Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Kamis, 24 Februari 2011

PENGALAMAN AGAMA DI BANJARNEGARA YANG UNGGUL (Bagian Satu)

Takziyah sesuai sunnah Rasulullah saw di Kota Banjarnegara

Banjarnegara adalah kota kecil yang berada tepat di tengah Provinsi Jawa Tengah. Berada di sebelah barat Wonosobo atau sebelah timur Purbalingga. Dari Purwokerto dapat ditempuh sekitar 1,5 jam ke arah timur - utara, melewati Purbalingga atau Banyumas. Dari Semarang jaraknya sekitar 150 Km. Status daerah ini adalah Kabupaten dengan penduduk kurang dari 1 juta jiwa. Pada tahun 70an sampai 80an jumlah umat Islam di Banjarnegara adalah 99%.

Paradigma lama Pemerintah Pusat masih dipertahankan sampai sekarang yaitu hanya memperbaiki jalan negara secara intensif pada daerah yang "kaya" atau dianggap urat nadi ekonomi. Maka sejak merdeka Jalan Negara yang sering diperbaiki adalah Jalan Pantura. Lalu mulai periode Gubernur Mardiyanto, ditingkatkan jalur Jalan Raya Pantai Selatan (jalur Selatan-Selatan). Banjarnegara berada di jalur Jalan Raya Negara Tengah, membelah Jateng dari Semarang, Ambarawa, Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga atau Buntu (Banyumas), Purwokerto dan Cilacap. Karena jalur jalan raya tengah ini dipandang kurang ekonomis dibanding Pantura dan Pantai Selatan (jalur Selatan - Selatan), maka jalur Jalan Raya Tengah ini sering diabaikan. Kebijakan ini menjadikan Banjarnegara terus dikalahkan oleh Kabupaten/Kota lainnya, karena urat nadinya kecil dan sering rusak. Namun ada pengalaman agama Islam di daerah ini yang patut diketahui dan dicontoh umat Islam lain di Nusantara.



Banjarnegara mempunyai alam yang indah, mempunyai banyak dataran tinggi. Rata-rata ketinggian terendahnya adalah 200 m di atas permukaan laut (dpl), tetapi Banjarnegara juga mempunyai dataran tinggi yang sangat terkenal di Nusantara, berada pada ketinggian 2000 m dpl yaitu Kecamatan Batur yang memiliki 90% dataran tinggi Dieng. Meskipun selama ini Dieng dikenal sebagai Dieng - Wonosobo, namun sesungguhnya peran Wonosobo hanya pada gerbangnya dan sekitar 10% obyek wisatanya. Masyarakat tidak mengetahui bahwa Dieng sebagian besar dimiliki Kabupaten Banjarnegara.

Penulis pernah hidup dan dihidupi oleh Banjarnegara selama 18 tahun, dan telah dibesarkan oleh Banjarnegara, maka cintanya kepada Banjarnegara juga setara dengan kecintaannya kepada tanah tumpahnya sendiri yaitu Jepara. Atau kepada tempat tinggalnya sekarang: Semarang.

Ada beberapa pengalaman / pengamalan agama yang unggul di Banjarnegara yang perlu diketahui oleh masyarakat muslim atau rakyat Indonesia, namun kali ini yang akan kami paparkan adalah takziyah dan sholat jenazah. Apabila ada berita kematian disiarkan di masjid dan musholla, diumumkan kepada jamaah sholat di masjid atau musholla yang berdekatan (terjangkau ke rumah duka) bahwa setelah sholat berjamaah akan mendatangi rumah duka untuk menshalati jenazah, setelah jenazah selesai disucikan dimandikan. Para jamaah masjid/musholla berbondong-bondong datang ke rumah duka, termasuk muslimah yang masih memakai mukena. Ini tentu sangat membantu muslimah, karena masih berwudlu dan memakai kain mukena, dan sangat membantu si mati karena dishalatkan banyak saudaranya.

Pengamalan ini merupakan perwujudan sunnah Rasul saw, bahwa yang diperlukan oleh si mayit adalah dishalati setelah disucikan dan dikafani. Rasul saw bersabda: "Jika seorang muslim meninggal dishalati 100 orang yang tidak musyrik, maka doa yang shalat dikabulkan" (hadits sahih muttafaq alaih). Hadits sahih lain menyebutkan 40 orang dan terdiri 3 shaff.

Di tengah masyarakat yang makin materialistis, yang takziyah tanpa tahu sunnah Rasul, datang memang menghibur keluarga yang berduka, namun hanya mengandalkan datang, duduk sebentar lalu memberi amplop sumbangan lalu pulang, Banjarnegara adalah unik. Karena selain muslimin berbondong-bondong sholat jenazah di rumah duka, saat jenazah dikuburkan, mereka yang sudah menshalati jenazah datang lagi pula. Mereka tak jarang ada yang sholat jenazah lagi bersama jenazah yang dibawa ke masjid. Lalu terus mengantarkan jenazah sampai kuburan. Lengkap sempurna sudah takziyah yang berdasar sunnah ini, dan menurut Nabi saw mendapat pahala dua qiroth. Satu qirothnya sebesar gunung Uhud di Madinah. Subhanallah.

Pengalaman Banjarnegara ini juga diuraikan di Blog ini di Ruang Pedoman Hidup (Menghadapi kematian dan merawatnya).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar