Muslimin rahimakumullah
Kita panjatkan puji syukur kepada Allah swt atas semua karunia nikmat dan rahmatNya. Dan semoga salawat dan salam dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, keluarganya dan sahabatnya.
Saya berwasiat kepada hadirin sidang jum’ah dan saya sendiri, bertaqwalah kepada Allah swt, dan taat kepadaNya, agar mendapat kebahagiaan.
Muslimin rahimakumullah
Marilah kita mencermati, apa yang terjadi selama ini di Indonesia. Dimulai tahun 2000an ketika terjadi pembantaian umat Islam di Maluku dan Poso, umat Islam lain tidak peduli dan bergeming. Hanya sedikit ada kelompok yang peduli, lalu membentuk pasukan untuk bala bantuan ke Maluku dan Poso.
Setelah ada ungkapan kebebasan dan HAM, dan dilaksanakannya apa yang disebut reformasi, sistem politik dan ata kelola pemerintahan yang baru, tampaknya masyarakat bukan malah tertata, tetapi makin banyak penyimpangan oleh pribadi dan kelompok.
Secara pribadi, makin banyak orang melakukan kemaksiatan dengan skala yang mengerikan dan tampak merasa tidak bersalah. Ada pembunuh teman kencannya yang bahkan sama-sama menyimpang karena lelaki dengan lelaki, memutilasi dan menguburnya di rumahnya sendiri, ada perampokan disertai pembunuhan dan pemerkosaan, ada dukun membunuh puluhan kleinnya, bahkan sampai-sampai ada perempuan yang tega terang-terangan di media massa mengaku berzina dan anak yang dilahirkan bukan anak suaminya yang sah, tetapi anak selingkuhannya. Dan yang mutakhir ialah ada seorang artis yang berzina dengan beberapa wanita dan merekamnya sebagai film lalu beredar luas sampai ke desa-desa dan ke seluruh dunia. Anehnya banyak yang membelanya sehingga yang bersangkutan merasa biasa-biasa saja, tak ada penyesalan. Lihatlah dampaknya yang dahsyat!
Generasi muda baik di desa dan di kota merasa biasa saja melakukan perzinahan, bahkan juga merekamnya. Sebenranya kalau dia bijaksana, mengaku saja dengan jujur sebagaimana Presiden Clinton waktu melakukan skandal, minta maaf kepada publik, bertobat kepada Allah swt dan berkampanye kepada generasi muda agar jangan terjerumus seperti dia. Ini ujian yang berat bagi dia dan bagi umat Islam serta bangsa Indonesia, terutama dalam mendidik generasi mudanya.
Secara kelompok banyak yang melakukan penyimpangan misalnya membangun aliran sesat. Bahkan ada orang yang mengaku sebagai Tuhan. Na’udzubillah.
Generasi muda baik di desa dan di kota merasa biasa saja melakukan perzinahan, bahkan juga merekamnya. Sebenranya kalau dia bijaksana, mengaku saja dengan jujur sebagaimana Presiden Clinton waktu melakukan skandal, minta maaf kepada publik, bertobat kepada Allah swt dan berkampanye kepada generasi muda agar jangan terjerumus seperti dia. Ini ujian yang berat bagi dia dan bagi umat Islam serta bangsa Indonesia, terutama dalam mendidik generasi mudanya.
Secara kelompok banyak yang melakukan penyimpangan misalnya membangun aliran sesat. Bahkan ada orang yang mengaku sebagai Tuhan. Na’udzubillah.
Maka mulai tahun 2004 pada tanggal 26 Desember kita mendapat peringatan Allah ataupun azab berupa tsunami di Aceh. Tsunami yang lain juga terjadi, berupa kejahatan kelas kakap atau raksasa berupa korupsi. Seorang Pejabat negara, Gubernur atau Walikota yang tampaknya baik, tahu-tahu masuk penjara.
Sistem demokrasi yang kita anut ternyata 100% menyebabkan pejabat terpilih melakukan korupsi karena dibebani biaya berbagai macam, termasuk penyuapan sejak mendaftar sebagai bakal calon Kepala Daerah. Duit yang diperlukan sudah dipaparkan di TV dan koran, milyaran, puluhan milyar dan makin naik ke propinsi bisa ratusan milyar. Nyata bahwa mereka pasti tidak memiliki uang sendiri. Jadi ada yang meminjami, mensponsori dana untuk Pemilu Kada.
Maka kalau sudah menjabat, mereka tentu harus mengembalikan uang utangan / talangan dan labanya, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah dengan jalan korupsi, juga harus manut saja kepada pihak pemberi hutang. TV One sudah membahas masalah ini secara terbuka tanggal 8 Nopember 2010 yl, juga Metro TV, Kompas dll. Dalam pembicaraan di TV itu disampaikan oleh Pramono Anung dari PDIP, yang intinya rakyat juga sudah terbiasa dengan politik uang. Semua tahu itu. Sedangkan KPU dan KPUD tidak mampu berbuat banyak menghentikan politik uang.
Alhasil korban sistem ini adalah si calon, kroni, rakyat pemilih, lembaga pemerintahan, atau bangsa dan negara!. Tinggal hati nurani para pimpinan di pusat apakah mau mengubah sistem yang kita anut, yang nyata-nyata menjerumuskan bangsa. Kalau tidak, kita ingat peringatan Allah swt sbb:
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al-Isra’ [17]: 16)
Muslimin rahimakumullah
Umat Islam harus kembali mengoreksi diri, barangkali selama ini terlalu mengejar duniawi, sehingga lupa kepada anak-anak kita, bagaimana pelajaran agamanya. Sudah terbukti bahwa yang selamat menurut Allah adalah anak dan keluarga yang paham dan mengamalkan, atau fakih agama, yang berulang-ulang disampaikan para ulama dimana-mana. Sabda Rasul saw:
Jika Allah menghendaki suatu keluarga menjadi keluarga yang baik (sejahtera) maka Allah memberikan lima perkara. (1). Memiliki kecenderungan (fakih) kepada agama, (2) yang muda menghormati yang lebih tua, (3) lemah lembut dalam pergaulan, (4) sederhana dalam hidup, (5) mampu mawas diri lalu bertaubat atas kesalahan-kesalahannya. Jika Allah tidak menghendaki demikian, maka mereka dibiarkan tanpa hal-hal tersebut.
Juga sabdanya yang lain:
Dari Mu’awiyah ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: “Barangsiapa Allah menghendaki kebaikan seseorang niscaya ia pandaikan dia di dalam (urusan) agama”. Hadits diriwayatkan (HR) Bukhari dan Muslim.
Sudah saatnya kita semua, termasuk Ormas, bersatu dan kembali menggarap masjid, musholla, madrasah menjadi basis kekuatan untuk pembinaan mental spiritual umat. Sekolah negeri atau swasta mengajarkan agama, termasuk Ahlaq, lalu mempraktekkan pelajaran agama. Maka harus tersedia MASJID untuk mereka di sekolah.
Di TPQ dikembangkan pemahaman Al Qur’an bukan hanya berhenti ketika bisa membaca, dan pengertian Syariah Islam yang dasar dan pokok, sebagaimana cita-cita semua muslim untuk mewujudkan GENERASI QUR’ANI. Semua itu didukung sistem pemerintahan yang adil yang mengutamakan iman ilmu dan prestasi (MERIT SISTEM) sebagaimana Rasul saw membangun Madinah.
Sudah saatnya kita umat Islam bersatu. Namun apabila kita masih mengutamakan pribadi atau golongan, berpecah-belah, bermusuhan, kondisi seperti itu menurut sejarah Rasul saw dan firman Allah di bawah ini, masih termasuk kondisi PRA ISLAM, artinya ya itu kondisi manusia semasa jahiliyah:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (QS Ali ‘Imron [3]: 103).
Muslimin rohimakumullah
Marilah kita bahas konteks ayat di atas dengan kenyataan. Mungkin saja diantara kita ada yang berbusana santri, memakai baju koko atau gamis ala Rasul saw atau baju panjang ala muslim Pakistan, bahkan mungkin berkopiyah haji atau sekalian bersorban. Namun jika hatinya belum bisa tunduk kepada Islam, kepada ajakan Allah swt itu dan Rasul saw, untuk jangan bercerai berai atau bermusuh-musuhan, firman Allah tersebutlah yang sangat jelas merumuskan termasuk golongan apa orang islam yang demikian.
Lihatlah kampung yang warganya tawuran, perhatikanlah suku-suku di Papua atau tempat-tempat lain. Pastilah nafsu, emosi dan egoisme yang diutamakan, bukan islah, islam (damai) dan kebajikan.
Pada tahun 2005 di tanah Batak ada marga yang 700 tahun berseteru, kemudian bisa rukun di akhir tahun 2005. Masak umat Islam yang membaca Al Qur’an dan mengaji Hadits tidak bisa rukun demikian.
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. (QS Al Insaan [76]: 1-4)
Aquulu qoulii haadzaa wastaghfirullaahal ‘adhiem lii walakum walisaa-iril muslimiina wal muslimaat wal mu’miniina wal mu’minaat fastaghfiruuhu innahuu huwal ghofuurur rohiim.
KHUTBAH KEDUA
Hamdalah, syahadat, sholawat dan salam kepada Rasulullah saw.
Wasiyat: Ajakan Taqwa.
Muslimin rahimakumullah
Sungguh banyak PR dan tugas kita umat Islam untuk meningkatkan iman taqwa pribadi-pribadi muslim dan jamaahnya serta meginternalisasi nilai Islam ke dalam negara dimana umat Islam berada ini yakni Indonesia, sehingga negara bangsa menjadi tertata, menerapkan keluhuran nilai dan kemuliaan manusia. Jika demikian, maka Islam sebagai rahmat bagi alam ini bisa terwujud. Maka syarat utama ialah kefakihan pribadi dan keluarga muslim kepada agama Islam dan bersatu, PR kita itu pasti dapat diselesaikan. Muslim itu wajib bersatu dan saling menyayangi. Bukankah setelah sistem "baru" untuk poltitik kita anut, kewajiban itu kita tinggalkan? Kalau Allah swt murka, jelas karena kita sendiri. Mari kita simak di ujung khutbah ini firman Allah:
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar (QS Al Fath [48]: 29)
Waladzikrullahi akbar
Aqimush sholah
Catatan:
Khutbah Shalat Jum’ah bulan Nopember 2010 Dr. M. Masyrifan Djamil, MPH, MMR., di Masjid Al-Kautsar Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar