CINTA KEPADA ALLAH LEBIH DARI KEPADA SELAIN-NYA
Anak muda dulu dan sekarang banyak yang tersesat. Atas nama cinta (kepada pacar) mereka mengalahkan cintanya kepada Allah swt, Rasulullah saw dan ortunya. Bahkan tidak sedikit yang murtad (keluar dari agama Islam) dengan berbagai jalan, misalnya menikah dengan lelaki non muslim, atau bahkan pindah agama. Sungguh sayang, iman dan agama diganti dengan sesuatu yang murah harganya, kehidupan dunia.
Boleh saja manusia mencintai sesamanya, mencintai orang tuanya, mencintai saudaranya, namun semuanya itu tidak ada artinya apa-apa bagi seorang mukmin, karena semua cintanya kepada sesama, kalah terhadap cintanya kepada Allah swt:
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Al-Baqarah [2]: 221).
Ingatlah wahai umat, wahai generasi muda, kita ini telah digaransi dengan surga oleh Allah karena kita beragama Islam, iman dan bertaqwa kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah 111).
Rasulullah saw bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian, sampai ia mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain” (HR Ahmad)
Sedangkan menurut Rasul saw seseorang merasakan manisnya iman bila sbb:
Tiga jenis manusia yang memperoleh manisnya iman: (1). Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada yang lain; (2). Mencintai seseorang tidak lain hanya karena Allah’ (3). Benci kepada kekufuran sebagaimana kebenciannya jika ia dimasukkan neraka (HR Bukhari no. 16, 21; Muslim no. 22)
CARA MENCINTAI ALLAH SWT IALAH TAAT KEPADA RASUL SAW
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Ali ‘Imron [3]: 31)
Mencintai Allah swt dan RasulNya saw adalah segala-segalanya. Jadi ada totalitas. Para pemuda/remaja hati-hati dengan bacaan dan pola pikir Barat (materialisme) yang menyesatkan, yaitu bila mencintai seseorang, harus rela mengorbankan apa saja miliknya, termasuk kehormatan, agama, orang tua dll untuk membuktikan cintanya. Banyak generasi muda Islam tergelincir dengan pola pikir sesat ini, misalnya rela pindah agama (murtad – Na’udzu billahi min dzalika). Itu upaya penyesatan dan usaha pemurtadan dengan bungkus cinta.
Kita umat Islam menempatkan kecintaan tertinggi adalah kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Kecintaan ini sebagai ukuran kesempurnaan iman seseorang mukmin. Sabda Rasul saw.
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lain” (HR Ahmad, dalam musnadnya).
TAAT KEPADA RASUL SAW AKAN NIKMAT KALAU MENCINTAINYA
Demikian menakjubkannya iman. Kita tidak hidup sezaman dengan Rasul saw, namun kita mengimaninya, mencintainya melebihi yang lainnya. Sabdanya:
“Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian, sampai ia mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain” (HR Ahmad)
Dan sabdanya pula:
“Tidak sempurna iman seseorang sampai aku dicintai melebihi cintanya kepada kedua orang tuanya, anaknya serta manusia seluruhnya” (Alhadits Riwayat –HR – Imam Bukhari).
Umar bin Khattab ra pernah ditanya oleh Rasul saw, ia menjawab demikian. Namun Rasul saw belum menerimanya, lalu bertanya: “Apakah lebih kau cintai daripada dirimu sendiri?”. Jawab Umar ra: “Benar ya Rasul, saya lebih mencintai Rasul dari pada diri saya sendiri”. Rasul saw menegaskan: “Itulah yang benar”. (Hadits muttafaq alaih).
CINTA BERIKUT IALAH CINTA DAN TAAT ORTU
Firman Allah ‘azza wa jalla:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”.(Al-Isra [17]: 23)
Sabda Rasulullah saw, ketika ditanya sahabat, apakah amalan yang utama? Jawab beliau: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Lalu apalagi ya Rasul”, tanya sahabat lagi. Jawab beliau: “Berbakti kepada ortu”. “Lalu apalagi ya Rasul”, tanya sahabat lagi. Jawab beliau: “Jihad di jalan Allah”. Hadits sahih, muttafaq alaih (Bukhari dan Muslim).
Mari kita perhatikan hadits di bawah ini:
A’isyah bertanya kepada Rasul Allah: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita?”. “Suaminya”, jawab Rasul saw. “Siapa pula orang yang paling besar haknya atas seorang lelaki?”, tanya A’isyah lagi. “Ibunya”, jawab Rasul saw. (HR Al-Bazar dan Al-Hakim)
Dari hadits ini dapat kita pahami bahwa seorang perempuan kalau sudah bersuami, ketaatan (tentu saja juga cintanya) yang utama adalah kepada suami. Sedangkan bagi lelaki muslim, tetap saja ortunya berhak atas dirinya, dalam hal ini ibunya. Selain itu perlu diingat ada pula sebuah hadits yang menyatakan bahwa ridlo Allah tergantung kepada ridlo kedua orang tua. Jadi bagi seorang mukmin dan muslim cinta yang nomor satu adalah kepada Allah swt. Kedua kepada Nabi-Nya, dan ketiga kepada ortunya. Baru kepada yang lainnya.
Namun cinta seorang mukmin kepada Allah swt, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya dapat terhalang atau dikalahkan karena 8 hal. Jika demikian halnya, jangan berharap rahmat Allah yang khusus kepada orang mukmin, bahkan kita mendapat ancaman akan mendapat murka atau ujian-Nya. Apa saja 8 hal itu? Kita susun ke bawah agar mudah untuk diingat:
1. Bapak (ayah)
2. Anak
3. Saudara
4. Istri/suami
5. Kaum kerabat (puak/suku)
6. Harta benda
7. Perniagaan yang ditakutkan ruginya
8. Rumah yang disukai, sebagaimana firman Allah swt:
“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (QS At Taubah [9]: 24)
Mengapa ortu justru jadi halangan? Ya jika ortu bersifat otoriter menyuruh sang anak untuk menentang keimanan dan amal solih atau berbuat munkar. Banyak contohnya, misal karena ortu sangat kental sebagai orang Jawa, tak jarang orang Jawa masih tercampur animisme (atau syirik), ketakutan kepada hari pasaran, lebih takut dibanding kepasrahan dan ketakutannya kepada Allah. Karena itu dia takut berbuat pada hari itu, misal tidak berani mengadakan upacara perkawinan, keluar dari RS (padahal sudah sembuh dan sudah disuruh dokter) dll. Kalau demikian, maka anak wajib tidak taat kepada ortu, bahkan harus dakwah, mengajak ortu ke jalan yang benar yaitu tauhid, iman hanya kepada Allah dan pasrah atas keselamaatannya.
Jadi artinya, ortupun jika menjadi penghalang iman, cinta dan taatmu kepada Allah dan Rasul-Nya, boleh kamu abaikan. Namun sesuai ajaran Islam, kamu tetap harus sopan dan hormat kepadanya. Nah apalagi kalau sekedar pacar, ketemu saja baru berapa hari, minggu atau bulan, mengapa harus menghalangimu untuk iman, cinta dan taat kepada Allah swt, Rasul-Nya dan ortumu? Ortumu lebih lama dan lebih berjasa saja boleh diabaikan, apalagi pacar atau suami atau istri, apalagi kawan. Kalau nanti sudah di kubur, dan akhirat hanya ada kamu dan Tuhanmu berhadapan langsung. Hanya ketika di kubur Allah diwakili malaikatnya.
PENGUNCI
Bayangkan kalau seandainya seorang wanita dinikah oleh seorang yang bukan beragama Islam (non muslim, bisa musyrik atau kafir), maka menurut ketentuan Islam dia telah murtad, keluar dari agama Islam. Hubungan antara anak – ortu (yang muslim) putus, baik di dunia ataupun di akhirat. Secara agama, anak tidak berhak lagi atas warisan. Secara akhirat, doa ortu tidak akan sampai kepada anak dan sebaliknya. Dengan kata lain: putus! Sebagaimana firman-Nya:
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam”. (At-Taubah [9]: 113)
Maka beruntunglah orang mukmin yang mau mentaati Allah swt, lebih mencintai Allah swt dan Rasul-Nya saw, sehingga terhindar dari berbuat melanggar larangannya (misalnya lebih mencintai pacarnya atau pasangannya), sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (Al-Baqarah [2]: 221)
KESIMPULAN: CINTA KEPADA PACAR TIDAK BISA MENGALAHKAN CINTA KITA KEPADA ALLAH, RASUL-NYA DAN ORTU
Kalau ada pacar (calon suami atau istri) mempengaruhimu agar cintamu hanya kepadanya, sampai harus mengganti agamamu, durhaka kepada ortumu, sesungguhnya dia tidak cinta kepadamu, tetapi hanya memanfaatkanmu atau ada tujuan tersembunyi yang harus kamu cermati, supaya dengan lega hati dan rela hati kamu meninggalkannya. Cintanya hanya palsu dan batal. Kembalilah menguatkan diri, cinta kepada Allah Tuhanmu, kepada Rasulullah saw dan kepada ortumu, lebih utama dan selamat dunia akhirat, daripada bualannya itu.
Kamu ingat, berapa lama hidup dan dikatakan bahagia dengan dia? Paling2 40 tahun sampai 60 tahun lagi. Tetapi setelah itu kamu akan mati, lalu berabad-abad menunggu di kuburmu, mungkin juga telah menerima siksa kalau kamu keluar dari Islam hanya gara-gara pacar. Na’udzu billah. Lalu kamu menunggu nanti di akhirat, jahannam menantimu.
Jika kamu tetap teguh iman, ingatlah janji Allah adalah pasti, hidupmu, imanmu, amalmu telah dibeli Allah swt dengan surga….. kekal selama-lamanya, tak terhingga berapa abad…. Alangkah nimatnya.
16 Robi’ul Awal 1432/19 Feb 2011
diedit ulang 22 Rabi'ul Awal 1432/ 25 Februari 2011
Disajikan sedikit ilmu dan pengalaman bidang kesehatan dan agama Islam kepada siapa saja yang berusaha sehat dan selamat
Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka
Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.
Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar