Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Selasa, 28 Desember 2010

PEMAKNAAN HIJRAH: Belajar Al-Qur’an dan Hadits sedikit demi sedikit dan mengamalkannya sepanjang hayat


Muslimin rahimakumullah
Hamdalah, sholawat salam kepada Nabi Muhammad saw keluarga dan para sahabat. Ajakan taqwallah.

Muslimin rahimakumullah
Pernahkah terlintas dalam benak kita bagaimana beratnya perjuangan Rasul saw dan sahabat untuk menegakkan Islam dan menyebarkannya? Kalau sekiranya dimasa itu Nabi Muhammad saw dan para sahabat tidak tabah, tidak kuat, dan hanya mencari selamat, lalu menerima ajakan kaum Quraisy untuk berdamai mengakui berhala-berhala (dewa-dewa) mereka, dapat diperkirakan, kitapun sekarang tidak dapat menerima penyebaran dan pencerahan agama Islam.

Marilah kita simak kisah sejarah ini:
Kaum Muslimin di luar budak-budak itu, dipukuli dan dihina dengan berbagai cara. Muhammad juga tidak terkecuali mengalami gangguan-gangguan - meskipun sudah dilindungi oleh Banu Hasyim dan Banu al-Muttalib. Umm Jamil, isteri Abu Jahl, melemparkan najis ke depan rumahnya. 
Hampir saja ada kompromi dengan Quraisy agar Rasul saw dan pengikutnya mengakui kebaikan dewa-dewa (berhala) mereka sebagai perantara antara Allah dan manusia. Namun Allah menguatkan Rasul saw dengan wahyu-Nya (Qur’an al-Isra’ [17]:73-75), maka Rasul saw, keluarga dan para sahabat tetap berpegang teguh kepada ajaran Allah, tidak mencampur-adukkan dengan kemauan orang Quraisy.
Karena tabahnya Rasul saw dan para sahabat, dan tetap berpegang teguh pada ajaran Allah, tidak mau kompromi dengan kaum kafir dan munafik, Allah swt menolong dengan berbagai hal, yaitu antara lain penerimaan Raja Najasyi bagi yang hijrah ke Abisinia, Islamnya Hamzah paman Nabi dan Islamnya Umar bin Khottob.  Ini cuplikan kisah Islamnya Umar:
Umar masuk Islam dengan semangat yang sama seperti ketika ia menentang agama  Islam. Ia tidak mau masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Malah terang-terangan ia mengumumkan di depan orang banyak dan untuk itu ia bersedia melawan mereka (yang memusuhi Islam dan kaum muslimin). Ia ingin semua orang yang masuk Islam tidak sembunyi-sembunyi, tetapi bisa beribadah secara leluasa tanpa gangguan siapapun.

Setelah masuk Islam, Umar ra belajar keras bagaimana ajaran Allah swt dan Rasul-Nya. Selalu mengikuti majlis ta'lim Rasul saw, banyak menangis karena ingat dosa-dosanya terutama yang paling besar yakni menyekutukan Allah dan membunuh dengan tangannya sendiri anak kandungnya yang perempuan dengan menguburnya hidup-hidup di padang pasir. Ia banyak sodaqoh sehingga lebih dari separo hartanya disodaqohkan untuk mendukung Rasulullah saw. Ia menjadi khalifah bukan bertambah kekayaannya, tetapi menjadi semakin miskin, tetapi rakyatnya sejahtera. Doanya terkabul yakni cicitnya  (cucu  dari putranya, Ashim bin Umar) menjadi khalifah dengan penampilan, sikap dan kesalehan yang sama dengan dirinya,  yakni Khalifah Umar bin Abdul 'Aziz. Karena kehebatannya dalam agama, dalam pemerintahan dan dalam menyejahterakan rakyatnya, khalifah ini dikenang sepanjang masa lebih dari Khalifah lain setelah Khulafaur Rasyidin, bahkan karena amalannya yang sama dengan kakek buyutnya, ia dianggap sebagai bagian dari Khulafaur Rasyidin. Jadi Umar ra hijrah dari cara lama ke cara baru dalam Islam secara total selain  benar-benar hijrah dari Makkah ke Madinah bersama Rasul saw dan muslimin lainnya.

Muslimin rahimakumullah
Demikianlah keteguhan Nabi dan umat Islam yang awal, tidak goyah oleh rayuan dan ancaman serta gangguan. Nyawa sekalipun resikonya semuanya mereka tanggung, karena yakin janji Allah.
Sejak dulu hingga sekarangpun ada usaha-usaha mencampur-campurkan agama kita dengan tradisi dan agama lain. Contohnya : sedekah bumi dan ruwatan dilakukan oleh umat Islam, padahal sebenarnya itu bukan dari ajaran Islam; upacara setelah kematian 1, 3, 7, 40 hari, 100 hari, mendak 1, 2, nyewu dll walaupun di dalamnya dibaca dzikir Islam (yasinan dan tahlilan) ternyata adalah upacara agama lain , bukan Islam.  Upacara itu juga bukan pula budaya Jawa, tetapi budaya Jawa yang berasal dari suatu agama tertentu. Faktanya ada dalam kitab-kitab agama itu. Bukti lain kalau upacara-upacara itu bukan dari Islam ialah Rasul saw dan para sahabat serta 4 Imam Madzhab, tidak satupun mengajarkan dan melakukan upacara itu.  Kalau memang benar amalan itu dari Rasul saw, tentu ada haditsnya, ada diriwayatkan sejarahnya pada sejarah (tarikh) Rasul saw yang sahih. 
Jadi kalau memang dulu tidak dilakukan, sedang sekarang dilakukan, apakah sekiranya Rasul saw, para sahabat, para Imam Madzhab itu lupa atau khilaf tidak mengajarkan kepada umat? ataukah beliau-beliau lebih bodoh dari ulama sekarang? Tentu juga hal itu mustahil.
Ada yang mengklaim bahwa upacara-upacara yang ada di Jawa itu  yang sekarang dipertahankan sebagian umat Islam itu diajarkan oleh Sunan Kalijaga. Lalu mana bukti otentiknya? Tak ada tulisan atau  kitabnya. Bahkan amalannya pun kalau kita simak, berbeda-beda di tiap daerah.  Kalau jelas dari Nabi, tentu sama seperti sholat, bedanya bukan pada yang pokok. 
Jangan-jangan itu upaya oknum non Islam mengajarkan ritual demikian, dengan dalih diajari oleh Sunan Kalijaga lalu secara perlahan diterima umat Islam, dan diyakini sebagai ibadah. Saya yakin, Sunan-sunan, para Wali yang sudah merelakan jiwa dan raganya menemui resiko besar, bahkan  sampai-sampai hilangnya nyawa ketika beliau masuk Islam, belajar Islam dan menyebarkannya. Rasanya tidak mungkin beliau-beliau mengajarkan amalan agama selain dari Islam ke dalam amalan Islam. Karena tidak mungkin beliau beliau menentang fiirman Allah swt dan Rasul-Nya. Mustahil.
Seorang mantan Pendeta Hindu dari Jatim sudah menulis buku dan berdakwah keliling, mengingatkan bahwa umat Islam tidak perlu lagi melakukan ibadah agama selain Islam, jika kita benar-benar Islam dan ingin diridloi Allah swt. CD-nya sudah beredar luas, hadirin sidang Jum'ah bisa menelaahnya sendiri.
Mengapa berpuluh-puluh tahun kita melakukan kegiatan yang dikira ibadah, namun tidak jelas pedomannya, tidak ada dalilnya, kita tidak mempersoalkannya? Kalau sudah jelas mana yang ibadah Islam, mana yang bukan dari Islam, marilah kita tinggalkan amalan yang bukan Islam (Hindu misalnya). Kita laksanakan ajaran Islam yang murni, jangan dicampur-campur dengan yang batil , apalagi yang berasal dari agama lain.  Jelas-jelas Allah melarang mencampur adukkan yang haq (Islam) dengan yang batil (ibadah agama lain).  Dan janganlah menutupi kebenaran. Simaklah Al-Qur'an surah Al-Baqarah 42.

Muslimin rahimakumullah
Takutlah atas ancaman Allah yang dapat kita simak dalam firman-Nya sbb:

 “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Al-Ahzab [33]: 36)

Jadi kalau kita sudah syahadat, tak ada pilihan lain, wajib mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya (pedoman hidup, tata cara ibadah, hukum atau apapun yang ditetapkan Islam).

Sebaliknya bahkan ada sebagian dari muslimin yang justru mempersoalkan orang muslim yang tidak mau ikut melakukan ritual yang mencampur adukkan antara tatacara ibadah Islam dengan ajaran agama lain itu. Lalu mereka menuduh orang yang tidak ikut amalan campur-campur itu sebagai tidak taat beragama dan melanggar tradisi. Kok malah bisa demikian? Padahal tampaknya orang yang tetap "ngeyel" bertahan  untuk melakukan amalan Islam dicampur amalan agama lain itusebenarnya belum mengetahui ilmunya. Bila mereka mendapat penjelasan yang benar dan gamblang serta rinci, pasti menghentikan perbuatan mencampur adukkan amalan ibadah agamanya dengan agama lain.

Muslimin rahimakumullah
Tekanan-tekanan yang dilakukan kelompok tertentu terhadap umat Islam yang ingin mengamalkan Islam dengan murni itu mirip-mirip dengan tekanan kaum Quraisy agar dewa-dewa atau berhala mereka diakui Muslimin dan dijadikan perantara antara Allah dan manusia. Usaha ini mirip dengan menjadikan kegiatan tertentu yang sebenarnya campuran Islam dan agama lain dalam rangka dekat dengan Allah. Padahal dosa besar yang tak terampunkan adalah menyekutukan Allah swt dengan yang lain. dan mencampur adukkan yang haq dan yang batil adalah dosa besar.
Sekarang kita telah tahu bahwa peringatan sedekah bumi dan ruwatan serta berbagai selametan atau peringatan kematian mengirim doa kepada ruh, adalah bukan amalan Islam karena berasal dari upacara agama lain.
Dengan memperingati Hijrah Rasul saw dan umat Islam, sekarang kita harus memaknai peringatan itu dengan berusaha belajar Islam yang benar, yang murni, yang asli dari Rasul dan para sahabat terdekat sedikit-demi sedikit, dan istiqomah sampai akhir hayat. Hanya dengan begitu kita selamat di dunia dan akherat selamanya, sebagaimana sabda Rasul saw:

“Aku tinggalkan dua perkara setelah matiku, kamu tidak akan tersesat selama-salamnya kalau kamu berpegang teguh kepada keduanya: Al-Qur’an dan Sunnahku” (HR mutawatir/banyak jalur dan sahih).
 
Lalu caranya bagaimana memaknai Hijrah, berpegang teguh kepada warisan Nabi itu? Karena Al-Qur’an adalah pedoman bagi muttaqin, dan hadits adalah penjabaran Al-Qur'an, maka memahami dan mengamalkannya adalah kewajiban utama umat Islam.
Bukankah sebagian umat Islam yang setiap Kamis malam selalu membaca awal surah Al-Baqarah yaitu bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk untuk orang-orang yang bertaqwa. Usaha memahami dan mempedomani Al-Qur'an ini harus teratur dilakukan sepanjang hayat. Karena jelas apa-apa yang kita yakini dan amalkan sekarang ini bisa jadi ada amalan-amalan yang salah atau perlu diperiksa dicocokkan dengan ketentuan sahih dari Allah swt dan Nabi Muhammad saw.
Bukankah semua ajaran Allah dan Rasul-Nya belum seluruhnya kita pahami dan amalkan. Lalu mengapa kita berhenti belajar atau mengaji? Mengapa sebagian kaum muslim  terutama yang lelaki seperti merasa sudah merasa cukup lalu tidak mau mengaji, dan menyuruh ibu-ibu mengaji? Buktinya ialah pengajian ibu-ibu dimana-mana penuh, tetapi pengajian bapak-bapak langka bahkan tidak ada.  Mungkin muslimin lelaki merasa sudah mendengarkan khutbah setiap Jum'at. Padahal bapak-bapak atau muslim lelaki jika mendengarkan khutbahpun kenyataannya banyak yang mengantuk dan khutbah adalah pidato hanya satu arah saja.
Bukankah bapak-bapak atau lelaki adalah pemimpin bagi wanita dan keluarga? (An-Nisa’ [4]: 34) dan akan ditanya kelak tanggung jawabnya? (Al-Isra’ [17]: 36).

Muslimin rahimakumullah
Sungguh beruntung orang mukmin yang mau taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw, karena dijamin akan selamat di dunia dan akhirat. Memahami Al-Qur’an dan Hadits lalu mengamalkan secara bertahap dan istiqomah.
Sungguh beruntung yang mau mengaji yang benar, bukan hanya Yasinan dan Tahlilan tanpa pengajian dan tanya jawab. Mengaji yang benar adalah mengaji teratur, rutin, sepanjang hayat. Materi pengajian adalah pedoman hidup, pedoman Islam bagaimana melakukan pengabdian / ibadah pada semua peristiwa kemanusiaan, sejak ibu mengandung, melahirkan, memberi nama, mendidik anak, khitan, mengurus pendidikan anak, ahlaq dan agamanya, membimbing pengamalan agama, sodaqoh, sakit, bepergian, makan, pekerjaan, perdagangan, sampai bagaimana seharusnya Islam mengatur ibadah ketika ada anggota keluarga yang meninggal, sampai penguburan dan bagaimana ibadah /doa setelah itu.
Karena apa? Karena Islam sudah final, sudah sempurna sebagai agama ketika Rasul saw wafat. Yang belum ditetapkan adalah hukum bagi apa-apa yang baru karena perkembangan manusia dan peradabannya.
Pertanyaan: apakah muslimin yang hadir saat ini merasa sudah menguasai ilmu agama lengkap sebagaimana diajarkan Nabi saw dan telah mengamalkannya?
Jika ada yang menjawab sudah, maka saya ingin berguru kepadanya.

Kalau jawabannya belum, mengapa Anda tidak terus mengejarnya? Bukankah ingin ridlo Allah dan doanya ROBBANAA AATINAA FID DUNYAA KHASANAH, WAFIL AAKHIROTI KHASANAH, WAQINAA ‘ADZAABANNAAR………?

Doanya luar biasa besar, tetapi mengapa usahanya tidak sebanding?
Bagaimana usaha yang sebanding? Begini misalnya: Mengaji rutin dengan skema per hari atau perminggu, mana yang mampu dengan ustadz yang serius, bukan hanya melucu melulu tetapi benar-benar membagi ilmu agama.
Jika mengajinya per bulan, ah ini menyedihkan. Karena untuk mengejar urusan duniawi kita  usaha maksimal, jam demi jam, hari demi hari, dengan sarana yang luar biasa, misalnya HP dua mahal-mahal, biaya besar. Masak minta / mau surga setelah mati tetapi mengajinya  hanya sejam  dua jam per bulan? Kalau umur mulai mengaji 10 tahun sekarang Anda berumur 40 tahun, ada 30 tahun  mengaji (jika tidak pernah bolos). Maka ada 30 x 12 = jadi cuma 360 kali pengajian. Kalau  sebulan/separo Al-Qur’an separo Hadits, masing-masing satu ayat dan satu hadits, maka ada 180 ayat al-Qur’an saja dan 180 hadits Anda pelajri (belum tentu dicatat), dan belum tentu diamalkan.
Padahal banyak muballigh tidak menguasai mana hadits yang sahih dan mana yang dhoif atau palsu. Jadi yang masuk kepada diri Anda hasil pengajian, bisa campur antara yang sahih dan yang dhoif atau maudhu’ (palsu). Sedang jumlah ayat Al-Qur’an lebih dari 6000, hadits sahih lebih dari 5000. Apa Anda yakin bisa selamat hanya berpegangan 180 ayat dan 180 hadits?
Belum terhitung kalau muballighnya banyak melucu, maka bukan ilmu yang disajikan, tetapi supaya yang hadir senang dengan dia, bukan senang kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw dan para sahabat yang telah berjuang hingga habis harta benda, luka, cacat atau mati, demi menyebarkan dan mempertahankan agama islam di awal perkembangannya.

Muslimin rahimakumullah

Marilah setiap mengaji mencatat al-Qur’an satu ayat dan artinya lalu berusaha mengamalkan dengan istiqomah (menjaga rutinitas dan kontinyuitasnya sampai akhir hayat). Mengaji satu hadits, tahu artinya, mencatatnya, lalu mengamalkan dengan istiqomah sepanjang hayat. Jika makin berumur orang sekolah makin S nya banyak, maka usaha yang sebanding agar dapat kehidupan baik di dunia dan akhirat, diberi surga dihindarkan neraka, tentu ya makin intensif makin mendekati umur kematian. Apalagi kita tidak tahu kapan ajal menjelang......
Itulah pemaknaan hijrah. Lalu Anda sebagai muslim yang taat kepada Nabi dan berhutang budi kepadanya dan kepada keluarganya dan kepada para sahabatnya, sudahkah memaknai hijrah dan taat serta mengikutinya dengan cara demikian? Belum terlambat, silakan Anda hijrah dari cara lama ke cara baru untuk benar-benar keras usahanya sebanding dengan doa yang hebat itu, yakni minta selamat dan baik kehidupan di dunia dan akhirat………….

Muslimin rahimakumullah
Banyak firmanNya sering kita dengar di khutbah Jum’at, kita ulang lagi agar kita makin yakin bahwa yang harus diikuti dan ditaati adalah Allah swt dan Rasul-NYA saw. Kita ulangi beberapa ayat Al-Qur’an yang sering dibaca di khutbah jum’ah antara lain:

 “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan” (An-Nur [24]: 52)

Mengikuti Rasul saw adalah dengan meneladani, mematuhi apa-apa yang diperintahkannya dan menjauhi apa-apa yang dilarangnya, semampu-mampunya (bukan apa yang mampu, tetapi usaha maksimal, karena doanya ingin ridlo Allah dan surga) sebagaimana perintah Allah swt sbb:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya” (QS Al-Hasyr [59]: 7)

Aquulu qoulii haadzaa wastaghfirullaahal ‘adhiem lii walakum walisaa-iril muslimiina wal muslimaat wal mu’miniina wal mu’minaat fastaghfiruuhu innahuu huwal ghofuurur rohiim.

catatan:
Khutbah Jum'ah dr. M. Masyrifan Djamil di Masjid Al-Kautsar Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar