ini tentu bermanfaat karena siapa saja yang rutin mengikuti kelak akan hafal dan bisa mempraktekkan sendiri doanya di rumah
• Ustadz membaca al-Qur’an, lalu jamaah menirukan. Setiap jamaah selalu membawa Al-Qur’an atau Al-Qur’an dan terjemahnya.
• Ustadz mengartikan secara tarjamah maupun tafsir (ditambahi hadits yang sesuai) dengan ayat yang dibaca saat itu. Dan ditulis di papan tulis. Jamaah selain membawa Al-Qur’an juga membawa buku catatan untuk menyalin matri/ayat/hadits baru yang ditulis di papan tulis oleh ustadznya.
• Jamaah membaca sendiri semua ayat yang telah diterjemahkan terdahulu.
• Tanya jawab
• Penutup.

Subhanallah. Luar biasa. Pengajian rutin yang hebat ini berjalan telah berpuluh tahun dirintis para ulama, misalnya yang sudah wafat adalah KH. Abdul Kholiq (alm, ayahanda DR. dr. Rofiq Anwar, SpPA (K), dosen di Fak Kedokteran UNDIP dan mantan Rektor Unissula Semarang).

Hasilnya tentu luar biasa, yakni tatanan masyarakat (minimal jamaah yang ikut) untuk mengamalkan Islam dengan benar dan konsekwen, sehingga menjadi manfaat yang besar bagi keluarga, keturunan dan lingkungan masyarakatnya. Penulis belum menemukan majelis pengajian Al-Qur’an dan Hadits di kota lain yang teratur sedemikian dalam kurun waktu yang panjang dan dengan jamaah yang besar (lebih dari 200 orang), membawa Kitab Suci Al-Qur’an dan buku catatan untuk mencatat materi pengajian. Penulis menyaksikan pengajian rutin yang telah lama di beberapa kota lain, namun isinya banyak bacaan doa, asmaul husna, tahlil, yasin, sholawat, barzanji, sedang ilmu Al-Qur’an dan Hadits untuk pedoman hidup sangat minim (kadang-kadang tidak ada). Ini harus menjadi perhatian para ulama dan pimpinan organisasi massa Islam untuk mengubah paradigma pengajian, sehingga menjadi pencerahan dan pembelajaran untuk menimba ilmu pedoman hidup umat (Al-Qur’an dan Hadits). Dalam bacaan tahlil selalu dibaca ayat 2 -5 Surah Al-Baqarah, bahwa Al-Qur’an adalah pedoman bagi orang yang bertaqwa (muttaqin). Mana mungkin bisa memedomani jika muslimin tak tahu makna dan tafsirnya serta kaitannya dengan Hadits Rasulullah saw.

Majelis ini juga menghasilkan gerakan-gerakan sosial untuk jamaahnya maupun untuk masyarakat sekitarnya. Umat Islam bisa mencontoh keunggulan komunitas muslim (moslem community) Banjarnegara ini dimana saja, karena sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.

25 Robi’ul Awwal 1432 / 27 Februari 2011

Catatan:
Lihat buku Kriteria Sunnah dan Bid’ah, karya Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, penerbit PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1998, h 8. Umat Islam di Indonesia bersyukur karena mudahnya mendapat buku penting mengenai agama dan sudah ada ulama/pakar agama yang menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi tidak ada alasan untuk tidak membaca atau belajar agama dari buku. Disamping itu, masalah Sunnah dan Bid’ah ini sudah sejak awalnya dibahas dan menjadi perdebatan para ulama, tujuannya agar umat Islam tidak tersesat. Buku ini cetakan pertamanya terbit pada tahun 1935. Sungguh merugi jika sebagian umat Islam masih mengamalkan bid’ah, karena jika mau mengamalkan sunnah yang sahih saja belum bisa selengkap para sahabat Nabi. Maka seharusnya memilih dulu yang sahih kita berusaha keras mengamalkan secara kontinyu (istiqomah) bertahap sampai sempurna. Pasti amalan yang bid'ah tidak kebagian waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar