Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Senin, 11 Oktober 2010

JANGAN MBURU UCENG KELANGAN DELEG (Bagian II)

Iftitah (hamdalah), syahadat, shalawat dan saya berwasiyat kepada hadirin sidang jum’ah semua dan kepada diri saya sendiri, bertaqwalah kepada Allah swt dengan sebenar-benar taqwa. Dan janganlah meninggal dunia, kecuali dalam keadaan beragama Islam.

Muslimin rahimakumullah
Semua umat Islam sudah ikrar dengan syahadat kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah dan diibadahi dan kepada Muhammad saw sebagai Rasulullah. Dalam setiap khutbah Jum’ah selalu disampaikan pesan agar kita bertaqwa sebagai perwujudan syahadat itu. Taqwa hanya bisa dilakukan kalau kita taat kepada Allah swt dan Rasul saw, mengikuti semua yang diperintahkan, menjauhi semua yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.
Di setiap Jum’at juga disampaikan firman Allah swt bahwa barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya pastilah mendapat kemenangan dan kebahagiaan.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al-Ahzab [33]: 70-71)

Namun sebagian umat Islam tidak menyambut seruan itu. Apa penyebanya? Bisa jadi inilah sebabnya:
1.      karena kurang ilmu, karena tidak mengaji dengan benar dan tidak sungguh-sungguh, maka sebagian (besar) umat Islam tidak paham bagaimana perintah itu dilaksanakan. Dan jika mengaji, itupun dilakukan sangat jarang, hanya melalui pengajian yang diselenggarakan dalam rangka peringatan-peringatan hari besar Islam atau event khusus dengan tema syukuran.

 
2.      karena yakin apa yang sudah dilakukannya selama ini sebagai umat Islam, baik beribadah maupun bermuamalah (hubungan sosial dan bisnis). Kebanyakan mereka hanya manut (taqlid buta) saja kepada penceramah/ustadz/pengajar.
3.      diantara umat islam yang melakukan ibadah secara taqlid itu ada yang hanya menjadikan Islam sebagai kedok, topeng, biar dikira taat beragama atau sekedar ikut yang banyak – dengan tujuan tertentu. Tujuannya misalnya untuk menarik simpati umat Islam guna kepentingan / tujuan bisnis dan politis (keduaniaan).
Karena kurang ilmu, maka banyak umat Islam atau yang mengaku Islam melakukan amalan yang bukan pokok dan tidak dituntunkan oleh Rasul saw. Mereka menyebut itu sebagai ibadah yang umum-umum saja, yang netral-netral saja, sudah tradisi berpuluh-puluh tahun, yang orang banyak melakukan. Mereka tidak peduli apa dasarnya, apa ada contoh atau perintah Allah dan Rasul-Nya. Kalau ada haditsnya, apakah hadits sahih atau tidak mereka tidak peduli karena percaya kepada ustadznya. Padahal yang boleh dipakai untuk landasan bagi ibadah mahdhoh (misal sholat dll) dan untuk menetapkan hukum hanya hadits sahih saja atau sekurang-kurangnya hadits hasan bila berasal dari berbagai sanad yang tsiqoh dan banyak bersesuaian dengan hadits lain yang sahih.
Mereka sangat mudah ditakut-takuti oleh orang yang ingin menguasai dengan tujuan pribadi, misalnya supaya umatnya tergantung saja kepada pengajar/ustadz/penceramah.
Mereka banyak melakukan ibadah yang khilafiyah atau mengira ibadah, sedangkan ibadah yang nyata-nyata sahih dilakukan oleh Rasul saw dan para sahabat utama, tidak dilakukan (nanti kita contohkan kenyataannya di masyarakat). Keadaan ini menurut kaidah Orang Jawa ibarat “mburu uceng kelangan deleg” yaitu memburu yang bukan pokok, meninggalkan yang pokok. Pepatah Melayu juga menyebutkan: “mengharap burung terbang di udara, punai di tangan dilepaskan”.
Pada gilirannya, ketika dijelaskan amalan Rasul saw dan para sahabat yang setia menyertai dan berguru kepadanya, berdasar dari Al-Qur’an dan hadits-hadits yang sahih, umat Islam yang tergolong demikian itu terkejut, bahkan ada yang menganggap si ustadz atau ulama yang mengajarkan hal yang benar itu justru sebagai mengajarkan kesesatan. Ada diantaranya yang dimusuhi, dan ada juga ustadz yang dicekal tidak boleh mengajar di suatu masjid. Benarlah sabda Rasul saw:
“Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Beruntunglah orang-orang yang asing”

Muslimin rahimakumullah

Jika hadirin sidang jum’ah memperhatikan sungai, pastilah keadaan di hulu jauh berbeda dengan di hilir. Di hulu airnya jernih karena baru keluar dari perut bumi mengalir ke mata air lalu ke sungai, belum tercampur dengan benda-benda yang hanyut di suangi. Makin ke hilir makin banyak benda atau kotoran yang hanyut, warna air dan baunya tindak menyenangkan. Islam telah 14 abad lebih, demikian pula keadaannya bagaikan sungai. Banyak campuran yang bukan dari ajaran Islam, Al-Qur’an atau tidak diperintahkan Rasul saw. Bahkan di TVRI dalam forum iklan pengobatan alternatif, ada yang berani mendakwakan bahwa apa yang dia usahakan sebagai ajaran Islam supaya dagangannya laris. Padahal dagangannya berupa susuk untuk kecantikan, pelet, penglaris dll, yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam yaitu syirik. Maka marilah kita simak wanti-wanti Rasul saw:

“Aku berpesan, hendaklah kalian selalu bertaqwa, mendengar dan mentaati pimpinan, meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak dari Habsyi yang berkulit hitam. Siapapun yang hidup sepeninggalku kelak, maka kalian akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka ikutilah sunnahku dan sunnah para khalifaurrosyidin yang mendapat petunjuk. Maka peganglah kuat-kuat dengan gigi gerahammu. Janganlah kalian mengada-ada yang baru, sebab setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi, hasan sahih, dapat dibaca selengkapnya di Arbain Nawawiyah hadits nomor 28)

Muslimin raohimakumullah

Saya uraikan sedikit dari ibadah yang pokok yang selalu diamalkan Rasul saw dan para sahabat utama, yang sekarang ini makin ditinggalkan umat islam ialah :
-        adzan (tanpa tambahan lafadz sebelumnya),
-        shalat ketika masuk masjid,
-        karena banyak orang shalat setelah adzan maka tidak ada puji-pujian setelah adzan. Rasul saw jelas-jelas melarang mengganggu orang yang sedang shalat meskipun dengan membaca al-Qur’an. Membaca bacaan sholat juga dilarang untuk dikeraskan sehingga mengganggu sebelahnya dalam shalat berjamaah. Untuk mengatasi agar masyarakat komunitas masjid tidak terlambat ikut jamaah, maka mereka dapat menyepakati berapa lama setelah adzan, iqomat dikumandangkan. Di Makkah Masjidil Haram sekitar 15 menit, di Masjid Nabawi setelah adzan subuh bisa sampai 25 menit, karena memberi kesempatan shalat sunnah sebelum subuh yang disabdakan Rasul saw sebagai nilainya lebih baik dari dunia seisinya (“khoirun minad dun-ya, wamaa fiiha”). Jadi janganlah sholat sunnah qobliyah shubuh ini ditinggalkan.
-        shalat 5 waktu berjamaah di masjid,
-        shalat sunnah qobliyah ba’diyah,
-        shalat tahajjud, dan shalat dhuha (kedua sholat ini meskipun sunnah, tetapi Rasul saw dan sahabat utama tidak pernah meninggalkannya),
-        puasa wajib dan sunnah (Senin, Kamis, Bidl – tgl 13, 14, 15 setiap bulan) dll
-        i’tikaf  di masjid selama Romadlon atau pada 10 malam terakhir
-        tadarus al-Qur’an dan memahami artinya serta melaksanakannya (KH. Bishri Mustofa mempopulerkan “Tombo Ati” yang kemudian dipopulerkan oleh MH. Ainun Najib dan penyanyi pop/rock Opick)
-        mengadakan majlis ta’lim untuk memahami al-qur’an, tatacara ibadah dan hukum-hukum Islam,
-        berdzikir sendiri yang banyak sampai menangis karena mengingat demikian besar salah dan dosanya,
-        mendoakan ayah ibu baik ketika hidup maupun sudah meninggal setiap saat atau minimal setelah shalat fardlu (bukan hanya kalau mau romadlon dan Idul Fitri),
-        setiap jum’ah mendoakan mohon ampunan bagi muslimin muslimat, mukminin mukminat,
-        zakat setiap tahun (sesuai nisabnya)
-        sodaqoh tanpa hitung-hitung (bahkan Abu Bakar Ash-Siddiq ra 2/3 hartanya, Umar bin Khottob ra separo hartanya,
-        takziyah dengan melakukan sholat jenazah, mengiringkan sampai ke kubur, mendoakan setelah selesai penguburan jenazah (pahalanya 2 qiroth, kalau hanya mensholatkan pahala 1 qiroth). Jadi kalau hanya datang lalu memasukkan amplop sumbangan tidak dapat 1 qirotpun, pahalanya terserah Allah. Namun jelas tidak ikut sunnah Rasul saw.
-        Menengok sudara yang sakit dan membantunya,
-        Datang jika diundang saudaranya dalam acara kebaikan/keluarga/ibadah,
-        memelihara atau membantu anak yatim,
-        jihad dalam segala bentuknya dan bahkan berperang dan ingin mati di medan perang, karena Allah swt menjamin surga bagi yang mati sahid
-        tabligh, menyiarkan dan mengajar agama Islam kepada keluarga, dan lingkungan di manapun berada.
-        Pantang mengambil barang atau hak orang lain atau dosa besar lainnya (di Jawa disebut mo limo),
-        Berdagang dengan jujur,
-        saling mengasihi sesama muslim (silaturrahim), saling berkunjung, saling membantu, bersatu padu saling menguatkan,
-        pantang ghibah, apalagi memfitnah saudara muslim. Pantang tidak saling tegur sapa.
Contoh amalan ibadah pokok tersebut jelas sahih dan tidak ada khilafiyah ulama. Semua sepakat bahwa itulah amalan yang bersumber dari Rasulullah saw.
Karena amalan-amalan pokok itulah yang pelakunya hanya mengharapkan ridlo Allah, bukan imbalan manusia atau mengharap pujian, maka Islam diterima umat manusia dan terus berkembang ke seluruh dunia. Pada akhirnya sampailah ke tempat kita ini yang jauhnya 11 jam penerbangan pesawat modern. Namun telah dilakukan orang yang saleh yang ikhlas berjuang karena Allah lebih dari 500 tahun yl, hanya menggunakan kendaraan perahu sederhana!

Muslimin rohimakumullah

Ampunan Allah swt juga disediakan dengan amat luas meskipun betapa besar dosa hamba Allah swt, asal setelah taubat tidak mengulangi dosa (taubatan nasuha). Dan bila seorang muslim tidak lagi melakukan dosa besar, Rasul saw menjamin dihapuskannya dosa antara shalat 5 waktu, antara shalat jum’ah dengan shalat jum’ah lainnya, puasa romadlon ke puasa romadlon lainnya. Sebagaimana sabda Rasul saw :
Shalat lima, jum’at ke jum’at, Romadlon ke Romadlon menghapuskan dosa diantaranya, ketika seorang hamba tidak melakukan dosa.

Muslimin rohimakumullah

Marilah kita simak amalan umat Islam yang ibaratnya mburu uceng kelangan deleg: menghafal ayat suci al-qur’an tetapi tidak tahu makna dan terlebih lagi penggunaannya tidak sesuai tuntunan Rasulullah saw. Melakukan shalat yang diyakini sunnah namun masih diperselisihkan para ulama  (khilafiyah) karena haditsnya tidak sahih. Sebaliknya mereka tidak melakukan shalat sunnah yang jelas telah sahih dan tidak ada khilafiyah ulama sebagaimana saya sebut tadi.
Shalat tarawih diusahakan benar untuk jamaah, tetapi shalat wajib 5 waktu tidak berjamaah. Akibatnya antara lain, masjid-masjid sunyi, hanya jum’atan banyak.
Tetapi ada pula yang datang shalat jum’ah sangat terlambat bahkan lalu duduk menghadap timur di pintu masuk masjid, menghadap ke timur, membelakangi khotib yang sedang membaca firman Allah swt!
Mengusahakan dengan mengeluarkan uang banyak untuk ziarah ke masjid-masjid yang terkenal, buatan para wali ataupun yang baru (Masjid Kubah Emas), tetapi masjid di lingkungan sendiri tidak dikunjungi untuk shalat berjamaah. Dan contoh-contoh lain, kami persilakan muslimin introspeksi diri.

Muslimin rohimakumullah

Kita mempunyai potensi besar untuk berubah menyesuaikan diri dengan ajaran Islam sebagaimana syahadat kita dan ikrar kita yang lain: rodlitu billahi robban dst (aku telah ridlo –bahasa umumnya ikhlas—Allah Tuhanku, Islam agamaku, Muhammad saw Rasulullah) dengan mengaji (belajar) terus, dan mempraktekkannya. Potensi itu ada di banyak tempat yaitu setiap malam jum’at dan jum’at sore masyarakat menyelenggarakan untuk Yasinan dan Tahlilan. Forum pertemuan ini bisa dikonversi menjadi majelis ta’lim dirosah islamiyah atau majelis ta’limul qur’an was-sunnah untuk belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah serta tanya jawab agama dengan pembimbing yang mumpuni.
Kalau umat Islam mengetahui ajaran Islam yang benar, dengan sendirinya amalannya akan berubah menyesuaikan ajaran yang benar itu, lalu dengan sukarela pastilah meninggalkan ajaran yang dikiranya berasal dari islam yang sebenarnya bukan.

Sebagai akhir khutbah firman Allah swt ini marilah kita tancapkan dalam qolbu kita:
“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan” (An-Nur [24]: 52)

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Ali-Imron 133)


Baarokallahu lii walakum fil qur’aanil ‘adhiem, wanafa’anii waiyyaakum bimaa fiihi minal aayati wadz-dzikril hakim. Wa taqobbalallahu minnii waminkum tilaawatahu innahuu huwas samii’ul ‘alim.

Aquulu qoulii haadzaa wastaghfirullaahal ‘adhiem lii walakum walisaa-iril muslimiina wal muslimaat wal mu’miniina wal mu’minaat fastaghfiruuhu innahuu huwal ghofuurur rohiim.


Contoh alaman yang berdasar landasan yang benar  dan amalan sebagian umat Islam yang umum dilakukan yang dasarnya kontroversi (khilafiyah) antara Imam/ulama

Amalan ibadah dan muamalah berdasar Al-Qur’an dan As-sunnah (hadits sahih)
Umum dilakukan, dasar masih khilafiyah atau dasar tradisi semata (tidak bernilai ibadah)
-        adzan (tanpa tambahan lafadz sebelumnya),











-        Shalat ketika memasuki masjid. karena banyak orang shalat setelah adzan maka tidak ada puji-pujian setelah adzan karena jelas Rasul saw melarang mengganggu orang yang sedang shalat meskipun dengan mabaca al-Qur’an. Setiap komunitas masjid dapat menyepakati berapa lama setelah adzan, iqomat dikumandangkan. Di Makkah Masjidil Haram sekitar 15 menit, di Masjid Nabawi setelah adzan subuh bisa sampai 25 menit, karena memberi kesempatan shalat sunnah sebelum subuh yang disabdakan Rasul saw sebagai lebih baik dari dunia seisinya (“khoirun mind dunya, wamaa fiiha”). Jadi janganlah ini ditinggalkan.
-        shalat 5 waktu berjamaah di masjid. Rasul saw bahkan dipapah ketika sakit, dan sholat dengan duduk berjamaah di masjid. Ketika sakit diwakili Abu Bakar, beliau menjadi makmumnya.
-        shalat sunnah qobliyah ba’diyah,
-        shalat tahajjud, dan shalat dhuha (kedua sholat ini meskipun sunnah, tetapi Rasul saw dan sahabat utama tidak pernah meninggalkannya),

-        tadarus al-qur’an, berusaha paham maknanya dan mengamalkannya

-        mengadakan majlis ta’lim untuk memahami al-qur’an, dan ilmu agama lainnya, sehingga Islam maju dan IPTEK agama & umum juga maju (ilmuwan/failosuf berasal dari Islam)
-        I’tikaf (di masjid) dan berdzikir sendiri (di masjid atau lainnya) dengan dzikir yang banyak sampai menangis karena mengingat demikian besar salah dan dosanya,




-        Shalat sunnah istisqo’ di lapangan

-        Shalat Id di lapangan
-        Shalat gerhana di masjid-masjid, karena tanda kebesaran Allah yang nyata adalah gerhana
-        Puasa romadlon dan puasa sunnah (Senin Kamis, Bidl, 10 Muharrom, 9 Dzul hijjah dll)
-        mendoakan ayah ibu baik ketika hidup maupun sudah mati setiap saat atau minimal setelah shalat fardlu (bukan hanya kalau mau romadlon dan Idul Fitri). Sabda Rasul saw: Kita hanya punya dua hari raya yaitu kedua Id. Jadi hari raya, bahkan sholat jum’at saja boleh ditinggalkan karena sudah ada sholat Id. Kenapa malah ke kuburan? Doa asal seagama, dari mana saja bisa sampai. Ziyaroh kubur waktunya kapan saja. Tetapi kalau dikerjakan di hari raya? Rasul saw belum pernah ada diriwayatkan berbuat begitu.
-        setiap selesai khutbah jum’ah mendoakan mohon ampunan bagi muslimin muslimat, mukminin mukminat,




-        zakat setiap tahun (sesuai nisab)

-        memelihara atau menyantuni anak yatim
-        sodaqoh tanpa hitung-hitung (bahkan Abu Bakar Ash-Siddiq ra 2/3 hartanya, Umar bin Khottob ra separo hartanya,


-        jihad dalam segala bentuknya dan bahkan berperang dan ingin mati di medan perang, karena Allah swt menjamin surga bagi yang mati sahid. Jihadnya wanita adalah antara lain haji mabrur

-        tabligh, menyiarkan dan mengajar agama Islam kepada keluarga, dan lingkungan di manapun berada. Membangun pondok pesantren dan madrasah-madrasah diniyyah (khusus agama, dulu sore hari)





















-        Takziyah yang benar adalah mensholatkan jenazah dan mengantar sampai kubur, lalu mendoakan setelah selesai penguburan
-        Pantang mengambil barang atau hak orang lain atau dosa besar lainnya (di Jawa disebut mo limo),




-        saling mengasihi sesama muslim (silaturrahim), bersatu padu saling menguatkan, bantu membantu.
-        Menambah lafadz sebelum adzan: “Subhaanallahi wal hamdulillahi walaailaaha illallahu wallahu akbar, walaa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adhiem. Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad w’alaa aali sayyidinaa Muhammad”. Ada juga yang nambah lagi “Allhu yaa kariem”, baru adzan. Ini ibarat menyaingi Rasul saw menciptakan tambahan lafadz adzan. Padahal yang paling berhak menyusun tatacara ibadah dan lafadznya hanya Allah swt dan Rasulullah saw.
-        Ada puji-pujian denga lagu-lagu. Jika Rasul saw melarang membaca al-qur’an jika ada saudara yang shalat, juga kalau berdampingan dengan jamaah dalam sholat jangan keras-keras doa/bacaan kita, mengapa malah puji-pujian keras-keras dengan loud speaker?
Ada pimpinan suatu masjid yang saya tanya mengapa ada pujian setelah adzan, katanya untuk memanggil jamaah atau ibarat “ngetem” kayak angkutan umum. Padahal adzan kan panggilan yaitu marilah melakukan sholat (hayya ‘alash sholaah……)

-        Banyak yang tidak berjamaah di masjid (sekali-sekali silakan anda ke simpang lima Semarang di masjid Baiturrahman untuk bukti)

-        Duduk-duduk, ngobrol saja di luar masjid
-        Tidak sholat tahajud tetapi sholat lain yang masih khilafiyah, bahkan berjamaah (Rasul saw bersabda: sholat sunnah afdholnya dilakukan di rumah – jadi sendirian. Sedang sholat fardlu afdholnya di masjid berjamaah)
-        Banyak menonton sinetron dan begadang di depan rumah, tepi jalan, warung nasi kucing atau prapatan-prapatan
-        Majelis dzikir untuk mengirim doa bagi arwah, porsi taushiyah (membagi ilmu agama) sangat sedikit

-        Berdzikir berjamaah di alun-alun, menangis bersama-sama (tidak ada praktek amalan ini di jaman Rasul saw dan sahabat). Hadits: 7 golongan yang dilindungi Allah di hari akhir dengan naungan-Nya antara lain yang bertafakkur sendirian, lalu menangis karena mengingat dosanya. Jadi yang di lapangan tidak ada haditsnya.
-        Di bagian tertentu di Jawa ada doa bersama di lapangan dan makan2 sedekah bumi

-        Ketika gerhana masjid sepi……


-        Puasa weton, puasa pati geni, puasa 40 hari karena disuruh “orang tua”
-        Mengirim doa dengan mengundang tetangga, dengan aturan hari-hari seperti agama lain (Hindu/Budha, satu sampai tujuh hari setelah kematian, 40, 100, mendak setahun, dst), mengadakan jamuan makanan bahkan ada yang berlebihan. Datang ke kuburan (ziyaroh) waktu sebelum romadlon (sya’ban atau ruwah dikenal sebagai nyadran), bahkan waktu hari raya Idul Fitri kuburan ramai…….



-        Meragukan contoh dari Rasul saw berdoa bagi ampuan sesama muslim dan mukmin, setiap akhir khutbah jum’ah ini. Terbukti banyak yang menyelenggarakan sendiri doa bersama dan kirim pahala (yang tidak dilakukan di jaman Rasul saw) tersebut di atas, dengan tatacara urutan hari agama lain
-        Tidak zakat malah umroh hampir setiap tahun
-        Tidak peduli anak yatim
-        Shodaqohnya kecil, tetapi ibadah sunnah banyak (memberi makan tetangga supaya mau mendoakan, yang benar memberi makan fakir miskin dan anak yatim), umroh setiap tahun padahal sunnah
-        Jihad dikira perang saja, lalu ada bom “jihad” dan media massa menyebutnya “bom bunuh diri”, sehingga menimbulkan antipati. Tetapi jihad lain menyurut karena lahir budaya Barat: materialisme, semua harus ada imbalan atau upahnya
-        Tabligh hanya dilakukan para ustadz, tetapi banyak yang tidak rutin, hanya diundang saat peringatan khusus, khutbah atau halal bi halal (bahkan dicampur band/hiburan) atau syukuran. Akibatnya sekarang kita saksikan:
-      Madrasah diniyyah (hanya khusus mengajarkan agama) tutup, bubar;
-      TPQ berhenti hanya sampai anak-anak bisa membaca (tepatnya melafalkan karena tidak tahu maknanya).
-      Pelajaran agama di sekolah juga ada yang diampu oleh guru agama yang hanya cari kerja, sehingga banyak guru agama tidak ada “ghiroh”nya, mengajar asal-asalan, karena memang gurunya ada yang tidak paham agama.
-      Generasi muda makin tidak Islami: buktinya ialah, ketika sore di bulan Romadlon malah keliling kota (ngabuburit, padahal doa justru sedang  makbul), promosi rokok dengan ngabuburit juga laris oleh generasi muda, lalu ketika malam likuran yang harusnya I’tikaf di masjid, malah kongkow-konkow di jalan atau simpang lima menjejer kendaraan ramai-ramai
-        Takziyah hanya datang, ngobrol lalu memasukkan amplop uang sumbangan

-        Banyak premanisme, penipuan, pencurian, pembalakan liar, pemalakan (minta tetapi memaksa), korupsi besar-besaran dan berjamaah. Minum oplosan bersama sampai mati. Zina bersama (pesta seks, bahkan homo dan lesbi), pesta sabu-sabu atau narkotik lain makin marak.
-        Silaturrahim memudar, persaingan dan permusuhan sesama umat akibat khilafiyah dan sistem politik (demokrasi bebas/pemilu, tetapi prakteknya politik uang). Diganti halal bi halal tahunan disertai hiburan dan makan-makan. Kolaborasi saling dukung dan menguatkan sebagai inti silaturrahim tidak dikerjakan
-        Menafkahkan harta karena kebutuhan, sehingga sederhana (zuhud), banyak sedakah karena perintah Allah dan Rasul-Nya jelas dan sangat banyak. Jadi untuk memenuhi kewajiban sosial dan untuk mencari ridlo Allah
-        Perintah sodaqoh di Al-Qur’an antara lain: Al-Baqarah 177, 262; An-Nisa’ 114. Kehebatan sodaqoh menurut Sunnah Rasul saw banyak diungkapkan dalam hadits sahih (tujuh golongan yang dilindungi Allah dalam mahsyar; sodaqoh untuk menolak balak, sodaqoh untuk menghapus dosa)
-        Memberi makan fakir miskin dan anak yatim (Surah ke 107 Al-Ma’un).
-        Menafkahkan harta berdasar kesenangan, kepuasan atau karena ingin dipuji (diperlihatkan kepada semua manusia), misal nggak ada perintah Rasul saw untuk “walimatus safar” kalau mau pergi haji, malah mengadakan dengan pesta yang mewah, seperti pesta perkawinan; jamuan makan dan berkat yang dibawa pulang dengan mewah. Ada juga yang menafkahkan harta untuk mengadakan ulang tahun kematian ayah ibu atau kekek neneknya, dengan jamuan makan dan hadiah-hadiah yang tidak manfaat (buku kenangan kematian, karena banyaknya ditumpuk di rumah). Ada juga yang memberi hadiah sajadah tetapi ditulisi “Peringatan ulang tahun kematian Bapak Fulan” tepat di tempat kening kita bersujud…….
-        Pengajian yang diadakan lebih untuk kepuasan, bukan untuk menuntut ilmu lalu diamalkan, maka dicarilah ustadz yang gaul, yang lucu, bahkan saru (jorok humornya), walaupun ilmunya sedikit
-        Akibatnya? Anak2 asing dengan ajaran Islam, misalnya:
-      kalau dengar adzan tidak menyahuti menirukan dan berdoa setelah adzan (karena tidak tahu betapa besar fadhilahnya, tidak pernah mengaji hal itu).
-      Ketika maleman likuran Romadlon yang seharusnya untuk I’tikaf di masjid, malah ke simpang lima dan jalan pahlawan, begadang sampai pagi, menjejer sepeda motor atau mobilnya
-       Lama-lama setelah generasi demi generasi, Islam hilang dari dada, lisan dan anggota gerak umatnya alias umatnya tidak tahu dan tidak mengamalkan


Disampaikan pada Khutbah Jum’at di Masjid PTP IX Semarang, pada hari Jum’at tanggal 8 Oktober 2010/29 Syawwal 1431 oleh Dr. H. M.Masyrifan Djamil, MPH., MMR (dengan pengembangan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar