Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Sabtu, 26 Februari 2011

PENGALAMAN AGAMA DI BANJARNEGARA YANG UNGGUL (Bagian Tiga)

Askes Murid di Madukara, ibarat lebah yang bekerjasama, manis madunya untuk semua

Murid adalah anak-anak kita yang kelak akan menggantikan kita meneruskan hidup dan perjuangan untuk meraih cita-cita kita berikut cita-citanya sendiri yang mungkin lebih baik, lebih mulia dan lebih besar. Mereka harus kita rawat, kita didik, kita jaga kesehatannya, agar secara utuh jasmani dan rohaninya mampu menyongsong jamannya. Tak kurang-kurang Allah swt mengingatkan kita agar kita merawat dan mendidik anak sehingga benar-benar mampu mewujudkan kemuliaan dan kesejahteraan dunia. Diawali tentunya dengan keimanan atau men-tauhidkan-Nya, beribadah selama hidupnya, berahlaq mulia dan berguna bagi sesama.



Firman Allah swt:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(An-Nisa’ [4]: 9)

Rasulullah saw bersabda antara lain sbb:
• Hak anak atas orang tuanya adalah diberi nama yang baik, diajari renang, memanah dan tidak diberi rizki kecuali yang baik.
• Ketika anak adam meninggal dunia, putuslah amalnya, kecuali 3 perkara yaitu ilmu yang manfaat, sodaqoh jariyah dan anak solih yang mendoakannya
• Ajarilah anak-anakmu ahlaq yang baik
• Perintahlah anak-anakmu sholat ketika mencapai umur 7 tahun, dan pukullah (yang tidak membahayakan) kalau telah mencapai 10 tahun (membangkang tidak sholat), dll haditsnya yang sahih mementingkan generasi penerus yang juga menjadi mukmin dan lebih baik setelah orang tuanya tiada. (catatan : redaksi bebas dari penulis)
Nyatalah Islam menghendaki generasi khairu ummah (umat terbaik).

Sekarang ini tampak tanda dan gejalanya bahwa pendidikan tereduksi hanya jadi pengajaran, maka kita menemui berbagai kesulitan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk mewujudkan generasi pengganti yang hebat khususnya anak yang sholeh yang mendoakan ortunya memang sulit pada kondisi sekarang. Syarat penting agar hal itu terwujud adalah adanya lingkungan yang kondusif, ada kerjasama semua komponen masyarakat, ortunya perhatian penuh, rejekinya dicurahkan untuk itu, dan pemerintah juga serius fokus memfasilitasi serta sistem hukum dapat menjaga kebaikan berlangsung dan mencegah kejahatan terjadi. Lingkungan yang dimaksud cukup di lingkup kecil misal Kabupaten. Karena saat ini sulit untuk menggagas pendidikan anak sholeh dengan scope nasional mengingat sikon politik yang masih belum baik dan gelombang keras liberalisasi menerjang semua lini kehidupan kita, terutama di bidang pendidikan, media massa dan ekonomi. Faktanya perilaku seperti artis yang diadili karena melakukan freesex dan merekamnya telah melanda generasi muda kita di berbagai daerah. Namun kita tidak membahas masalah sulitnya mendidik anak agar menjadi sholeh itu di makalah ini sekarang. Kita akan menyoroti bagaimana suatu komunitas kecil berhasil dalam jangka yang panjang yakni 25 tahun memperhatikan kesehatan anak yang masih sekolah di SD, di suatu pedesaan di Kabupaten Banjarnegara, yaitu Kecamatan Madukara.

Kecamatan Madukara adalah kecamatan tergolong makmur di Kabupaten Banjarnegara, terletak berdekatan di sebelah selatannya dengan Kecamatan Sigaluh (yang merupakan pintu masuk Banjarnegara dari arah timur : Wonosobo). Kecamatan Madukara terdiri dari 20 desa, yang masih tergolong pedesaan (rural area). Namun ia mempunyai keunggulan yang patut dicontoh umat Islam se Inndonesia. Mereka telah mengamalkan Islam khususnya Surah Al-Maidah 3 yaitu tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa dalam bentuk asuransi kesehatan sederhana untuk murid SD.

Pada mulanya gerakan askes murid itu bermula dari kegiatan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) yang kurang efektif. Maka Kepala Puskesmas Madukara waktu itu (tahun 1986/1987) bersama Kakancam Depdikbud (Kepala Kantor Kecamatan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) Bapak Tauhid (alm) menggagas asuransi kesehatan (askes) murid. Caranya ialah semua ortu mengumpulkan uang Rp.100,- se Kecamatan Madukara, untuk biaya pengobatan murid kalau berobat ke Puskesmas. Saat itu memang kondisi kesehatan masyarakat saat itu masih kurang baik. Jumlah kasus malaria, diare, kholera dan scabies (gudig) masih sangat besar di masyarakat, khususnya dikalangan usia rentan yakni balita dan murid sekolah dasar lebih besar jumlahnya.

Gayung bersambut, semua guru UKS dan Kepala Sekolah setuju. Tokoh-tokoh Kepala SD saat itu yang mendukung dan menggerakkan program itu banyak yang telah wafat, misalnya Bapak Suparno (terakhir beliau menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kab Banjarnegara dari FPG). Lalu mereka menggerakkan hal itu pada pertemuan ortu murid. Alhamdulillah juga disambut positif. Uang mulai terkumpul dan mulailah program sederhana yaitu bila ada murid yang berobat ke Puskesmas gratis, lalu Puskesmas mengklaim ke Panitia yang dibentuk Kakancam di Kecamatan Madukara setiap bulan. Syukurlah dana yang digunakan masih tersisa (surlpus), lalu dimanfaatkan untuk pembinaan guru (pelatihah guru UKS) dan pelatihan dokter kecil. Gerakan kecil ini dapat menjadi kontribusi meningkatkan kinerja kesehatan masyarakat di sana. Sekarang iuran askes murid itu menjadi Rp.500,- per murid. Sampai sekarang terus berjalan dan ada saving lebih dari 20 juta rupiah. Pada saat Kepala Puskesmas Madukara menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara (2000-2006), konsep program tersebut dibahas untuk menjadi gerakan se Kabupaten. Kepala Sekolah dan Dinas Instansi lintas sektoral se Kab semua setuju gerakan itu, dan ditambah pelayanannya yaitu perawatan opname di RS. Tahap pertama adalah untuk wilayah se Ex Kawedanan yaitu Banjarnegara, maka diajukanlah SK Bupati untuk landasan kegiatan itu. SK Bupati telah ditanda-tangani oleh Bupati (Bp. Djasri) tahun 2005 (seingat penulis), ditunjukkan oleh Kabag Hukum saat itu (Wawang A Wakhyudi, SH) kepada penulis. Namun menurut Kabag Hukum, ada telepon dari pejabat tinggi kepada Bupati Banjarnegara agar program itu dipending karena alasan yang kurang jelas. Sampai sekarang program yang unggul (yang bernilai duniawi dan ukhrawi) itu yang hanya sukses di Madukara dalam rentang waktu yang lama, masih belum digulirkan untuk kemaslahatan yang lebih luas di Kabupaten Banjarnegara.

Meskipun begitu, umat Islam se Indonesia bisa mencontoh keberhasilan Madukara ini dalam askes murid ini, untuk saling menolong diantara saudaranya, dengan scope kecil ternyata bisa juga berhasil (se Kecamatan atau se organisasi misalnya Muhammadiyah, NU, SI dll). Di Yogyakarta Muhammadiyah telah berhasil menerapkan konsep dan gerakan yang sama untuk anggotanya, askes atau disebut JPKM (Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat) berbasis RS/PKU Muhammadiyah Yogya.

Bulan Romadlon adalah pintu masuk yang baik untuk berbagai program aski, karena di negeri kita, umat Islam bersuka cita dan rela berduyun-duyun ke masjid musolla untuk sholat tarawih berjamaah. Ceramah-ceramah yang berserakan kadang tumpang tindih karena dijadwal banyak dan muballighnya juga banyak dan tidak saling berkoordinasi, barangkali lebih baik untuk menggerakkan amalan ini, untuk kesejahteraan umat. Jelas sudah yang sering dialami umat, ketika sakit, hanya bingung dan tertekan, karena tidak ada biaya pengobatan di RS. Kapan kita mulai?

24 Rabi’ul Awwal 1432/26 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar