Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Senin, 13 September 2010

MENGKAJI STRATEGISNYA PUSKESMAS

Kini kata strategis telah menjadi milik kita semua. Padahal pada kurun waktu sepuluh tahun yang lalu kata ini lebih sah dipakai oleh ABRI (sekarang TNI) untuk pertahanan negara atau parpol/golkar untuk memenangi Pemilu. Namun seberapa jauh kita mengenal kata ini? Saya masih ingat satu tulisan Cak Nun yang mengejek kita semua sebagai bangsa, dianalogikan dengan sekumpulan bebek. Kapan ada seekor bebek yang berbunyi wek…., maka semua bebek menyahuti dengan wek-wek-wek dengan koor. Sekarang pendapat Cak Nun itu tampaknya terjadi. Semua orang mengatakan Renstra, atau Rencana Strategis. Ada visi, ada misi, dan semua staf menuju ke sana. Namun bisa saja hanya sekedar menyebut Renstra, tanpa paham benar apa maknanya.

 
Lalu apa bedanya dengan prioritas? Atau malah kita tidak peduli, apakah strategis ataukah prioritas? Kita memang tidak perlu bersitegang urat leher tentang hal ini. Sepanjang pembelajaran tidak terjadi, kepuasan kerja berada pada tingkat “minimal”, sarana tidak cukup, tenaga amat terbatas, bagaimanapun strategisnya suatu rencana, akan sangat sulit diwujudkan. USA bisa berbuat yang strategis, misalnya menggalang Inggris dan Australia untuk menyerang Irak, karena komponen inputnya sudah bukan masalah lagi dan langsung dapat berproses. Ibarat kendaraan, ia dibuat tahun 2002 akhir, sangat laik jalan, siap accu (battery), siap bahan bakar, cukup sekali stater mesin akan bunyi, dan mudah melanjut ke proses berikut, yakni bergerak, bahkan ke kecapatan tinggi.
Jadi, upaya pertama untuk mewujudkan renstra adalah menata komponen input, yakni man, money, material, method, machine. Bukankah pak tani bisa melakukan hal yang strategis yaitu bercocok tanam untuk menghasilkan bahan pokok, kalau ia telah jelas mempunyai skill bertani, dilengkapi pacul, sabit, bajak, “garu” dan alat-alat lainnya, bibit, pupuk, insektisida dan jangan lupa ada orang lain yang membantunya? Janganlah menuntut pak tani panen 3 ton padi dari tanahnya, kalau memang ia bukan petani, tidak punya skill sebagai petani, tidak ada alat produksi pertanian, tidak ada bibit dan lain-lainnya. Jika demikian, renstra “pak tani” (diberi tanda petik karena seolah palsu – dijadikan pak tani tetapi skill tak ada) untuk menghasilkan padi 3 ton, pastilah hanya angan-angan belaka. Demikian juga jika kita tuntut pak tani (petani sungguhan) untuk mewujudkan angan-angan (renstra) itu dengan kondisi tanpa alat, tanpa bibit, tanpa insektisida dan tanpa pembantu, jika ia santun, maka paling banyak ia hanya akan tersenyum saja.
Puskesmas adalah Pusat Kesehatan Masyarakat, yakni sebuah institusi yang dibangun  pemerintah (waktu itu Pusat) yang dilengkapi dengan tenaga medis, bidan, perawat (berbagai jenis), sanitarian, petugas gizi, juru imunisasi, JMD dan tenaga administrasi (kala itu dididik secara “crash program” tenaga multipurposes pekarya kesehatan berasal dari lulusan SLTA). Sarana fisiknya dibuat terpadu dengan kompleks rumah tinggal dokter, bidan dan perawat. Obat dan alatnya semua didrop dari Pusat. Maksud awalnya (renstra puskesmas) adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan melaksanakan 3 fungsinya yaitu menyelenggarakan pelayanan kesehatan, menggerakkan peranserta masyarakat dalam bidang kesehatan dan menjadi koordinator pembangunan bidang kesehatan di wilayah kerjanya. Rencana ini benar-benar strategis dan diwujudkan secara “top down” dengan kecepatan dan keseragaman, terbangun lebih dari 8000 Puskesmas. Hasilnya telah dapat kita nikmati, antara lain Indonesia dapat memenuhi rencana WHO misalnya untuk menurunkan Angka Kematian Bayi paling tinggi 50 per 1000 tahun 2000 bagi semua negara dan prestasi lainnya yang diakui baik oleh pakar dalam negeri maupun luar negeri.
Setelah kurun waktu lebih dari 30 tahun (karena Puskesmas dibangun sekitar tahun 70 an), banyak muncul pertanyaan : mengapa Puskesmas tidak tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya biji yang ditanamkan? Bahkan ada yang mengalami kemunduran fungsi (degeneratif?) menjadi tidak lebih dari BP dan KIA, sebagaimana dahulunya Puskesmas berasal. Sekarang sudah saatnya menilai ulang mengapa hal itu terjadi, oleh semua pihak, tanpa mencari kambing hitam, apalagi menyalahkan staf Puskesmas. Kalau dihitung-hitung, petugas Puskesmas sudah berjasa besar. Hanya mengapa tidak tumbuh, harus kita analogikan dengan pak tani yang menanam biji. Memang kata Koes Plus, tongkat kayu dapat jadi tanaman. Untuk tanaman ketela pohon mungkin ya, tetapi sulit untuk padi. Jika hanya ditebarkan saja lalu kita mengharapkan panen raya padi, tampaknya kecil kemungkinannya. Ada banyak proses kegiatan strategis sampai pak tani panen raya padi, yakni perawatan tanahnya maupun bibit yang tumbuh. Pak tani juga melindungi padinya dari berbagai hama dengan berbagai upaya.
Salah satu yang “strategis” untuk memelihara agar biji yang bernama Puskesmas yang ditanam 30 tahun yl tumbuh dan berkembang mungkin adalah upaya kita untuk menata inputnya. Misalnya SDM nya dilengkapi, SDMnya diberi gaji – imbalan - “reward” yang adekwat (sebanding dengan susah payah dan risikonya), memberi bekal yang cukup (signifikan) kepada petugasnya dengan pendidikan dan pelatihan yang benar-benar dibutuhkan (secara keseluruhan manajemen SDM), mencukupi alat / sarananya, memfasilitasi teknologinya (method dan machine), dan mungkin memberi anggarannya dengan tepat.
Meskipun demikian, tanpa menunggu upaya pemilik untuk mencukupi input ini, pimpinan dan petugas Puskesmas bisa melakukan kegiatan strategis : membenahi apa yang dimiliki dalam hal input. Misalnya kalau ada rumah dinas rusak, kesalahan pertama jelas ada pada anda pemimpin dan petugas Puskesmas dan DKK, karena tidak mungkin rumah bocor sebesar talang air (grojog-grojog), jika tidak dimulai dari tetesan-tetesan. Artinya jika sampai rumdin ambruk, pasti tidak ada rasa memiliki, kepedulian dan tanggung jawab kolektif di Puskesmas untuk bertindak strategis menyelamatkan aset (milik), sedangkan (pimpinan dan staf) DKKnya tidak melakukan fasilitasi yang diperlukan, dan mungkin tidak ada anggaran yang cukup dari Pemda (jadi semua salah?).
Karena strategisnya Puskesmas untuk masyarakat banyak (seantero kabupaten Banjarnegara), semua pihak perlu bertindak selaku pak tani, dengan kasih sayangnya,  harapannya dan segenap kekuatannya memelihara siang malam, menjaga dari hama, mencukupi kebutuhan tanaman (antara lain padinya), sehingga pada saatnya dapat memanen dari tanamannya semua jenis buah  dan biji-bijian yang dihasilkan (termasuk padi). Oleh karena strategisnya DKK-Puskesmas, maka pertama, perlu memandang DKK sebagai DKK dan Puskesmas, atau sebaliknya memandang Puskesmas jangan terpisah dari DKK, karena DKK dan Puskesmas merupakan satu kesatuan. Kedua, semua pihak (stake-holders) memfasilitasi pelayanan kesehatan apakah di RSUD atau DKK-Puskesmas, sehingga nanti semua maju pesat, RSUD maju, Puskesmas juga maju. Yang diuntungkan pastilah rakyat juga, yang berjasa pastilah semua pihak terutama Pemerintah Kabupaten. (Banjarnegara 16 April 2003, telah dimuat di Buletin LENTERA Dinkeskab Banjarnegara)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar