Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Minggu, 24 Oktober 2010

APA YANG PERLU ANDA KETAHUI TENTANG HIV/AIDS

APA YANG PERLU ANDA KETAHUI TENTANG HIV/AIDS

Di seluruh dunia diperkirakan ada 33 juta orang yang terinfeksi HIV. Diantaranya 2 juta orang meninggal dunia karena AIDS. Telah menjadi fakta bahwa penyakit yang paling besar menyebabkan menurunnya produktivitas penduduk adalah HIV/AIDS, terutama di Afrika. Sejak HIV ditemukan 28 tahun yl, ada 25 juta orang yang meninggal akibat penyakit HIV dan kaitannya. Pada tahun 2005 jumlah kematian di seluruh dunia ada 2,2 juta orang, berhasil menurun menjadi 2 juta orang tahun 2007 karena pengobatan ARV (Anti Retro Virus).  Meskipun telah ada pengobatan HIV/AIDS yang efektif, terbukti dengan menurunnya jumlah kematian akibat AIDS tersebut, namun perkiraan jumlah penderita HIV baru adalah 2,5 kali lebih besar daripada pertambahan jumlah orang yang mendapat pengobatan ARV. Bagaimana data di Indonesia? Dapat dibaca pada artikel berikutnya (di bawah).


Apakah Penyakit HIV/AIDS itu?

Adalah penyakit yang disebabkan virus HIV yang menyerang sel-sel pertahanan tubuh (antara lain sel T Limfosit) penderita menyebabkan daya tahan tubuh (imunitas) berkurang dan akhirnya kehilangan imunitasnya, sehingga mudah terkena infeksi à walaupun mikroba flora normal/commensal
bersifat menahun dan berakhir dengan AIDS dan kematian
Umumnya antara 2-5 tahun; ada juga yang bertahan sampai 10 tahun

Apakah penyebabnya?

Penyebab HIV adalah virus HIV
-        Lentivirus; Anggota dari Retrovirus
-        Virus ini menyerang sistem kekebalan manusia (Immune System). Slow Virus- Very “Slow Rate” of  infection.
-        Studi virus 1981, diidentifikasi pertama 1983
-        1984 virus HIV dipastikan sebagai penyebab       AIDS.

Dimana Virus HIV berada dalam tubuh?

Virus ini ada di dalam darah penderita, di nodus / kelenjar limfe, mucosa saluran nafas, mucosa mulut sampai saluran cerna dan genital dll à maka HIV bisa ditularkan melalui:
-        Darah
-        Cairan sperma
-        Cairan Vagina
-        Air Susu Ibu (ASI)
-        Dalam kead tertentu cairan mulut.

Bagaimana cara penularannya?

Dari fakta ini, maka cara penularan virus HIV adalah:
-        Melalui suntikan/infus yang habis dipakai untuk menyuntik / menginfus orang sakit HIV positif atau AIDS
-        Tindakan (yang mengeluarkan darah) dg alat yang tidak steril (terkontaminasi dengan HIV), lalu digunakan untuk orang sehat
-        Hubungan sex (homo atau hetero), dari orang sakit HIV positif atau AIDS dengan orang sehat
-        Vertikal yaitu melalui plasenta dari ibu hamil HIV positif ke janinnya, atau ibu HIV positif menyusui anaknya
-        Hasil penelitian pada “french kissing” juga bisa menular.

Di Negara maju (Barat) cara penularan HIV adalah:
-        Needle Infection (40,1%)
-        Unsafe Intercourse (38,4%)
-        Blood Transfusion dll (2,1%)
-        Infected Mother to baby (19,4%)

Sedangkan di Indonesia berdasarkan penelitian dan analisa laporan dari lembaga pelayanan kesehatan dan RS yang diolah Depkes, pola penularannya adalah sbb:
-        Heteroseksual (50,3 %)
-        Injeksi pada pengguna narkoba (IDU) 40,3%
-        Homoseks (3,3%)
-        Perinatal/Plasenta & ASI (2,8%).

Bagaimana cara virus ini berkembang biak?

Secara umum virus HIV masuk ke dalam sel T Limfosit (CD4), lalu mengurai dirinya, dan mengcopy RNA sel yang dimasuki, lelu memotong-motong cukup untuk membuat virus baru, bahan lain juga diambil dari sel T itu, untuk asembling ini. Lalu ribuan, jutaan bahkan milyaran virus baru lahir.


Bagaimana Perjalanan Penyakit HIV/AIDS?

Dari gambar di atas, garis menggambarkan jumlah virus dalam darah (Plasma Viremia Titer atau viral load), dan garis titik-titik adalah turunnya sel T limfosit (CD4)/mm3.
Masa akut atau Infeksi primer hanya beberapa hari sampai sekitar 1 bulan setelah infeksi virus (masuknya virus ke dalam tubuh)
Sampai bulan ke ke 6 virus berkembang biak dengan cepat dan mencapai puncaknya. Masa-masa ini adalah sangat potensialnya penularan virus HIV dengan jalan tersebut di atas.
Pada masa akut, ada masa dimana pemeriksaan serologis terhadap virus hasilnya negatif (padahal virus sudah ada di dalam tubuh). Periode ini disebut window period (periode jendela).

Periode Jendela (window period)
-        Tes HIV masih negative (HIV - )
-        Virus HIV sudah ada tapi belum terbentuk antibodi HIV yang cukup di dalam tubuh à sgh tidak terdeteksi oleh Pemeriksaan Laboratorium Serologi (ELISA)
-        Pasien  mampu menularkan HIV ke orang lain à menurut penelitian : justru sangat menular
-        Terutama lewat:
§         Hubungan seksual
§         Jarum suntik pada IDU (Injection Drug User)
§         Transfusi darah
(Sumber : Muchlis AU Sofro, RSDK Semarang 2006, dengan modifikasi).

Setelah 6 bulan periode selanjutnya adalah khronis atau laten (Clinical latency), di Indonesia sekitar 2-5 tahun, di negara maju bisa sampai 8/10 tahun. Pada saat itu jumlah CD4 sudah turun terus, sampai di bawah 350. Gejala kelemahan daya tahan mulai muncul yaitu disebut infeksi oportunistik.

Infeksi oportunistik adalah infeksi oleh kuman atau mikro-organisme yang sebenarnya hidup berdampingan dengan orang sehat atau bahkan ada pada tubuh manusia tanpa menimbulkan penyakit (commensal), tetapi karena penderita HIV daya tahannya merosot, maka kuman berhasil menimbulkan penyakit. Jika CD4 makin turun dan penderita kewalahan mengahadapi infeksi virus, maka penderita HIV (ODHA) jatuh ke stadium AIDS (Acquired Immunodeficiency Disease Syndromes).
Jenis infeksi oportunistik ini dapat dilihat pada tabel yang berasal dari WHO sebagai stadium penyakit tersebut di bawah

Stadium HIV/AIDS menurut WHO:
Stadium Klinis I
-        Tanpa gejala (asimtomatis)
-        Limfadenopati generalisata persisten à PGL (Persistent Generalized Limphadenopathi)
-        Kehilangan berat badan yang sedang tanpa alasan (<10% berat badan diperkirakan atau diukur)
Stadium Klinis II
-        infeksi saluran napas bagian atas yang berulang (sinusitis, tonsilitis, ototis media dan faringitis)
-        Herpes zoster
-        Kheilitis angularis
-        Ulkus di mulut yang berulang
-        Erupsi papular pruritis
-        Dermatitis seboroik
-        Infeksi jamur di kuku.
Stadium Klinis III
-        Kehilangan berat badan yang parah tanpa alasan (>10% berat badan diperkirakan atau diukur)
-        Diare kronis tanpa alasan yang berlangsung lebih dari 1 bulan
-        Demam berkepanjangan tanpa alasan (di atas 37,5°C, sementara atau terus-menerus, lebih dari 1 bulan)
-        Kandidiasis mulut berkepanjangan
-        Oral hairy leukoplakia
-        Tuberkulosis paru
-        Infeksi bakteri yang berat (mis. pnemonia, empiema, piomiositis, infeksi tulang atau sendi, meningitis atau bakteremia)
-        Stomatitis, gingivitis atau periodontitis nekrotising berulkus yang akut
-        Anemia (<8g/dl), neutropenia (<0,5 × 109/l) dan/atau trombositopenia kronis (<50 × 109/l) tanpa alasan
Stadium Klinis IV:
-        Sindrom wasting HIV
-        Pneumonia Pneumocystiis
-        Pneumonia bakteri parah yang berulang
-        Infeksi herpes simplex kronis (orolabial, kelamin, atau rektum/anus lebih dari 1 bulan atau viskeral pada tempat apa pun)
-        Kandidiasis esofagus (atau kandidiasis pada trakea, bronkus atau paru)
-        Tuberkulosis di luar paru
-        Sarkoma Kaposi (KS)
-        Infeksi sitomegalovirus (retinitis atau infeksi organ lain)
-        Toksoplasmosis sistem saraf pusat
-        Ensefalopati HIV
-        Kriptokokosis di luar paru termasuk meningitis
-        Infeksi mikobakteri non-TB diseminata
-        Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML)
-        Kriptosporidiosis kronis
-        Isosporiasis kronis
-        Mikosis diseminata (histoplasmosis atau kokidiomikosis di luar paru)
-        Septisemia yang berulang (termasuk Salmonela nontifoid)
-        Limfoma (serebral atau non-Hodgkin sel-B)
-        Karsinoma leher rahim invasif
-        Leishmaniasis diseminata atipikal
-        Nefropati bergejala terkait HIV atau kardiomiopati bergejala terkait HIV

Pemeriksaan Laboratorium:
Orang yang menderita HIV positif (Orang Dengan HIV/AIDS atau ODHA), dapat diketahui (didiagnosis) dengan pemeriksaan laboratorium sbb:
-        Pemeriksaan darah serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV:
o       Serologis 3 kali metode ELISA dengan reagen berbeda positif
o       Dahulu 1 kali serologis metode ELISA, lalu dikonfirmasi dengan pemeriksaan lab metode Western blot
-        Pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui stadium/perjalanan penyakit atau memonitor efek terapi:
n      Jumlah limfosit dan CD4 (CD4 count)
n      Viral load.

Apakah HIV bisa diobati?

Sampai sekarang belum ada obat bagi HIV/AIDS yaitu virus HIV belum bisa dibunuh atau dilenyapkan dari penderitan HIV/AIDS. Pengobatan dengan ARV (Anti Retro Virus) hanya menekan agar virus tidak melakukan replikasi, sehingga tidak dapat dideteksi laborat (viral loadnya) dan terjadi rekonsitusi sistem immun dengan tanda CD4 nya meningkat sampai lebih dari 350 / 500.

Kapan penderita harus diobati?

Jika telah ada infeksi oportunistik harus diobati infeksinya itu dan diobati dengan ARV sesuai anjuran WHO yaitu jika jumlah CD4 turun sampai 500.

Dimana dapat memeriksakan diri dan mendapat Obat ARV?

1.      RS yang ditunjuk melakukan pelayanan kepada HIV/AIDS (umumnya di kota-kota besar)
2.      Klinik VCT (Volunteer Counselling and Testing).

Bagaimana melakukan pencegahan terhadap HIV?

Pencegahan dilakukan oleh semua pihak:
Intinya adalah memutus rantai penularan, sehingga sangat minimal pasien baru HIV/AIDS atau tidak ada sama sekali jika mungkin, dengan cara:
1.      Pemerintah (semua level, termasuk jajaran kesehatan Pusat sampai Daerah) memberikan dana yang cukup untuk kegiatan promosi kesehatan (pendidikan kesehatan, termasuk brosur dan majalah gratis, siaran Radio/TV), penemuan kasus, pengobatan gratis pasien HIV/AIDS, Penelitian (termasuk khasiat tanaman obat /herbal untuk pengobatan HIV/AIDS dan Penghargaan (bagi siapa saja yang berjasa memberantas HIV/AIDS)
2.      RS/Pelayanan kesehatan : wajib menggunakan alat operasi/tindakan medik/tindakan keperawatan/tindakan kebidanan/laboratorium dll dengan alat dan jarum suntik steril sekali pakai, atau disteril ulang sesuai standardnya; Ruang Isolasi; Laboratorium; Pencegahan Infeksi Nosokomial dll.
3.      Penderita: berobat dengan baik, dan menggunakan kondom jika berhubungan seksual dengan pasangannya (kecuali pasangan ikhlas).
4.      Orang yang sehat : melakukan ABC untuk mencegah agar tidak tertular HIV/AIDS
-        A : abstinency à tidak melakukan hubungan seksual jika belum menikah, atau berpisah oleh jarak dll.
-        B : be faithfull à setia kepada pasangan yang sah (suami/istri), tidak melakukan hubungan seks kecuali dengan pasangan yang sah. Jika orang tidak setia, sebenarnya dia membahayakan dirinya sendiri dan pasangan atau keluraganya. Karena jika dia HIV positif, maka akan menular kepada pasangannya.
-        C : jika A dan B tidak bisa, terpaksa melakukan hubungan seks, maka pakailah condom.

Daftar Pustaka
1.      UNAIDS. 2008. Report on the Global Epidemic HIV/AIDS epidemic 2008: executive summary. www.unaids.org.
2.      Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan RI. 2010. Laporan Triwulan Situasi Perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia sampai dengan 31 Desember 2009.
3.      Levy, J. A. 1993. Pathogenesis of Human Immunodeficiency Virus Infection. Microbiological Review, Mar.1993, p. 183-289.
4.      Levy, J. A. 2006. HIV Pathogenesis: Knowledge Gained after Two Decades of Research. Adv Dent Res 19:10-16, April, 2006
5.      Levy, J. A. 2009. Not an HIV cure, But Encouraging New Directions. N ENG J MED February, 2009: 274-275.
6.      Abbas, A. K., Lichtman, A. H. 2003. Cellular and Molecular Immunology. 5th edition. Saunders, Philadelphia.
7.      Fauci AS. 1988. The Human Immunodeficiency Virus: Infectivity and Mechanisms of Pathogenesis. SCIENCE, 1988; VOL. 239: 617-622.
8.      WHO. 2009. WHO case definitions of HIV for surveillance and revised clinical staging and immunological classification of HIV-related disease in adults and children. www.who.int/hiv.
9.      Sumber bacaan lain berkaitan dengan HIV/AIDS dari Perpustakaan, Seminar dan Internet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar