Mari kita sekedar menengok ke belakang tentang diri kita baik dalam konteks pribadi atau kelompok. Kita memang bangsa yang sangat tinggi menempatkan hidup bersama, saling tergantung dan gotong royong. Sudah masyhur kalimat : “mangan ora mangan kumpul”. Sejak seorang wanita mulai mengandung, ia telah mulai terjebak dengan ketidak-mandirian yaitu dengan dalih “maunya jabang bayi” alias mengidam. Ia akan menuntut suami atau keluarga suami atau keluarganya sendiri untuk memenuhi apa keinginannya yang dikaitkan dengan calon jabang bayi. Juga sekalian menguji kecintaan barangkali.
Lahirlah si bayi yang cantik, mulus, halus kulitnya, geraknya kuat dan … tentu saja kalau sehat menangis. Dia lalu “digedong”, latihan ketidak mandirian yang pertama. Si ibu juga diminta tergantung dengan kelompoknya, yaitu harus bersikap ini dan itu, dilarang makan ini dan itu. Pantaslah si ibu yang harus siap menyusui malah menjadi anemi dan payah. Karena ibunya tergantung orang lain, bapaknya juga, maka cara mengasuh bayi akhirnya membuat si bayi tambah tergantung. Ketika si bayi sudah mulai merangkak, memegang ini tidak boleh itu juga tidak boleh. Dan waktu si bayi sudah bisa pegang alat, ayah ibu tidak memfasilitasi untuk mencoba makan sendiri. Karena orang tuanya mampu maka disewalah baby sitter. Baby sitter adalah produk ketidak mandirian di desanya, maka ia akan mengcopy hal itu untuk diprogramkan kepada si bayi atau balita.
Waktu TK ia diantar dan ditunggu, karena si anak takut. Tidak diberlakukan latihan untuk mandiri, terus sampai anak masuk PT. “Ndilalah” di PT dia menemui senior yang menanamkan ketidakmandirian namun dibungkus kemandirian lewat OPSPEK. Maka sangat muskil kalau mahasiswa dapat mandiri. Senioren ini terkena syndrom baby sitter : mengcopy masa lalunya untuk “mangsa”nya. Tindas-menindas ini berlangsung terus di mana saja dan di lini apa saja, sehingga tidak mendidik bangsa kita untuk mandiri. Semua serba terjadi perpoloncoan dan penggojlogan. Sudah banyak yang berontak untuk cara kerja demikian, namun lebih banyak yang tergolong sadistis tersembunyi, menikmati kesengsaraan atau kesulitan orang lain, di balik kamar kerjanya. Dan bangga, berkuasa.
Dan susahnya pula, setelah selesai sekolah atau kuliah, orang tuanya membuat si anak makin tidak mandiri. Orang tua mencoba berbagai upaya di luar jalur yang resmi agar anaknya diterima bekerja. Anak yang lama ditanamkan ketidak mandirian dan secara tidak sadar “ketidak percayaan diri”, makin kental saja menjadi anak yang tergantung. Bayangkanlah anak seperti ini menjadi staf anda. Bayangkanlah lagi ada 15 juta anak demikian, bagaimana masa depan bangsa Indonesia? Ketidak mandirian ini berakibat fatal: ketidak adilan dan korupsi!
Ada cara keluar dari masalah dengan belajar. Negara kecil Singapura contohnya. Di Singapura SDM sangat sedikit, dan mahal membayar maid (pembantu RT), maka banyak digunakan mesin untuk berbagai jenis pekerjaan, mesin cuci, mesin pengering, pemanggang roti otomatis, sampai ke yang besar, mengatur negara. Semua orang mulai belajar mandiri. Apalagi secara historis dia lalu menjadi negara commonwealth, bisa sekolah ke London kalau mampu. Disana orang harus mandiri, kalau mau sukses.
Saya masih ingat ceramah seorang pakar tentang konteks ini. Seorang pengusaha besar kita yang pernah menanam modal di Timur Tengah di tahun 70an merasa kagum dengan sopir dari Korea. Sopir bekerja sendiri secara mandiri, tidak memerlukan kernet. Jika dibanding dengan gaji sopir Indonesia yang berkernet, gajinya lebih besar. Tetapi bagi pengusaha menguntungkan, karena lebih kecil biayanya dibanding kalau dengan kernet. Pengusaha itu mencoba menerapkan sopir truk gaya Korea. Ia menawarkan gaji lebih tentu saja. Dicobalah barang satu tahun. Apa yang terjadi? Banyak sopir yang jatuh sakit. Hitung punya hitung, biaya untuk berobat yang ditanggung pengusaha itu justru lebih besar kalau dibanding membayar sopir plus kernetnya.
Di kantor International Health Institute, Brown University hanya ada 1 Direktur dan 2 staf tetap. Selebihnya jaringan pegawai di berbagai pos dan RS. Direkturnya, Dr. Steve Mc Garvey, MPH. sering terlihat mengetik sendiri dan memprint out. Dia seorang dosen juga (profesor) yang sangat mudah diakses mahasiswa, asal ada appointment (janji per telepon). Sangat efisien. Mungkin satu-satunya bangsa yang banyak pembantu rumah tangga adalah bangsa kita. Pekerjaan yang bersifat “rendahan” diserahkan kepada pembantu rumah tangga. Jelas hal itu tidak terjadi di negara maju, karena tidak ada pembagian pekerjaan “rendahan” atau kotor dan pekerjaan bersih. Di US, ketika anak sudah mau makan dengan tangannya sendiri, meskipun belepotan, dia mulai dilarang makan dengan cara disuap.
Semua teman saya se rumah, mengerjakan apa-apa sendiri. Banyak pekerjaan yang memerlukan kemandirian. Di dunia luar rumah, kemandirian adalah survival, bertahan hidup, yakni bagaimana anak berhubungan dengan teman, dengan alat, dengan alam, supaya dia hidup, eksis dan sukses. Contoh lain yang sederhana adalah perpustakaan. Perpustakaan bertingkat 12 lantai (lebar + 25x50 m2, hanya lantai Ground dan level 1 yang dijaga staf yang sangat efisien, 2 – 3 orang. Selebihnya para pembaca mencari sendiri kebutuhannya, dengan catalog elektronik (komputer), mengambil buku sendiri (entah di lantai berapa dari 12). Lalu dia harus mengkopi sendiri kalau butuh jurnal (karena jurnal tidak boleh dibawa pulang). Cara mengkopi adalah mandiri yaitu anda deposit uang ke mesin deposit, dengan kartu pengenal anda (menanamkan uang dalam kartu). Kartu anda menjadi pengganti pembayar dan pembantu untuk fotokopi. Lalu anda hidupkan mesin fotokopi, dengan kartu anda. Dan mengkopi sendiri. Di tempat lain juga banyak yang harus dikerjakan dengan mandiri, misalnya di bus anda juga harus mandiri. Di kereta, dan dimana saja anda harus bisa mandiri. Kalau seorang anak terbiasa tidak mandiri, susahlah dia hidup di dunia dengan kemandirian.
Heran, tidak ada vandalisme (merusak dan mencuri fasilitas umum). Semua komputer, semua mesin fotokopi, mesin penjual softdrink juga utuh dan berfungsi baik. Beda dengan kita kan? Vandalisme terhadap telepon otomat dll banyak terjadi. Ini pasti berkat pendidikan dan latihan yang intensif sejak bayi: baik untuk mandiri atau untuk menghargai barang milik orang lain. Ini jelas produk bangsa. Bangsa dimulai dari pribadi, lalu rumah tangga atau keluarga, disusul sekolah dan terakhir diperkuat oleh masyarakat luas. Keluarga di USA tentu benar-benar hebat menanamkan hal itu bersama sekolah. That is a great work of the parent and the teacher. Kebiasaan yang baik ditanam dengan sungguh-sungguh. Kebiasaan akan melahirkan tradisi kelompok. Tradisi semua kelompok dalam satu bangsa akan melahirkan kebudayaan. Kita tidak biasa dan tidak tahan bekerja sendiri secara mandiri, selalu dilayani pembantu. Apakah benar? Kitalah yang harus membuktikan bahwa itu sebaliknya, paling tidak dimulai dengan anak kita.
Ditulis pada bulan Nopember 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar