Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Senin, 13 September 2010

Surat dari Amerika: PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT = PENGUASAAN INFORMASI

Dunia sekarang dicekam oleh ketakutan terhadap berbagai penyakit, baik menular maupun tidak menular. Ketika negara maju sudah berkurang bebannya terhadap penyakit menular tertentu yang diasosiasikan sebagai penyakit menular negara dunia ketiga, misalnya diare, malaria, demam tifoid dll, ternyata hanya bergeser beban itu oleh penyakit lain yang tidak menular namun belum ditemukan pengobatan yang tepat yaitu misalnya jantung koroner, stroke, kencing manis, hipertensi dll. Belum lagi ada penyakit menular yang baru muncul atau “reemerging diseases” yang kebanyakan disebabkan oleh virus, misalnya hepatitis B, C, HIV (sekitar 1981), ebola, dll. Maka muncullah disiplin ilmu yang relatif muda yaitu “the burden of the diseases”, yang mengkalkulasi beban dan kerugian yang timbul akibat berjangkitnya penyakit dalam suatu komunitas atau negara.
Belum lagi ketakutan terhadap terorisme biologis yang antara lain disebarkan dengan cara menyebarkan kuman tertentu, yang lagi popular di USA sekarang adalah anthrax. Dengan begitu manusia tidak pernah lepas dari ketakutan terhadap ancaman penyakit, identik dengan kerusakan atau kehilangan nyawa. Bagi yang beragama Islam akan sangat kontekstual membicarakan ini, karena sehari semalam tidak pernah lepas dari do’a agar dihindarkan dari musibah, kejelekan dan selalu diberi kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Relevansi do’a ini menjadi kuat sekali manakala kita banyak membaca dalam pengertian luas yaitu “to explore” atau “to observe”. USA pun setelah dihentakkan oleh peristiwa getir dan memilukan dengan hancurnya gedung pencakar langit kembar WTC, tumbuh energi spiritualnya: semua pemimpin semua level dan rakyatnya secara luas dan diliput oleh media massa, berdo’a. Kata teman saya: ini sesuatu yang baru.

 
Kita di Banjarnegara juga selalu terancam oleh berbagai musibah yang skenarionya bukan kita yang membuatnya. Dalam kurun waktu 80an kita sering dikejutkan oleh “wabah” keracunan tempe bongkrek, muntaber, malaria. Dalam khasanah bencana alam, selalu ada saja kejadian tanah longsor, angin puyuh dll. Di era sekarangpun kita masih demikian. Baru saja reda musibah wabah malaria di beberapa desa di Purwonegoro, kita mengenalnya dengan wabah malaria di Merden dan sekitarnya. Ini pasti belum berhenti, karena factor-faktornya masih ada disekitar kita. Para petugas kesehatan mulai sekarang perlu segera bebenah untuk bergelut dengan semua itu. Pekerjaan  ini tak ubahnya sebagai petugas di metereologi, wartawan, pebisnis dan politikus, serta angkatan perang. Mengapa demikian? Mencegah suatu penyakit, mutlak diperlukan ilmu tentang penyakit itu, dan perhitungan-perhitungan yang berkaitan dengan prediksi, prakiraan atau ramalan atau estimasi.
Mengapa seorang pakar ramalan cuaca bisa akurat mengatakan besok kemungkinan suhu minimal sekian, maksimal sekian, kelembaban sekian, hujan atau gerimis akan turun di kota ini dan itu? Mengapa seorang pedagang tahu persis berapa banyak dan apa saja jenisnya yang harus dikirim ke pasar anu pada hari H pasaran P? Mengapa wartawan sabar menunggu di suatu lokasi siap dengan kamera dan bloknote serta ballpoint untuk “mencegat” calon berita yang akan dimuat di korannya? Mengapa George Bush dapat optimis menang pemilu melawan rivalnya? Mengapa Sony meluncurkan Play Station 2, ketika dekat Micosoft meluncurkan hardware dan software game nya? Mengapa waktu malam hari pesawat USA dengan relatif mudah menyerang dengan rudalnya sasaran yang dikatakan “selected target” yang tidak membahayakan sipil? (ya relatif, tapi luar biasa, kerusakannya tidak sehebat Vietnam. Mereka sudah belajar banyak dari Vietnam).
Jawabannya adalah penguasaan informasi. Bagaimana data diolah, disortir, difile yang benar, lalu dianalisa, menjadi suatu informasi yang berharga, dan juga disimpan untuk kebutuhan nanti kapan-kapan dan kapan saja kita membutuhkan. Maklum lah kita para praktisi, informasi yang kita kumpulkan kadang-kadang tidak cukup untuk membuat analisa yang tepat yang bersifat prediktif. Apa akibatnya? Kita sering terkejut atas suatu peristiwa yang “tidak terduga”. Betapa miskinnya kita dalam hal pendataan, pengolahan dan analisa data menjadi informasi, dapatlah kita lihat masing-masing arsip dan produk analisa kita, katakanlah kalau unit anda sudah berumur 25 tahun (bisa DKK, Puskesmas atau RSUD). Kita merasa tidak memerlukannya bukan? Padahal itu hulu dan muara dari kegiatan.
Ini contoh simple: Bagaimana tubuh kita tahu kalau perlu sepiring nasi dan wujudnya diinginkan nasi gudeg dengan lauk ayam goreng, dimana tempatnya, kalau jajan berarti berapa bayarnya, kalau tidak ada pendataan (data dasar dan terkait: jumlah gaji, jumlah anak, SPP, beras, nasi, ayam, santan, lombok, dst), pengarsipan (dapur penyimpan, rasa garam adalah asin, ayam seekor jadi 6 potong, uang seribu jadi beras sekian ons, tabungan di BPD masih berapa, toko mana yang murah, nota-nota belanja lama), pengolahan  dan analisa data (perut melilit namanya lapar, perlu makanan yang masuk lewat mulut-dicerna-dst, gudeg harus dimasak dengan bumbu ini-itu, menjelang lebaran harga naik-maka perlu simpanan khusus, ada kekeringan dan banjir di berbagai daerah-maka harga bahan makanan naik, bapak sukanya pedas-maka gudeg yang disukai bapak ya pedas, dst)? Nah, hanya makan sepiring, namun hakekatnya kita telah mengerjakan pekerjaan luar biasa: PLAN-DO-CHECK-ACTION (evaluation-action).
Untuk suksesnya kegiatan itu, informasi memegang peran sangat penting. Bagaimana kita akan sukses melawan malaria, kalau kita tidak mengerti gelagat malaria dan mendata semua data dasar dan yang terkait mengenai malaria, lalu mengolah dan menganalisanya menjadi informasi dan rencana yang tepat? Jadi informasi berawal dari data. Sebagus apa data anda? (akurasi, validitas, reliabilitas, dll). Minimal dengan grafik trend malaria kita akan tahu kapan “akan” ada puncak jumlah penderita malaria. Dengan kita tahu trendnya, rencana apa yang harus kita lalukan menjelang puncak jumlah kasus malaria? DKK sebagai motornya lalu membuat jaringan informasi yang selalu “jaga” (melek, ora turu, bahasa Jawanya. Bahasa Inggrisnya alert). Barulah kita bisa melakukan apa yang sering disebut antisipasi.
Untuk melakukan itu semua, semua staf jajaran kesehatan harus menyadari bahwa dirinya adalah manajer dari berbagai lapisan dan keahlian. Manajer yang baik dan efektif (kinerja tinggi) pasti mempunyai data yang tepat yang diperlukan (penyimpanannya bagus, sehingga kapan diperlukan mudah ditemukan. Komputer sangat membantu, disamping kualitas SDMnya dan system kerjanya), informasi yang berguna untuk pekerjaannya dan menganalisis serta membuat rencana-rencana, melaksanakan rencana, mengendalikannya dan menilai seberapa keberhasilannya. Inilah manajer yang dibutuhkan di Banjarnegara, kalau ingin malaria dan penyakit lainnya dapat kita kendalikan. Jadi tidak ada manajer yang cuek dengan urusan collecting, filing/keeping, analyzingdata. Kalau cuek terhadap itu, ya bukanlah manajer namanya. Bagi manajer yang sukses, data dan informasi itu menjadi sangat mahal.
Kita bisa buktikan seorang teman yang jadi manajer hotel yang sukses. Berapa dia dibayar untuk mengajar 2x 50 menit? Lima ratus ribu! Tapi dulu dia tidak membayangkan itu, sehingga tidak frustrasi. Dia tekuni saja pekerjaannya bertahun-tahun, tidak meminta namun dia diminta mengajar. “Ngunduh wohing pakarti”, siapa menanam, mengetam. Jadi sejawat di semua lini, jangan kalkulasikan pekerjaan ini terlalu njelimet dengan uang. Karena makin membuat kinerja kita kurang baik sekarang, sehingga tidak kita nikmati di masa depan. Beda dengan negara maju, ketika masuk sudah ditanya: berapa gaji yang anda harapkan? Dan ada patokan baku nasionalnya (mereka), sehingga misalnya MD digaji sama dengan PhD, $50,000.00 setahun. Kita akan sampai juga kesana, namun perlu pionir-pinonir yang membenahi kelemahan kita, untuk masa depan. Jadi contoh di atas, jangan membuat kita malah “ngokro”.
Terakhir, marilah kita belajar bagaimana negara maju (penguasa dunia?) menggunakan informasi. Bagi yang belum punya komputer, bisa sewa internet jam-jaman, saling tentir antar teman, bagaimana memanfaatkan website, e-mail, chating dll. Anda tentu bisa, karena sangat mudah. Di internet, semua isi dunia ada di sana, yang baik maupun yang jelek. Mari kita manfaatkan yang baik. Lalu kalau sudah masuklah ke http://www.cdc.gov. (milik Departemen Kesehatan dan Human Service – Department of Health and Human Services). Mau cari informasi penyakit apa saja ada, bahkan sentinel dari negara lain. Mau cari pelatihan yang ada nilai kredit profesinya juga ada. Juga kita bisa masuk www.nlm.nih.org. untuk menemukan artikel di Jurnal seluruh dunia. Cuma sulit juga menemukan Jurnal Indonesia, karena mungkin masalah pendaftaran dan pengiriman. Semua orang di US punya akses mudah kepada informasi, karena telepon local bayarnya flat dan website bisa diakses local. Jadi mau dihidupkan terus sejak mulai bekerja, ya nggak ada tambahan biaya. Kita lihat hasilnya kan? Pencegahan penyakit menular dan pemberantasannya, pertama dengan menguasai informasi. Kedua, dikeroyok semua pihak dengan kerjasama yang bagus. Kerjasamanya bagaimana, kita bahas kemudian.

Providence, Rhode Island, Dec 23, 2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar