Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Kamis, 17 Februari 2011

DOSA BESAR: PENDAHULUAN



PADA SAAT MELAKUKAN DOSA BESAR SESEORANG SEDANG TIDAK BERIMAN

Ajaran agama kita sangat menekankan agar umat menjauhi dosa besar. Kegiatan (atau amal) menjauhi dosa besar diperhitungkan oleh Allah swt dengan penghapusan dosa kecil dan pahala yang besar yakni dimuliakan dimasukkan dalam sorga-Nya.
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (Al-Qur’an surah An-Nisa’ [4]: 31)


Mengapa menjauhi dosa berpahala? Karena kaidah hukum Islam, haram adalah jika dilakukan berdosa dan apabila dihindari maka mendapat pahala. Jadi alhamdulillah karena kemurahan Allah itu setiap hari kita dapat pahala dan disucikan diri kita. Karena setiap manusia mukmin sekalipun pasti berpotensi dan nyata melakukan dosa kecil, baik sendiri maupun jika sedang berinteraksi dengan sesama. Derajat menjauhi dosa besar sama dengan amal-amal ibadah (soleh) yang utama semisal shalat (Lihat QS Asy-Syura [42]: 36-39).

Orang yang mampu menjauhi dosa besar pasti ia sedang beriman, sebagaimana sabda Rasul saw:
“Seorang yang berzina (pezina) tidak berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman” (hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim).

Jadi sebagai kesimpulan, untuk mengukur iman kita, antara lain bisa dengan bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya melakukan dosa besar?”, “Apakah saya mampu menahan diri untuk tidak berbuat dosa besar?”.

PENGAMPUNAN ALLAH AMAT LUAS

Kalau sekiranya Anda telah melakukan dosa besar, maka perlu introspeksi, dengan bertanya kepada diri sendiri: “Apakah saya sebenarnya beriman? Apakah sebenarnya saya mengerti bahwa saya mahluk yang diciptakan Allah? Apakah saya takut kepada Allah? Apakah saya malu kepada Allah? Dst….”.

Namun bagi siapapun yang telah terlanjur berbuat dosa kecil dan besar, Allah swt membuka pintu taubat-Nya (Al-Qur’an antara lain Al-Furqon [25]: 70). Rasulullah saw bersabda dalam hadits qudsi[1], untuk berita gembira bagi umatnya sbb:
“Wahai Bani Adam! Jika engkau datang kepada-Ku membawa kesalahan sepenuh bumi namun engkau menjumpai Aku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatupu, maka Aku akan mendatangi dengan ampunan sepenuh bumi pula” (HR at-Tirmidzi)

Batas akhir orang tidak diterima taubatnya adalah ketika nyawa hendak dicabut sampai ke tenggorokan (berdasar hadits sahih). Dalam istilah kedokteran, kondisi orang yang akan meninggal ini adalah kesadaran menurun (mungkin sampai antara somnolent dan coma), tetapi masih setengah sadar, nafasnya satu-satu dan tekanan darahnya mulai menurun (yang bawah bisa mencapai nol), acral (ujung jari kaki dan tangan) dingin. Kalau sudah begini ia sudah terlambat.


Maka lebih baik sekarang setiap orang mukmin berhenti saja dari berbuat dosa, baik kecil maupun besar. Lalu menggantinya atau menutupinya dengan amal sholeh (QS antara lain Al-Furqon [25]: 70 dan hadits sahih “Bertaqwalah dimana saja kamu berada. Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, maka yang buruk lenyap”, HR Bukhari dan Muslim). Subhanallah, maha suci Engkau yang Maha luas (rahmat dan ampunan-Mu) dan Maha tahu, Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-Baqarah 247, An-Nur [24]: 22).

Kita simak contoh ayat lain tentang masalah ini:
Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; Sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-A’raf [7]: 153)

Karena Allah demikian luas ampunannya, penuh kasih sayang hingga sebesar apapun dosa hambanya, akan diampuninya, asal karena kelalaian dan memohon ampunan-Nya dengan taubat nasuha serta nyawa belum sampai ke tenggorokan (nggor-nggoroh). Namun janganlah kita menggampangkan, berani berbuat dosa, toh nanti akan diampuni. Kita ingat bahwa seperti itu namanya tomat yaitu tobat lalu kumat lagi.

Dalam prinsip keimanan Islam (kalau kita kaitkan prinsip bahwa seorang yang melakukan dosa besar, pada dasarnya dia tidak beriman saat itu) kalau seseorang berubah-ubah dari iman, kafir, iman, lalu kafir lagi, dan makin bertambah kekafirannya, maka inilah ayatnya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya[2], maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada  jalan yang lurus. (An-Nisa’ [4]: 137)


[1] Hadits yang menyampaikan firman Allah swt, tetapi tidak termasuk dalam Al-Qur’an.
[2] Maksudnya: di samping kekafirannya, ia merendahkan Islam pula.


[1] Maksudnya: di samping kekafirannya, ia merendahkan Islam pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar