Sabda Rasulullah saw: ”Aku meninggalkan kalian dua hal. Jika kalian berpegang dengan keduanya, maka kalian tidak akan pernah sesat, yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya” (Hadits Riwayat Malik)
Indonesia mempunyai pemeluk Islam terbesar di dunia diantara negara-negara non Arab. Namun Umat Islam di Indonesia mempunyai keunikan tersendiri. Corak amalannya juga khas Indonesia. Untuk memahami mengapa demikian, marilah kita urai sedikit Sejarah Islam di tanah air.
CATATAN SINGKAT SEJARAH ISLAM DI INDONESIA
Masa sebelum merdeka
Agama Islam sampai ke kita di Indonesia, walaupun kita hidup di jaman yang amat jauh dari kehidupan Rasulullah saw, yakni 14 abad yl. Pemahaman & pengamalan Islam semua bersumber dari pendidikan dan pembinaan beliau berdasar wahyu Allah swt dan sabdanya, yang dibawa para sabahat, tabi’in, tabi’it tabi’in dst, sampai ke pedagang dari Gujarat lalu sampai ke pesisir Nusantara pada Abad XIV, sampai akhirnya tersebar ke seluruh pelosok Nusantara.
Seiring dengan berkembangnya Islam, Kerajaan Majapahit kemudian runtuh karena faktor internal. Keadaan ini mengubah peta Nusantara yaitu Filipina, Malaysia dan Bagian Selatan Thailand bukan lagi menjadi bagian Nusantara. Kedatangan penjajah (baik Portugis, Spanyol dan Belanda) juga mengubah peta pemeluk Islam di Nusantara, yakni karena mereka membawa missionaris, menyebabkan beberapa daerah penduduknya menjadi pemeluk agama Non Islam.
Jika diurut semua pelajaran agama Islam yang sekarang kita amalkan, benar-benar merupakan hasil dari saling mendidik turun temurun yang sumbernya berasal dari Rasulullah saw (ada sanadnya sampai Rasul). Maka kita bersyukur bahwa apa-apa yang berasal dari Rasul saw masih sama. Misalnya bagaimana menyebutkan kata Allah, tata cara shalat dan wudlu bagaimana dilakukan, bacaan Al-Qur’an dengan tajwid dan aturan waqaf (berhenti pada tengah atau akhir ayat), dll sampai sekarang sama dengan saat itu. Walaupun ada kalanya karena panjangnya jaman dan jauhnya perjalanan Islam sampai ke kita, telah mengalami beberapa perbedaan amalan, namun hanya cabangnya (furu’iyah). Juga karena adanya akulturasi dengan ajaran Hindu dan Budha, amalan Islam di beberapa daerah mengalami modifikasii. Namun jangan sampai ada akulturasi yang mengubah pokoknya yaitu TAUHID atau aqidah Islam.
Akibat adanya akulturasi itu muncullah di kalangan sebagian umat Islam takhayul, bid’ah dan khurafat sampai sekarang. Bagi kita yang paham, keadaan demikian merupakan ladang amal dan dakwah yang besar, untuk memberikan penerangan, penjelasan, tabligh kepada yang masih mengikuti amalan yang bercampur dengan alaman bukan Islam itu. Penyebab takhayul, bid’ah dan khurafat antara lain karena umat Islam yang di pelosok-pelosok kurang terjangkau oleh pelajaran atau dakwah para ustadz atau ulama. Karena ulama dan muballigh atau da’i jumlahnya terbatas, sedang umat Islam jumlahnya amat besar. Diantaranya juga karena pengajian sangat jarang dilakukan, kecuali hanya momen peringatan tertentu, baik level keluarga maupun masyarakat.
Pada tahun 1912 seorang ulama setelah pulang ke tanah air dari mondok di Mekah yaitu KH. Ahmad Dahlan ingin memurnikan Islam, membebaskan dari TBC – tachayul, bid’ah dan churofat, lalu mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Ada juga ulama lain yaitu Achmad Soorkati mendirikan PERSIS (Persatuan Islam) yang mempunyai kesamaan dengan Gerakan Muhammadiyah.
Pada tahun 1926 juga ada ulama yang satu perguruan dengan KH. Ahmad Dahlan, ingin melaksanakan ajaran Rasul saw yang dikenal sebagai Ahlus sunnah wal jama’ah yaitu KH. Hasyim Asy’ari, mendirikan Nahdlatoel Oelama (NO) yang sekarang kita kenal sebagai NU. Dua organisani inilah yang paling besar mewarnai kehidupan umat Islam Indonesia baik dalam berorganisasi maupun dalam melakukan amalan agama.
Masa Indonesia merdeka
Di tahun 50an lahir Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sebagai representasi (wakil) umat karena merupakan gabungan dari semua ormas Islam, yang memperjuangkan 7 kata yang dicoret pada perumusan Pembukaan UUD 1945 (Preambule) yaitu kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, agar kembali dimasukkan dalam Pembukaan UUD. Pola pikirnya: jika muslimin mengamalkan syariah Islam tentu menjadi kebaikan bagi bangsa Indonesia.
Namun NU kemudian keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik sendiri, menyusul SI (Syarikat Islam), untuk ikut Pemilu 1955. Sidang untuk merumuskan UUD yang baru, untuk mengubah UUD 1945 secara konstitusional berlangsung berlarut-larut antara pro dan kontra dengan usulan Masyumi itu, dan tidak ada kata sepakat. Akhirnya Masyumi tidak berhasil memasukkan usulannya, sehingga Konstituante tidak berhasil merumuskan UUD yang baru. Ini bisa dipahami karena Masyumi memang bukan mayoritas di Konstituante, dibanding gabungan PKI, PNI, NU, SI, Partai Murba, Partai Kristen dan Partai-partai kecil lainnya yang tidak setuju usul Masyumi tersebut. Kemelut ini menyebabkan TNI meminta kepada Presiden agar membubarkan Konstituante dan akhirnya Presiden membuat Dekrit Presiden 5 Juli 1959 berisi pembubaran Konstituante dan menginstruksikan kembali ke UUD 1945. Sejarah di atas hanya untuk memahami mengapa umat Islam mempelajari agamanya dan mungkin mengamalkan agamanya secara minimal. Bahkan banyak yang mengamalkan ajaran Islam permukaan atau penampilannya saja. Sedang kejahatan yang dilakukannya juga terus berlangsung, misalnya pelaku korupsi yang sekarang ini dihukum adalah umat Islam. Bisa dipahami selain karena faktor tersebut di atas, memang umat Islam adalah mayoritas penduduk Indonesia.
Masa Orde Baru
Masa ini ditandai dengan digabungkannya beberapa partai menjadi Golongan Karya (Golkar yang tidak mau disebut Parpol), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dengan kebijakan Pemerintah. Partai Islam bergabung menjadi PPP. Di DPR ada Fraksi untuk mengakomodasikan ABRI yaitu Fraksi ABRI. Fraksi ABRI bersama Golkar menjadi the ruling party. Golkar selalu unggul dalam setiap Pemilu sejak 1971 dan mampu mengendalikan Pemerintahan sampai terjadi reformasi tahun 1998.
Di daerah-daerah kantong PPP diberlakukan kebijakan tidak sama dengan di daerah yang dimenangkan Golkar. Kebijakan-kebijakan pembatasan kehidupan beragama diberlakukan dalam rangka menjaga stabilitas politik. Jargon yang dipakai adalah bila negara stabil, maka pembangunan sukses. Di masa ini mulai diberlakukan kebijakan ekonomi liberal yang juga berdampak negatif terhadap kehidupan beragama.
Di daerah-daerah kantong PPP diberlakukan kebijakan tidak sama dengan di daerah yang dimenangkan Golkar. Kebijakan-kebijakan pembatasan kehidupan beragama diberlakukan dalam rangka menjaga stabilitas politik. Jargon yang dipakai adalah bila negara stabil, maka pembangunan sukses. Di masa ini mulai diberlakukan kebijakan ekonomi liberal yang juga berdampak negatif terhadap kehidupan beragama.
Akibat kebijakan di bidang pendidikan sejak Orde Lama sampai Orde Baru, menyebabkan sekolah Madrasah Diniyah (dulu sekolah sore untuk belajar agama Islam, sehingga murid sekolah umum bisa mengikuti) berguguran. Mungkin sekarang sudah amat langka jenis sekolah ini kecuali di kota-kota tertentu seperti Pekalongan, Jepara atau Kudus. Radio PTDI (Pendidikan Tinggi Dakwah Islam) masih bertahan. Namun pelajaran agama di sekolah mulai kurang efektif, selain karena gurunya kurang memadai, juga karena hanya 2 jam per minggu. Fenomena runtuhnya warna keagamaan ini diperparah dengan kebijakan Orde Baru yang bernuansa paranoid terhadap gerakan mendirikan NII (Negara Islam Indonesia), yakni membatasi kegiatan agama Islam dalam berbagai aspeknya.
Perubahan kehidupan agama itu paling kentara bisa dilihat di TVRI, yaitu TVRI mengurangi jam tayang santapan rokhani Islam setiap malam Jum’at malah menggantinya dengan ceramah Aliran Kepercayaan[1]. Pengajian umum dibatasi dengan kewajiban lapor bagi Panitia Penyelenggara kepada yang berwajib tentang waktu, dan (ini yang penting): siapa ulama yang berdakwah. Telah kita alami, pencekalan ulama tertentu, terutama yang berasal dari Partai selain Golkar untuk ceramah di daerah tertentu. Kebebasan kampus dibatasi, khususnya kegiatan ekstra kampus pada Organisasi Mahasiswa Islam. Pemakaian jilbab dilarang di beberapa tempat dan kantor, Pegawai negeri tidak boleh memanjangkan jenggot dan pembatasan-pembatan lainnya. Jilbab sebagaimana pakaian muslimah sekarang belum jamak, namun ada tokoh nasional putri Presiden yang memperkenalkan pakaian berkudung dengan rambut (poni) terbuka ke semua daerah dan event baik melalui Golkar ataupun ketika beliau menjadi Menteri (mbak Tutut). Sedangkan di Malaysia sejak penulis pulang sekolah S2 dari Manila (1990) telah terlihat dimana-mana perempuan muslimah memakai jilbab yang sekarang jamak di negeri kita[2].
Dalam pidato pejabat stereotip menyampaikan bagaimana menghadapi ancaman persatuan yaitu kewaspadaan terhadap kelompok ekstrim kiri (ex PKI) dan ekstrim kanan (termasuk kelompok ekstrim agama termasuk Islam tentunya). Ketakutan dan kebingungan tentu mencekam kalangan agama Islam khususnya yang bukan kelompok Pemerintah dan Golkar atau ABRI (Angkatan Bersenjata RI). Kita saksikan akhirnya banyak ulama yang bergabung ke Golkar agar misi dakwahnya tetap berjalan walaupun dengan pembatasan tertentu. Ulama ada yang berasal dari ABRI memberikan ceramah agama rutin di Radio Kayumanis Jakarta. Namun pernah pula terjadi teror terhadap ulama dan ustadz pada masa itu, yaitu di tengah malam atau ketika ustadz/ulama itu keluar rumah untuk bertahajud ke masjid dicegat dan dihajar oleh orang-orang misterius (disebut ninja karena memakai pakaian mirip ninja). Diantara ulama/ustadz ada yang mati syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.
Kebijakan ekonomi yang dianut juga berakibat fatal bagi Radio PTDI (gelombang SW). Selain karena faktor internal, faktor eksternal yaitu liberalisasi ekonomi termasuk untuk bisnis media elektronik (radio FM bebas bermunculan), menyebabkan PTDI lenyap satu per satu sampai hilang seluruhnya. TV swasta bermunculan mulai RCTI dan SCTV yang mengusung pola hidup baru dan hidupnya tergantung iklan TV, maka siaran agama yang awalnya menjadi primadona, kini beralih karena arus ”rating”. Jika rating rendah, acara TV bisa digusur atau digeser ke jam tayang bukan "prime time". Dulu kalau ada event peringatan keagamaan Islam semua stasiun TV ikut membentuk nuansa Islam dengan berpakaian muslim/muslimah, sekarang tidak ada keharusan lagi karena hidup mereka bukan tergantung kepada umat Islam. Umat Islam yang makin tidak peduli Islam, tetap ”ngefans” TV tertentu karena tayangan sinetron, film (terutama barat) atau musik. Namun TV swasta masih mengumandangkan adzan maghrib dan subuh.
Koran ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia) yaitu REPUBLIKA masih mewarnai blantika media massa cetak di berbagai wilayah Indonesia, namun kelak di masa Reformasi terkalahkan oleh pengusaha., saham mayoritasnya dibeli, sehingga ICMI hanya menguasai kurang dari 10% saham Republika. Keterbukaan ekonomi (liberalisasi) juga dapat kita tengarai dengan munculnya pola Barat dalam hiburan ,plus kecerdasan pelaku bisnis lokal. Di Barat ada Pub, Night club, dll, maka kecerdasan lokal menghasilkan Pub dan Nignt Club, plus tambahan Panti Pijat Tradisional,yang ditengarai sebagai bordil.
Koran ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia) yaitu REPUBLIKA masih mewarnai blantika media massa cetak di berbagai wilayah Indonesia, namun kelak di masa Reformasi terkalahkan oleh pengusaha., saham mayoritasnya dibeli, sehingga ICMI hanya menguasai kurang dari 10% saham Republika. Keterbukaan ekonomi (liberalisasi) juga dapat kita tengarai dengan munculnya pola Barat dalam hiburan ,plus kecerdasan pelaku bisnis lokal. Di Barat ada Pub, Night club, dll, maka kecerdasan lokal menghasilkan Pub dan Nignt Club, plus tambahan Panti Pijat Tradisional,yang ditengarai sebagai bordil.
Kebijakan dan aksi-aksi masa Orde Lama dan Orde Baru itu dahsyat akibatnya, yakni umat semakin minim menerima pelajaran agama Islam bahkan sampai tidak tahu agama Islam yang benar, baik karena ingin dianggap moderat (Islam Nasional) atau karena takut dikatakan ekstrim kanan. Jika sekarang ini umat Islam kurang paham agamanya dan aliran sesat bermunculan, laku keras, serta penyimpangan agama terjadi berupa takhayul, bid’ah dan khurafat bahkan syirik, atau kejahatan (baik kerah putih atau biru) makin merajalela dan pelakunya juga muslim, adalah tidak bisa dilepaskan dari kebijakan dan sejarah masa sebelumnya itu.
Masa reformasi
Sekarang keterbukaan telah terjadi, umat belajar agama semakin baik. Jumlah jamaah haji meningkat sehingga di masa ini mendaftar haji harus menunggu dua sampai lima tahun baru bisa berangkat. Sekolah Madrasah Diniyah nyaris tidak ada, ganti bermunculan sekolah perpaduan umum dan agama dengan lama belajar ditambah (sampai jam 16.00). Di berbagai kota berdiri Sekolah Al-Azhar cabang (franchise?) Jakarta, juga berdiri sekolah-sekolah yang senada (di Semarang Isriati, Nashima, Al-Azhar, dll). Parpol yaitu PKS mendorong berdirinya SDIT yang kelak mungkin jadi SMPIT dst. Selain sekolah-sekolah milik Muhammadiyah dan NU sekolah model baru perpaduan ilmu dan agama tersebut tumbuh. TV dan radio juga makin terbiasa berkolaborasi dengan tokoh agama Islam untuk berdakwah. Di Indosiar ada Mama Dedeh, di TPI ada ustadz Danu, di TV One ada Kyai Sejuta Umat dll. Banyak acara taushiyah (ceramah agama) di TV, meskipun harus dipotong-potong oleh iklan[3]. Di masa ini ada aktris yaitu mantan Peragawati dan Bintang film memperkenalkan jilbab ala Indonesia, dimana semua tertutup auratnya, namun tonjolan tubuh wanita dipertahankan ditampilkan. Leher wanita memakai kerudung sehingga tampak tertekan. Namun di pihak lain lahirlah keberanian untuk memakai jilbab Arab Saudi yang menutup seluruh tubuh, termasuk muka bercadar.
Di masa ini Koran Republika bukan lagi menjadi corong ICMI karena saham mayoritasnya telah jatuh ke tangan Mahaka Grup. Meskipun masih membawa misi dakwah, namun intensitasnya tentu telah berubah. TV swasta juga go public. Mbak Tutut (putri Presiden yang memperkenalkan kerudung dengan poni terbuka) kehilangan TV TPI. Ada raksasa baru bernama MNC. Mulailah kebebasan lebih jauh menembus kehidupan agama. Kalau dulu semua stasiun TV adzan maghrib dan subuh, sekarang RCTI dan SCTV tidak perlu lagi. Pakaian penyiar juga bebas sebebas bebasnya meskipun mereka beragama Islam. (mengapa Malaysia tidak? Jadi kita harus paham sekali lagi, kalau Malaysia duluan makmur. Karena mayoritas muslim tentu Tuhan Allah akan menyayangi muslim yang mengamalkan agamanya). Pakaian umum sekarang ”tengtop” atau seperti artis kalau ada Festival Film Holywood. Sinetron juga sudah meracuni muslimin muda. Kaidah Islam ”jangan dekati zina”, malah menjadi biasa di Sinetron. Lagunyapun saru dan kasar, mari kita simak lagunya Inul Cucak rowo.
Di masa ini banyak remaja mengunggah ke internet filmnya sendiri sedang berbuat zina. Survey di beberapa daerah menunjukkan bahwa 45 - 59% remaja siswa SLA telah melakukan hubungan layaknya suami istri. Di masa ini pula ada kasus Ariel Peterpan yang menghebohkan. Dia tidak mengaku bahwa film porno itu dirinya (dia muslim). Dia hanya mengatakan bahwa dalam film itu mirip dirinya. Pasangannya Cut Tari justru mengakui bahwa itu memang film dirinya. Di era ini banyak tokoh pejabat muslim masuk penjara karena korupsi, baik dari Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, dll. Bahkan besan Presiden SBY juga masuk bui.
Kalau ada pertanyaan: ”Mengapa negeri yang mayoritas berpenduduk muslim, terjadi fenomena itu semua?”. Penulis memberanikan diri menjawab: ”Krisis iman”. Bila seorang beriman dengan baik, tentu tidak berani durhaka dengan melakukan kejahatan, karena takut kepada Allah swt dan azabnya. Pertanyaan berikut pasti muncul: ”Mengapa ada krisis iman?”.
Baiklah karena masih sama-sama kita alami, silakan pembaca menyimak apa yang terjadi dengan era ini dan menjawab pertanyaan tadi.
Jika umat Islam menerima informasi yang lengkap tentang Islam, pembelajaran, pendidikan agama Islam dengan tuntas disertai sumbernya yaitu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tentu akulturasi dengan berbagai amalan yang tidak ada sumbernya dari Rasul saw pasti dimurnikan, dan kejahatan akan berkurang atau bisa menjadi minimal karena pemeluknya takut kepada Allah swt. Kebaikan negeri ini akan bertambah pesat karena Islam mengajarkan berbuat baik, shodaqoh, taqwa dimana saja berada dan berlomba dalam kebaikan.
KEMBALIKAN ISLAM SESUAI SUNNAHNYA
Kita menyadari bahwa ibarat sungai, makin jauh dari sumbernya, tentu airnya bukan lagi jernih tetapi bercampur dengan tanah dan kotoran-kotoran lain yang dibuang ke sungai. Demikian juga dengan Islam yang sudah 14 Abad jaraknya dari Rasulullah saw. Tugas kita sekarang adalah mengembalikan kepada Pokok Ajaran Islam yang benar sesuai ajaran Rasul saw berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits (sunnah), karena beberapa saat sebelum Rasul saw wafat, telah mendapat wahyu terakhir yang menyatakan bahwa agama Islam telah sempurna:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS Al-Maidah [5]: 3)
Diperjelas dengan sabda Rasulullah saw sbb. :
Dari Ummul Mukminin, Ummu Abdillah, Aisyah ra berkata: Rasulullah saw berkata : “Barangsiapa membuat hal-hal yang baru dalam urusan kami ini, yang sebenarnya bukan darinya, maka ia tertolak”. (HR Bukhary dan Muslim). Adapun dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa melaksanakan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”.
Dan sabdanya pula:
”Sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. Sejahat-jahat pekerjaan adalah pekerjaan yang dibuat-buat (bid’ah). Tiap-tiap bid’ah hukumnya sesat, dan setiap yang sesat tempatnya dalam neraka”.
Jadi strategi ibadah kita agar benar dan selamat adalah yang bersumber dari Allah swt dan Rasul-Nya saw. Bukan harus mengikuti mayoritas penganut amalan tertentu. Kebenaran akan tetap benar meskipun pelakunya sendirian. Mayoritas bukan jaminan kebenaran. Jika memang salah, walaupun diikuti orang banyak, tetaplah kesalahan. Meskipun sendiri dalam menempuh kebenaran, tetaplah teguh, berpeganglah kepada buhul tali Allah (Al-Baqarah 256 - 257). Itulah harga yang harus kita tanggung untuk memperoleh ridlo Allah swt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar