Sungguh perjalanan yang sangat panjang kalau kita harus menempuh lebih dari 15.000 km. Lewat jalan udara kita menempuh 45 menit Semarang – Jakarta, di Bandara Cengkareng 5 jam, lalu 1,5 jam ke Singapura, 1,5 jam di Changi airport, lalu ke Hotel Le Meridien. Berapa jam di Le Meridien? Dari jam 20.00 (waktu setempat) sampai jam 3.45. Luar biasa, bus antaran ke Bandara (shuttle bus) bergerak rodanya tepat pada jam 3.45! Roda pesawat Northwest mulai bergerak ke Narita, Tokyo pada jam 6.05 pada tanggal 30 Oktober 2001. Perlu waktu 6 jam ke Narita. Jam 13.40 mendarat di Narita. Namun karena antrian panjang bersama ex penumpang dari pesawat Northwest dari kota lain di dunia, tidak bisa tepat terbang ke Detroit jam 14.35. Juga karena kerusakan radio komunikasi dan harus diperbaiki, pesawat baru bisa terbang jam 15.35 waktu Tokyo.
Antrian berjalan lancar, karena tidak ada satupun penumpang ingin didahulukan. Kedua, karena petugas cerdik mengaturnya (dimuat pada Bulletin Oktober 2001), yaitu membawa tulisan nomor kursi yang harus masuk duluan. Ketiga, karena tidak satupun petugas berbicara atau bercanda, semua serius melayani dengan cekatan setiap penumpang. Di pesawat kita duduk lebih dari 1 jam menunggu perbaikan radio. Pilot berulangkali memberitahukan kemajuan perbaikan dan sekaligus meminta maaf. Dia minta waktu sedikitnya 1 jam, lalu menunda mungkin 2 jam, tetapi crew teknik dan bantuan dari bandara akan bekerja yang terbaik (We will do our best to finish fixing that problem). Pilot memberitahukan keberhasilan lebih cepat dari dugaan, maka jam 15.35 pesawat mulai menuju landasan take off, dan perlu waktu 10 jam 30 menit mencapai Detroit, AS.
Pesawat mendarat di Detroit jam 13.00 tanggal 30 Oktober 2001, terlambat 1 jam karena masalah tadi. Jadi karena pesawat berjalan ke barat, masih menemui hari yang sama. Seharusnya di Detroit pesawat Northwest nomor penerbangan 690M jam 13.37 harus saya naiki menuju Providence. Tapi karena keterlambatan tersebut, saya baru bisa naik pesawat berikutnya yaitu jam 17.15. Wah perlu duduk-duduk lagi di bandara yang baru dikenal selama 5 jam lebih! Mau apa ya? Oya sejauh ini belum ada jawaban dari Brown University apakah ada yang menjemput. Gaya Amerika adalah mandiri, apa ada yang menjemput? Kalau begitu telepon dulu ke koordinator Trainingnya yaitu Sharon D’antuono di Providence. Lho dengan apa? HP tidak nyala untuk internasional, kartu telepon USA tidak ada. Omong-omong dengan mahasiswa dari China bernama Fein Yu ternyata dari Brown University tetapi Fakultas Teknik. Dia tahu Fakultas Kedokteran, dan alhamdulillah membantu menelepon dengan cell-phone (HP). Dia hanya mendapat nama jalan dari lembaga yang mengundang saya. Dia membantu interlokal!
Ketika lapar, mudah menemukan restoran fastfood : Bagel (sandwich/burger bakar, jadi rotinya lebih keras). Nah ada kartu telepon, tetapi yang jualan adalah mesin (AT&T). Sudah ada tulisan cara kerjanya yaitu masukkan USD 10, 20 atau 40 pada lubang yang sesuai. Tetapi karena ragu, saya berusaha menanyakan kepada seseorang yang sedang duduk di dekat mesin itu. Dengan cepat dia membantu, walaupun dia belum pernah tahu. Sarannya, masukkan uang anda di lubang yang sesuai. Saya masukkan 20 dollar, langsung mesin menyedotnya dan keluarlah kartu telepon prabayar 20 dollar (disini dikenal dengan istilah PONPIN). Saya ucapkan terima kasih dan segera menikmati makan siang. Lalu bingung mau telepon dimana? Nah sebelah saya seorang negro, saya tanya, saya ada kartu telepon, dimana bisa telepon? “You can use any phone anywhere”. Thanks. Saya ke telepon umum, menelepon IHI Brown University, diterima Gery (Geraldine). Wah sayang dia tidak tahu urusannya, karena yang saya fax dan e-mail itu Sharon, tetapi dia membantu memberi nomor telepon Sharon.
Sampai di airport Providence sudah malam, jam 7.00 PM. Kemana dan naik apa ya? Ok, saya telepon dulu Sharon. Kebetulan dia tidak ada, tetapi suaminya mau membantu mengontak Sharon sedang ada dimana sekarang, karena ada berbagai acara. Ternyata di rumah ortunya dan ketika saya ulang telepon, dia memberi nomor teleponnya sekalian. Sharon sungguh surprise, karena perkiraannya akan sulit bagi orang Indonesia ke USA, akibat peristiwa 11 September di NY. Dia memberi solusi : membantu mengirim taxi ke Bandara (WALSH Cab, taxi disana disebut cab) dan penginapan semalam sebelum ke apartemen yang disediakan. Saya ke Brown Inn di 101 Thayer Street, diterima dengan baik, tanpa birokrasi dari petugasnya, karena Sharon sudah menelepon (jadi tanpa surat-suratan), dan mendapat kamar setara hotel bintang 3. Tanpa banyak tanya petugas (seorang nenek kira-kira umur 65 tahun tapi masih trennginas) memberi kunci dan memberi tahu arah ke kamar. Setelah tahu saya baru datang dari Indonesia, karena dia menanyakan mobil saya diparkir dimana, dia memberi apresiasi Wah anda pasti sangat lelah dan biasa : greeting a la Amerika have a good sleep.
Kesulitan kita adalah karena sumber daya (resources) kita di Banjarnegara (sangat) terbatas. Akses komputer ke internet lebih sulit. Faximile dikerjakan di Semarang dan ternyata tidak sampai. Saya tidak berhasil mengakses e-mail nya Sharon dari Banjarnegara. Baru berhasil dari Singapura. Namun karena keterlambatan pesawat dan tidak yakin saya akan datang (karena kesulitan visa mereka sudah tahu), penjemputan tidak dilakukan. Namun dengan cepat penyesuaian dilakukan, sehingga tugas berhasil dikerjakan. Seorang staf mendapat kewenangan untuk memutuskan dan dia berani memutuskan dengan cepat dan dengan hasil yang baik (tepat). Saya di Detroit dan di airport Providence sudah menerima saran Fein Yu untuk mencari taksi dan menuju hotel milik Brown University. Saya sudah membayangkan akan membayar sekitar 20 dollar untuk taxi dan 50 dollar untuk penginapan. Wah! (anda tahu mengapa kan?). Alhamdulillah ada jalan keluar.
Dalam dunia komputer dan buku yang modern selalu ada fasilitas HELP, untuk memperoleh bantuan dari pembuat program (komputer), untuk memperoleh bantuan dari pengarang atau penerbit (buku), tentang segala masalah pengguna komputer dan buku. Ambil contoh Microsoft, anda mengenalnya lewat WORD, EXCEL, POWERPOINT, paling kanan dalam deretan menu dalam layar komputer anda adalah Help. Seorang pemula pengguna komputerpun sebenarnya bisa bekerja dengan program tersebut, asal dia mengerti bahasa Inggris (ya lahirnya iptek tidak di Indonesia sih, kita harus maklum banget). Kita dapat membayangkan bagaimana pembuat program membayangkan bagaimana membantu memenuhi kebutuhan pengguna. Lewat berbagai survey dan umpan balik (JADI MICROSOFT MINTA PENDAPAT PELANGGANNYA KAN?) serta trial dengan kerja ekstra keras, pembuat program menyusun Word, Excel dan Powerpoint tersebut menjadi USER FRIENDLY (mudah digunakan oleh penggunanya). Ini sangat terasa kalau anda telah lebih dari 10 tahun menggunakan komputer, misalnya Word Star (WS) dll di tahun 80 an.
Dengan ketepatan waktu (punctuality) yang luar biasa mereka bekerja, sehingga tiap tahun lahir berbagai versi (Microsoft office tahun 2000 ada beberapa versi, misalnya 2000, Premium, dll). Bahkan sekarang telah lahir Window ME, dengan segala kemudahannya. Dari kisah : Airport Changi, Hotel Le Meridien, Sopir shuttle bus hotel ke airport, kesibukan petugas di bandara Tokyo, Detroit dan Providence, Sharon D’antuono koordinator training IHI Brown University atau pemilik dan pengelola Microsoft Office (komputer), tergambar betapa hebatnya pengelolaan (manajemen dan organisasi) di balik semua itu. Yang paling sempit scopenya adalah Sharon, di bidang ketata-usahaan IHI, bagaimana ia dengan cakap mengurus undangan (akhir Agustus sudah saya terima via FedEx), menyiapkan dokumen yang perlu, jadwal, penginapan (apartemen), taxi (langganan untuk trainee adalah WALSH cab), dll.
Diperlukan komponen dasar manajemen : komunikasi, kepemimpinan, kerendahan hati (mengakui pekerjaan orang lain dan menghargainya), kesabaran, kerjasama (bukan amuk-amukan atau gerudel-gerundelan atau komentar yang pedes-pedes di belakang orang, ah apalagi sampai menggebrak meja, mungkin ada cara lainnya, bukan karena takut, tapi kan pemecahan yang dicari, bukan jalan buntu), ketekunan, kerja keras, pengetahuan, ketrampilan. Kepemimpinan terlihat paling dasar, karena dengan kepemimpinan akan lahir banyak hal yang asasi untuk berjalannya organisasi dengan benar dan efektif. Lihatlah bagaimana efektifnya Microsoft yang sangat kreatif dan produktif, dengan hasil produk yang sungguh bermanfaat bagi umat manusia dan keperluannya. Kepemimpinan melahirkan kepedulian (care), tanggung jawab, terkendalinya semua hal : bicara, menulis, bekerja, mulai bekerja, di tengah sedang bekerja dan akhir bekerja. Di komputer juga tercermin yang terakhir ini : booting, processing, finishing diakhiri dengan prosedur shut down. Kalau tidak demikian, akan ada kerusakan.
Providence, Rhode Island,11 Nopember 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar