Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Sabtu, 26 Februari 2011

Pedoman ketika anggota keluarga menjelang ajal dan meninggal dunia (Bag III)

Sekali lagi: boleh menangis, tetapi meratap dilarang

Jadi kesedihan dan menangis karena berduka cita tidak dilarang Rasulullah saw. Larangannya ialah pada meratap (niyahah) yaitu dengan menangis meraung-raung, mengeluarkan kata-kata keras penuh emosi, dan pada wanita jahiliyah disertai mencakar pipi dan merobek-robek pakaian. Jika jenazah diratapi justru merugikan jenazah itu, karena malah disiksa kalau ada keluarga yang meratapi.

Dari Umar bin Khattab dari Nabi saw, beliau bersabda : “Mayit itu disiksa di kuburnya dengan sebab diratapi atasnya”. (HR Muslim).

Dan pelaku maupun yang mendengar ratapan dilaknat oleh Rasulullah saw, sebagaimana sabda Rasul saw:

Dari Abu Sa’d Al-Khudry ra, berkatalah dia: “Rasulullah saw melaknat orang perempuan yang meratapi mayit dan perempuan yang sengaja duduk untuk mendengarkan orang yang meratap tersebut”. (HR Abu Dawud).



Cobalah kita simak, kegiatan berkumpul di rumah duka dan si tuan rumah memberikan jamuan makan, telah umum dilakukan masyarakat muslim di Jawa Tengah. Bahkan ada yang melakukan dengan hitungan sehari, tiga hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari, setahun (mendak) dan 1000 hari yang kita kenal dengan istilah tahlilan. Budaya ini berasal dari tradisi Jawa. Namun berdasar literatur yang ada dan ceramah seorang ustadz Abdul Aziz Mantan Pendeta Hindu dari Jawa Timur, berasal dari agama Hindu dan termaktub di dalam Kitab Veda. Oleh karenanya secara resmi upacara setelah kematian itu sebagai amalan agama Hindu. Jadi patutkah bagi umat Islam tetap bersiteguh mempertahankan amalan yang di dalamnya campur-campur antara agama doa dan dzikir agama Islam dan amalan agama lain?

Marilah kita simak hadits sahih riwayat Ahmad di bawah ini:
Dari Jarir bin Abdillah Al-Bajaliy berkata: “Kami menganggap berkumpul-kumpul di (rumah) keluarga si mayit dan membuat makanan sesudah menguburkannya, adalah termasuk meratap”. (HR Ahmad).

Imam Syafi’i dalam fatwanya juga menyatakan menolak kegiatan berkumpul di rumah duka dan memakan jamuan makanan karena sama dengan meratap (para ulama pasti telah membacanya). Bahkan masalah ini telah diputuskan juga dalam Muktamar NU. Kita sebagai umat Islam pantang mencampur adukkan amalan agama Islam dengan Hindu. Kita dilarang Allah swt mencampur-campur yang benar (haq) dan yang batil (salah), lihat Al-Baqarah 42.

Maka sekiranya peserta pengajian ini pernah melakukan yang demikian, marilah berhenti dan bertaubat, semoga Allah swt mengampuni dan juga mengampuni si mayit. Dan jika masih menemui yang demikian itu, jika berkenan, sampaikanlah kebenaran hadits di atas. Jika tidak memungkinkan, lebih baik diam namun tidak berperan-serta. Mendoakan mayit telah kita uraikan pada Bab I dan setiap saat si anak kandung bisa mendoakan kedua orang tuanya yang telah wafat atau bakda sholat fardlu.
Karena telah sangat jelas Allah swt dalam firman-Nya meminta kita taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya (lihat Al-Qur’an surah Al-Anfal 1, Al-Hasyr 7, An-Nisa’ 59 dll). Dan Allah swt menyatakan tidak pantas bagi kita apabila telah ada tuntunan Rasul saw tetapi mengambil jalan selainnya (bacalah surah Al-Ahzab 36), dan bahkan Allah bersumpah kepada Nabi saw bahwa tidaklah beriman kalau seseorang tidak mengikuti hukum dari Rasulullah saw: An-Nisa’ 65).

Pemborosan dalam tradisi upacara kematian

Jika pembaca telah mengikuti Pedoman Bagian I dan II, dapat ditarik kesimpulan, betapa agungnya ibadah atau amalan Islam bagi umat Islam yang mengalami duka yang mendalam karena kematian anggota keluarganya. Bersedih boleh, menangispu boleh, tetapi tetap terjaga hati dan anggota badannya, seimbang, tegar, bergantung kepada Tuhannya, maka diminta berdoa bagi si mayit.
Nanti dalam Bagian IV akan diuraikan bagaimana seharusnya berkabung dan takziyah. Sungguh mulia, bertakziyah secara Islam adalah lengkap yaitu datang menghibur yang berduka, berdoa khusyu’ total karena dilakukan pada saat shalat jenazah, dan mengantarkan jenazah hingga usai lalu berdoa lagi. Kesederhanaanlah yang diajarkan, piranti menuju kubur sederhana. Wewangian dianjurkan, bahkan dalam hadits boleh diulang tiga kali. Namun tidak diperlukan bunga, nisan yang mahal atau indah. Bahkan di Madinah kuburan para sahabat Rasul saw, tanda nisan cukup sebutir batu di tanah bagian atas kepala jenazah. Nyatalah bahwa Islam memanusiakan manusia.
Upacara yang tidak termasuk ajaran Islam justru menjebak pelakunya menjadi sulit dan lebih susah lagi, serta ada pemborosan yang tidak perlu. Marilah kita simak sbb:
• Keluarga yang berduka menyediakan makanan kecil dan minuman bagi saudara-saudara yang berkumpul dan berjaga malam hari bila pemakaman jenazah dilakukan besok harinya
• Di daerah santri bagi yang datang langsung takziyah sedang mayat masih ada di rumah, segera duduk dan membaca surah Yasin dan tahlil. Tentu bagi yang tidak bisa membaca Yasin menjadi kikuk
• Keluarga dekat merangkai bunga (putih dan kuning) untuk diletakkan pada keranda. Padahal ini bagian dari ajaran Hindu
• Keluarga menyediakan aqua dan permen bagi para takziyah yang menunggu penguburan. Padahal Rasul saw melarang pentakziyah makan dan minum kala takziyah masih ada mayatnya di rumah duka
• Keluarga tertentu menyebarkan uang koin ketika jenazah akan diberangkatkan. Berarti tambahan pengeluaran dana
• Membeli bunga untuk ditabur sepanjang jalan dan di kuburan. Juga tambahan biaya. Padahal Islam tidak mengajarkan demikian
• Harus menyediakan kendi diisi air untuk dikucurkan di kuburan. Padahal Islam tidak mengajarkan demikian
• Setelah selesai mengubur di beberapa daerah ada tradisi “bedah kubur” yaitu kumpul di rumah duka untuk menyantap jamuan bersama keluarga
• Malamnya diadakan tahlilan. Di beberapa daerah dengan jamuan makanan kecil atau besar. di daerah Jepara sudah diganti dengan fida’ (dibaca fidak) yaitu membaca surah Al-Ikhlas 100.000 kali dibagi para jamaah yang hadir. Maka bisa selesai 3 malam atau 5 malam atau 7 malam, tergantung banyaknya jamaah. Tidak ada lagi jamuan makanan. Hanya pada akhir malam, keluarga memberi sodaqoh berupa makanan kecil atau bahan mentah. Ini menjadi bukti bahwa upacara setelah kematian ini (tahlilan atau sejenisnya) tidak dituntunkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat, bahkan pada mulanya dengan hitungan hari-hari tersebut di atas berasal dari ajaran Hindu. Jika dikatakan (klaim) bahwa itu karya Sunan Kalijaga, dimana keabsahannya? Mengapa setiap daerah berbeda amalan dan bacaannya? (tidak baku atau tidak standard). Dan doa yang biasanya ditulis dalam buku teks tahlilan lebih ditujukan kepada keluarga yang hidup dan jamaah yang hadir. Doa untuk si mati sudah baku (lihat doa di dalam shalat jenazah), hanya itu saja. Selebihnya adalah doa untuk yang hidup.
• Ada lagi pemborosan besar-besaran pada acara sejenis yaitu Peringatan Tahunan Kematian. Biasanya keluarga si mati membuat buku yang berisi tahlil, surah yasin dll. Di tiap daerah bervariasi (ini juga bukti tidak adanya tuntunan Rasul saw). Bahkan ada yang dijlid keras memakai beludru dll. Foto almarhum dipasang dalam buku itu. Jamuannyapun tidak sederhana, banyak yang mewah. Ketika pulang selain mendapat buku, tak jarang jamaah memperoleh sodaqoh kain sarung, sajadah atau lainnya. Lucunya ada yang mencetak nama si mati di sajadah tepat di tempat sujud…. MasyaAllah….
Jadi jelaslah Islam yang asli dari Rasul saw dan para sahabatnya yang utama, selain manusiawi juga efisien atau irit bagi keluarga yang berduka. Dan janji Allah dan Rasul-Nya ialah siapa saja yang mati pada akhir kalamnya Laailaaha illallaah, masuk surga. Dan bila dishalati 100 orang atau 40 orang atau 3 shaff, oleh orang muslim yang tidak syirik, doa yang shalat jenazah dikabulkan, alias si mayit diampuni dosanya, dan dimasukkan surga-Nya. Amin.

Dikumpulkan oleh M. Masyrifan Djamil, disampaikan dalam Pengajian Rutin Bulanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar