Iftitah, hamdalah, syahadat, shalawat, dan saya berwasiyat kepada hadirin sidang jum’ah semua dan kepada diri saya sendiri, bertaqwalah kepada Allah swt dengan sebenar-benar taqwa. Dan janganlah meninggal dunia, kecuali dalam keadaan beragama Islam.
Muslimin rahimakumullah
Beragama Islam itu harus disertai akal dan ilmu, walaupun yang dimaksud dengan akal bukan berarti semua ajaran agama harus masuk akal, tetapi ada kecerdasan. Dengan kecerdasan dan ilmu yang benar dan cukup seorang muslim tidak mungkin anut grubyug (taklid) buta. Dia mengikuti dan tunduk patuh kepada ulama atau ustadz, karena tahu dan yakin yang disampaikan oleh ustadz/ulama yang diikutinya juga mengikuti taat dan tunduk patuh kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Jika ulama itu menyampaikan ajaran Islam, dia hanya sekedar mengutip dari Al-Qur’an dan as-Sunnah atau dari imam sebelumnya yang faqih ilmu agamanya. Jika perlu tafsir, ulama itu mengutip dari tafsir yang sahih dan dari sahabat utama Rasulullah saw, dan yang hidup semasa dengannya serta dari Ijma’ ulama.
Umat islam jangan sampai ditakut-takuti oleh "ulama" (atau yang dikira ulama) yang ingin menguasai supaya umatnya tergantung saja kepadanya. Misalnya kalau minta ampun kepada Allah harus dengan tatacara khusus atau melalui sang guru. Demikian juga kalau beribadah hanya meniru saja, tidak tahu mana yang sahih diperintahkan atau dilcontohkan oleh Rasul saw dan sahabatnya atau mana yang bukan dari Rasul saw. Akibatnya ia merugi, karena meninggalkan yang pokok, mengejar yang justru bukan berdasar dari Rasulullah saw. Ia ibarat “mburu uceng kelangan deleg” yaitu memburu ibadah yang kecil-kecil, sunnah yang dasarnya masih kontroversi (khilafiyah). Atau malah melakukan amalan yang dikira ibadah yang tidak ada tuntunannya dari Rasul saw, tetapi hasil olah (otak-atik) seseorang yang mengerti doa-doa dan ibadah Islam sedikit. Ada pula yang melakukan amalan mirip ibadah agama lain dalam hal tata hitungan harinya. Atau bahkan melakukan amalan baru yang didakwakan sebagai ibadah yang diada-adakan (bid’ah).
Muslimin rohimakumullah
Sebenarnya hubungan seorang muslim dengan Allah swt adalah langsung tanpa perantara dan Allah penuh kasih sayang (rahmat). Dia menyediakan ampunan yang besar, tidak terbatas dan kita bisa langsung memohon ampunanya. Sebagaimana firman-Nya:
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Hadid [57]: 21)
Jadi, marilah kita mandiri dalam berhubungan kepada Allah swt. Meskipun kita juga boleh meminta tolong saudara, anak, orang tua, kawan atau ulama untuk mendoakan kita. Tetapi yang paling pokok adalah kita harus yakin bahwa kita bisa memohon langsung kepada Allah swt, kapan saja, dimana saja. Asalkan doa kita untuk kebaikan, dengan tulus, dengan hati yang suci dan berserah diri kepada-Nya.
Muslimin rahimakumullah
Seseorang yang berdosa memohon ampun pasti diampuni Allah, asalkan dia memohon ampun kepada Allah dengan iman, sungguh-sungguh dan ikhlas, lalu memperbaiki kesalahan dengan melakukan amal saleh, insyaAllah akan diampuni:
Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, Maka Sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan Taubat yang sebenar-benarnya. (Al-Furqon [25]: 70-71)
Ampunan Allah disediakan terus kepada hamba-Nya, bahkan mulai dengan iman dan takut saja Allah mengampuni dosa:
Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (Al-Mulk [67]: 12)
Apalagi bila diikuti dengan melakukan amal saleh. Janji Allah itu pasti, marilah kita kaji beberapa ayat saja yang menggembiarakan kita:
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Fath [48]: 29)
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.(Al-Anfal [8]: 4)
Muslimin rahimakumullah
Syarat untuk memperoleh ampunan Allah adalah jangan melakukan dosa besar, khususnya yang sudah taubat, sbb:
Dan Hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang Telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga) (yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunanNya. dan dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (An-Najm [53]: 31-32)
Meskipun demikian, bila saudara telah terlanjur melakukan dosa besar, pintu ampunan masih terbuka. Rasul saw bersabda, apabila nyawa belum sampai tenggorokan (ghorghoroh), maka ia masih mendapat kesempatan untuk diampuni. Bila telah sampai ghorghoroh, maka pintu taubat sudah tutup.
Meskipun begitu Allah swt juga berfirman: “Janganlah engkau berputus asa mengharapkan rahmat Allah”, ketika Wahsyi serorang yang belum masuk Islam menulis surat kepada Nabi saw dia tertarik Islam tetapi dosanya sangat besar, lalu bertanya, apakah Allah akan mengampuni dirinya.
Rasul saw bersabda:
Shalat lima, jum’at ke jum’at, Romadlon ke Romadlon menghapuskan dosa diantaranya, ketika seorang hamba tidak melakukan dosa.
Marilah kita cermati bagaimana seseorang muslim ibarat “mburu uceng kelangan deleg” dalam hal meminta ampunan dan ibadah misalnya sebagai berikut:
- Melakukan upacara yang digelar di rumahnya, para tetangga diundang untuk berdoa bersama, mendoakan almarhum orang tuanya dan mengirim pahala. Tetapi anak-anak, dan saudara-saudaranya sibuk di ruang belakang menyiapkan makanan dan ada juga yang ngobrol sendiri. Bagaimana mungkin tetangga dan kerabat diminta berdoa sedang keluarga sendiri termasuk anak dari almarhum tidak mendoakan. Rasul saw bersabda, seorang yang mati terputus amalnya kecuali 3 perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang manfaat dan anak soleh yang mendoakan. Memang tetangga tidak dilarang mendoakan karena sesama muslim adalah saudara. Tetapi seharusnya anak, cucu, saudara ikut berdoa. Jangan malah repot di belakang.
- Hadir dan ikut dzikir yang disebut “akbar” di lapangan, ketika adzan dhuhur selesai dzikir, tetapi langsung pulang, tidak ikut shalat jamaah di masjid. Padahal lokasi alun-alun selalu berhadapan dengan masjid agung di kota-kota kita.
- Shalat tarawih berjamaah atau keliling di beberapa rumah atau masjid di bulan Romadlon. Tetapi tidak sholat berjamaah isya’ atau 5 waktu pada hari biasa dan pada bulan Romadlon. Biasanya acara tarawih keliling dibuka dengan buka bersama, makan makanan yang mewah-mewah. Tidak pernah terpikir untuk memberi makan fakir miskin.
- Mengadakan pesta yang dikemas dengan nama tasyakuran dan diberi nama baru “walimatus safarul hajj” (walimah untuk pergi haji). Seharusnya yang perlu dikerjakan jammah haji adalah pamitan di lingkungan (RT/RW) dan keluarga dekat, dan meminta maaf serta mohon didoakan keselamatannya. Jadi tidak perlu banyak biaya dan berkesan bermewah-mewah. Target utama haji adalah mabrur, dan tentu acara pesta demikian tidak berpengaruh terhadap hasil haji itu mabrur atau tidak. Juga kalau menganut agama Islam yang benar, satu-satunya walimah (pesta untuk makan bersama) adalah walimatul ‘urusy untuk merayakan dan mengumumkan pernikahan anak atau keluarga dengan mengundang tetangga dan sanak saudara, tanpa membedakan status sosialnya. Daripada untuk walimatus safar yang jelas “ngarang” ini, lebih baik jika untuk sodaqoh kepada fakir miskin atau memberi makan anak yatim atau menyumbang pembangunan madrasah, ponpes atau masjid. Pahalanya akan terus mengalir walaupun pelakunya sudah mati..
Padahal sabda Rasulullah saw:
Lima shalat yang diwajibkan Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, barangsaiapa melakukan wudlu dengan sempurna dan melaksanakan shalat pada waktunya, ruku’ dan sujudnya dengan khusyu’ secara sempurna, memperoleh janji dari Allah akan mendapat ampunan-Nya. Barangsiapa yang tidak melakukan hal ini, tidak akan mendapatkan janji ampunan dari Allah. Jika Allah berkehendak, dia akan diampuni atau ia akan diazab (Sahih Abu Dawud, hadits nomor 451 dan 1276)
Saya yakin, jika umat Islam mau belajar (mengaji) dengan sungguh-sungguh, rutin dan dari sumbernya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, diperkaya dengan sejarah para sahabat serta pendapat asli para imam madzhab, pastilah umat akan dengan sukarela membuang tatacara yang dianggap ibadah yang sesungguhnya tidak ada dasarnya, atau perintahnya atau contohnya dari Rasul saw. Karena para imam justru telah berwasiat agar umat yang mengikuti fatwanya membuang fatwa atau pendapatnya jika suatu saat fatwanya itu bertentangan dengan hadits sahih (asli dari Rasulullah saw) yang ditemukan ulama lain. Walaupun imam itu sudah meninggal dan tidak membaca hadits shahi itu.
Firman Allah swt:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Ali-Imron 133)
Baarokallahu lii walakum fil qur’aanil ‘adhiem, wanafa’anii waiyyaakum bimaa fiihi minal aayati wadz-dzikril hakim. Wa taqobbalallahu minnii waminkum tilaawatahu innahuu huwas samii’ul ‘alim.
Aquulu qoulii haadzaa wastaghfirullaahal ‘adhiem lii walakum walisaa-iril muslimiina wal muslimaat wal mu’miniina wal mu’minaat fastaghfiruuhu innahuu huwal ghofuurur rohiim.
Disampaikan pada Khutbah Jum’at di Masjid Al-Kautsar, Jl. Cempolorejo V Semarang, 24 September 2010/15 Syawwal 1431 oleh Dr. H. M.Masyrifan Djamil, MPH., MMR., dengan tambahan seperlunya dan editing setelahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar