Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Senin, 11 Oktober 2010

Strategi Ibadah I

Sebagaimana urusan lain ada pokok utama ada pokok dan tambahan, ibadah juga demikian. Jika diurutkan dari sunnah Rasulullah saw dan fatwa para Imam Madzhab serta ulama lain yang ilmunya cukup, ibadah ada yang pokok yang wajib bagi tiap muslim/muslimat yaitu rukun Islam. Selain itu ada juga ibadah yang pokok, tetapi para ulama menghukumi pardlu kifayah, sunnah muakkad (dikuatkan) dan sunnah dan ada ibadah sunnah yang khilafiyah. Umumnya ibadah wajib tidak ada khilafiyah, kecuali ada cabang-cabang (furu’) yang diperdebatkan (kontroversi atau khilafiyah). Contoh sholat adalah ibadah pokok utama karena merupakan rukun Islam. Namun pelaksanaannya ada furu’ yang beebeda namun tidak termasuk khilafiyah misalnya baca basmalah jelas atau berbisik, cara takbir, cara bersedekap, karena Rasul saw pernah mempraktekkan. Sedangkan yang khilafiyah adalah bacaan sayyidina pada tahiyyat akhir, karena Rasul saw tidak pernah mengajarkan melafalkan sayyidina.
Khilafiyah adakalanya karena hadits (sunnah) yang dipakai bukan sahih atau karena pemahaman imam atau ulama. Lain kali kita bahas soal khilafiyah ini insyaAllah, sekarang bahasan kita ialah memilih ibadah pokok yang tidak ada khilafiyah untuk kita tekuni yang pertama. Ibadah yang pokok ada utama dan tidak ada khilafiyah (semua ulama sepakat wajib atau sunnahnya).
Jika anda memnagun rumah, maka pasti akan membangun pondasi dulu, urut yang penting dan yang tidak begitu penting bisa ditunda dan dilengkapi sambil jalan. Maka mengapa anda beribadah seperti meloncat-loncat, tidak mengikuti yang pokok dulu? Yang pokok juga harus dicari yang utama dan wajib, tidak boleh dikurangi apalagi ditinggalkan. Di bawah ini ada tabel dua kolom, silakan anda mengikuti kolom yang kiri, sebagai strategi kita jangan sampai melakukan yang tidak pokok, meninggalkan yang pokok yang jelas-jelas ada landasannya dari Rasul saw, dan para sahabat yang utama.

Contoh amalan yang berdasar landasan yang benar 
dan amalan sebagian umat Islam yang umum dilakukan yang dasarnya kontroversi (khilafiyah) antara Imam/ulama

Amalan ibadah dan muamalah berdasar Al-Qur’an dan As-sunnah (hadits sahih)
Umum dilakukan, dasar masih khilafiyah atau dasar tradisi semata (tidak bernilai ibadah)
-        adzan (tanpa tambahan lafadz sebelumnya),











-        Shalat ketika memasuki masjid. karena banyak orang shalat setelah adzan maka tidak ada puji-pujian setelah adzan karena jelas Rasul saw melarang mengganggu orang yang sedang shalat meskipun dengan mabaca al-Qur’an. Setiap komunitas masjid dapat menyepakati berapa lama setelah adzan, iqomat dikumandangkan. Di Makkah Masjidil Haram sekitar 15 menit, di Masjid Nabawi setelah adzan subuh bisa sampai 25 menit, karena memberi kesempatan shalat sunnah sebelum subuh yang disabdakan Rasul saw sebagai lebih baik dari dunia seisinya (“khoirun mind dunya, wamaa fiiha”). Jadi janganlah ini ditinggalkan.
-        shalat 5 waktu berjamaah di masjid. Rasul saw bahkan dipapah ketika sakit, dan sholat dengan duduk berjamaah di masjid. Ketika sakit diwakili Abu Bakar, beliau menjadi makmumnya.
-        shalat sunnah qobliyah ba’diyah,
-        shalat tahajjud, dan shalat dhuha (kedua sholat ini meskipun sunnah, tetapi Rasul saw dan sahabat utama tidak pernah meninggalkannya),

-        tadarus al-qur’an, berusaha paham maknanya dan mengamalkannya

-        mengadakan majlis ta’lim untuk memahami al-qur’an, dan ilmu agama lainnya, sehingga Islam maju dan IPTEK agama & umum juga maju (ilmuwan/failosuf berasal dari Islam)
-        I’tikaf (di masjid) dan berdzikir sendiri (di masjid atau lainnya) dengan dzikir yang banyak sampai menangis karena mengingat demikian besar salah dan dosanya,




-        Shalat sunnah istisqo’ di lapangan

-        Shalat Id di lapangan
-        Shalat gerhana di masjid-masjid, karena tanda kebesaran Allah yang nyata adalah gerhana
-        Puasa romadlon dan puasa sunnah (Senin Kamis, Bidl, 10 Muharrom, 9 Dzul hijjah dll)
-        mendoakan ayah ibu baik ketika hidup maupun sudah mati setiap saat atau minimal setelah shalat fardlu (bukan hanya kalau mau romadlon dan Idul Fitri). Sabda Rasul saw: Kita hanya punya dua hari raya yaitu kedua Id. Jadi hari raya, bahkan sholat jum’at saja boleh ditinggalkan karena sudah ada sholat Id. Kenapa malah ke kuburan? Doa asal seagama, dari mana saja bisa sampai. Ziyaroh kubur waktunya kapan saja. Tetapi kalau dikerjakan di hari raya? Rasul saw belum pernah ada diriwayatkan berbuat begitu.
-        setiap selesai khutbah jum’ah mendoakan mohon ampunan bagi muslimin muslimat, mukminin mukminat,




-        zakat setiap tahun (sesuai nisab)

-        memelihara atau menyantuni anak yatim
-        sodaqoh tanpa hitung-hitung (bahkan Abu Bakar Ash-Siddiq ra 2/3 hartanya, Umar bin Khottob ra separo hartanya,


-        jihad dalam segala bentuknya dan bahkan berperang dan ingin mati di medan perang, karena Allah swt menjamin surga bagi yang mati sahid. Jihadnya wanita adalah antara lain haji mabrur

-        tabligh, menyiarkan dan mengajar agama Islam kepada keluarga, dan lingkungan di manapun berada. Membangun pondok pesantren dan madrasah-madrasah diniyyah (khusus agama, dulu sore hari)





















-        Takziyah yang benar adalah mensholatkan jenazah dan mengantar sampai kubur, lalu mendoakan setelah selesai penguburan
-        Pantang mengambil barang atau hak orang lain atau dosa besar lainnya (di Jawa disebut mo limo),




-        saling mengasihi sesama muslim (silaturrahim), bersatu padu saling menguatkan, bantu membantu.
-        Menambah lafadz sebelum adzan: “Subhaanallahi wal hamdulillahi walaailaaha illallahu wallahu akbar, walaa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adhiem. Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad w’alaa aali sayyidinaa Muhammad”. Ada juga yang nambah lagi “Allhu yaa kariem”, baru adzan. Ini ibarat menyaingi Rasul saw menciptakan tambahan lafadz adzan. Padahal yang paling berhak menyusun tatacara ibadah dan lafadznya hanya Allah swt dan Rasulullah saw.
-        Ada puji-pujian denga lagu-lagu. Jika Rasul saw melarang membaca al-qur’an jika ada saudara yang shalat, juga kalau berdampingan dengan jamaah dalam sholat jangan keras-keras doa/bacaan kita, mengapa malah puji-pujian keras-keras dengan loud speaker?
Ada pimpinan suatu masjid yang saya tanya mengapa ada pujian setelah adzan, katanya untuk memanggil jamaah atau ibarat “ngetem” kayak angkutan umum. Padahal adzan kan panggilan yaitu marilah melakukan sholat (hayya ‘alash sholaah……)

-        Banyak yang tidak berjamaah di masjid (sekali-sekali silakan anda ke simpang lima Semarang di masjid Baiturrahman untuk bukti)

-        Duduk-duduk, ngobrol saja di luar masjid
-        Tidak sholat tahajud tetapi sholat lain yang masih khilafiyah, bahkan berjamaah (Rasul saw bersabda: sholat sunnah afdholnya dilakukan di rumah – jadi sendirian. Sedang sholat fardlu afdholnya di masjid berjamaah)
-        Banyak menonton sinetron dan begadang di depan rumah, tepi jalan, warung nasi kucing atau prapatan-prapatan
-        Majelis dzikir untuk mengirim doa bagi arwah, porsi taushiyah (membagi ilmu agama) sangat sedikit

-        Berdzikir berjamaah di alun-alun, menangis bersama-sama (tidak ada praktek amalan ini di jaman Rasul saw dan sahabat). Hadits: 7 golongan yang dilindungi Allah di hari akhir dengan naungan-Nya antara lain yang bertafakkur sendirian, lalu menangis karena mengingat dosanya. Jadi yang di lapangan tidak ada haditsnya.
-        Di bagian tertentu di Jawa ada doa bersama di lapangan dan makan2 sedekah bumi

-        Ketika gerhana masjid sepi……


-        Puasa weton, puasa pati geni, puasa 40 hari karena disuruh “orang tua”
-        Mengirim doa dengan mengundang tetangga, dengan aturan hari-hari seperti agama lain (Hindu/Budha, satu sampai tujuh hari setelah kematian, 40, 100, mendak setahun, dst), mengadakan jamuan makanan bahkan ada yang berlebihan. Datang ke kuburan (ziyaroh) waktu sebelum romadlon (sya’ban atau ruwah dikenal sebagai nyadran), bahkan waktu hari raya Idul Fitri kuburan ramai…….



-        Meragukan contoh dari Rasul saw berdoa bagi ampuan sesama muslim dan mukmin, setiap akhir khutbah jum’ah ini. Terbukti banyak yang menyelenggarakan sendiri doa bersama dan kirim pahala (yang tidak dilakukan di jaman Rasul saw) tersebut di atas, dengan tatacara urutan hari agama lain
-        Tidak zakat malah umroh hampir setiap tahun
-        Tidak peduli anak yatim
-        Shodaqohnya kecil, tetapi ibadah sunnah banyak (memberi makan tetangga supaya mau mendoakan, yang benar memberi makan fakir miskin dan anak yatim), umroh setiap tahun padahal sunnah
-        Jihad dikira perang saja, lalu ada bom “jihad” dan media massa menyebutnya “bom bunuh diri”, sehingga menimbulkan antipati. Tetapi jihad lain menyurut karena lahir budaya Barat: materialisme, semua harus ada imbalan atau upahnya
-        Tabligh hanya dilakukan para ustadz, tetapi banyak yang tidak rutin, hanya diundang saat peringatan khusus, khutbah atau halal bi halal (bahkan dicampur band/hiburan) atau syukuran. Akibatnya sekarang kita saksikan:
-      Madrasah diniyyah (hanya khusus mengajarkan agama) tutup, bubar;
-      TPQ berhenti hanya sampai anak-anak bisa membaca (tepatnya melafalkan karena tidak tahu maknanya).
-      Pelajaran agama di sekolah juga ada yang diampu oleh guru agama yang hanya cari kerja, sehingga banyak guru agama tidak ada “ghiroh”nya, mengajar asal-asalan, karena memang gurunya ada yang tidak paham agama.
-      Generasi muda makin tidak Islami: buktinya ialah, ketika sore di bulan Romadlon malah keliling kota (ngabuburit, padahal doa justru sedang  makbul), promosi rokok dengan ngabuburit juga laris oleh generasi muda, lalu ketika malam likuran yang harusnya I’tikaf di masjid, malah kongkow-konkow di jalan atau simpang lima menjejer kendaraan ramai-ramai
-        Takziyah hanya datang, ngobrol lalu memasukkan amplop uang sumbangan

-        Banyak premanisme, penipuan, pencurian, pembalakan liar, pemalakan (minta tetapi memaksa), korupsi besar-besaran dan berjamaah. Minum oplosan bersama sampai mati. Zina bersama (pesta seks, bahkan homo dan lesbi), pesta sabu-sabu atau narkotik lain makin marak.
-        Silaturrahim memudar, persaingan dan permusuhan sesama umat akibat khilafiyah dan sistem politik (demokrasi bebas/pemilu, tetapi prakteknya politik uang). Diganti halal bi halal tahunan disertai hiburan dan makan-makan. Kolaborasi saling dukung dan menguatkan sebagai inti silaturrahim tidak dikerjakan
-        Menafkahkan harta karena kebutuhan, sehingga sederhana (zuhud), banyak sedakah karena perintah Allah dan Rasul-Nya jelas dan sangat banyak. Jadi untuk memenuhi kewajiban sosial dan untuk mencari ridlo Allah
-        Perintah sodaqoh di Al-Qur’an antara lain: Al-Baqarah 177, 262; An-Nisa’ 114. Kehebatan sodaqoh menurut Sunnah Rasul saw banyak diungkapkan dalam hadits sahih (tujuh golongan yang dilindungi Allah dalam mahsyar; sodaqoh untuk menolak balak, sodaqoh untuk menghapus dosa)
-        Memberi makan fakir miskin dan anak yatim (Surah ke 107 Al-Ma’un).
-        Menafkahkan harta berdasar kesenangan, kepuasan atau karena ingin dipuji (diperlihatkan kepada semua manusia), misal nggak ada perintah Rasul saw untuk “walimatus safar” kalau mau pergi haji, malah mengadakan dengan pesta yang mewah, seperti pesta perkawinan; jamuan makan dan berkat yang dibawa pulang dengan mewah. Ada juga yang menafkahkan harta untuk mengadakan ulang tahun kematian ayah ibu atau kekek neneknya, dengan jamuan makan dan hadiah-hadiah yang tidak manfaat (buku kenangan kematian, karena banyaknya ditumpuk di rumah). Ada juga yang memberi hadiah sajadah tetapi ditulisi “Peringatan ulang tahun kematian Bapak Fulan” tepat di tempat kening kita bersujud…….
-        Pengajian yang diadakan lebih untuk kepuasan, bukan untuk menuntut ilmu lalu diamalkan, maka dicarilah ustadz yang gaul, yang lucu, bahkan saru (jorok humornya), walaupun ilmunya sedikit
-        Akibatnya? Anak2 asing dengan ajaran Islam, misalnya:
-      kalau dengar adzan tidak menyahuti menirukan dan berdoa setelah adzan (karena tidak tahu betapa besar fadhilahnya, tidak pernah mengaji hal itu).
-      Ketika maleman likuran Romadlon yang seharusnya untuk I’tikaf di masjid, malah ke simpang lima dan jalan pahlawan, begadang sampai pagi, menjejer sepeda motor atau mobilnya
-        Lama-lama setelah generasi demi generasi, Islam hilang dari dada, lisan dan anggota gerak umatnya alias umatnya tidak tahu dan tidak mengamalkan

Semoga umat Islam yang awam dan selalu bingung dalam ibadah karena khilafiyah, sedikit tercerahkan dengan makalah pendek ini.

Wallahu a’lam

Dzulqo’dah 4 1431/12 Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar