Muslimin rahimakumullah
Kebebasan dan HAM yang juga melanda bangsa kita telah menghancurkan sendi-sendi ahlaqul karimah. Dimana-mana kita saksikan kemungkaran yang terang-terangan yang dipoles dengan dalih kebebasan pribadi dan HAM. Manusia satu dengan lainnya makin kejam, lupa jati dirinya, lupa agamanya, lupa Tuhannya. Dari orang awam, pejabat sampai artis, terlanda kebebasan yang menyesatkan. Naudzubillah. Dulu ada artis bersuami sah yang mengaku telah berzina dengan orang lain sampai menghasilkan anak. Sekarang ada artis yang tertangkap sedang pesta narkotik, berseks bebas bahkan difilmkan sendiri, lalu ada yang berpacaran terbuka dengan suami orang lain. Layar kaca dipenuhi berita begitu dan penampilan banci, seolah Indonesia tidak ada lagi lelaki orang normal yang mampu menjadi presenter atau penyanyi.
Semua itu ditayangkan terbuka, dan kata-kata yang terlontar sering jorok dan kasar serta humor yang rendah (kampungan). Indonesia yang berbudi luhur pelan tapi pasti diganti dengan kasar budi, wagu dan saru. Jangan menyepelekan, semua itu menjadi ancaman bagi keluarga hadirin sidang jum’ah semua, baik melalui koran, internet dan layar kaca. Apakah ancaman itu? Pengaruh negatif tayangan yang berisi hal-hal yang tidak senonoh, jorok dan kasar itu akan mempengaruhi batin pembaca/pemirsanya sehinga meyakini bahwa hal-hal itu menjadi biasa, wajar dan tidak ada salahnya. Semakin lama hati menjadi membatu terhadap agama, keimanan dan ketaqwaan. Padahal:
“Jika zina dan riba telah merajalela (terang-terangan, maka berarti mereka mengundang datangnya siksa Allah atas mereka sendiri” (HR Thobarany)
Negara tampak tidak berdaya menghadapi itu semua. Lempar-melempar terjadi, antara Pemerintah, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), Dewan Pers, DPR. Departemen atau Kementrian yang bersangkutan diam seribu basa. Bahkan semua berdalih, untuk menyaring siaran-siaran itu diserahkan kepada rakyat sendiri, kecuali yang nyata-nyata melanggar hukum. Oleh karenanya dalam keadaan demikian, apalagi yang bisa dilakukan umat Islam? Jawabannya, bentengilah diri sendiri dan seluruh anggota keluarga dengan Islam, iman dan taqwa. Jagalah diri dan keluarga saudara semua agar tidak masuk neraka:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At-Tahrim [66]: 6)
Muslimin rahimakumullah
Diri kita sendiri dan keluarga kita, kita bina untuk beragama Islam secara kaffah yakni dengan takut kepada Allah swt, taat kepada-Nya dan kepada Rasulullah saw.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (An-Nisa’ [4]: 59)
Memang yang sekarang kita yakini, pemahaman dan pengamalan Islam di negeri kita ada 4 madzhab besar yang digolongkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Tetapi pernahkah saudara dengarkan apa yang disampaikan para imam madzhab kepada para pengikutnya? Saya kutip beberapa sebagai berikut:
1. Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi): (a). “Kalau ada hadits yang sahih, itulah madzhabku”. (b). Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang kepada pendapat kami, jika dia tidak paham dari mana kami mengambilnya”.
2. Imam Malik bin Anas (Madzhab Maliki): (a). “Sesungguhnya saya hanyalah seorang manusia yang bisa salah dan bisa benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka ambillah. Dan yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah”. (b). Intinya: hanya perkataan Nabi saw yang wajib diambil pendapatnya. Sedang setelah Nabi saw boleh diambil, boleh juga ditinggalkan.
3. Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i): (a). “Tidak seorangpun kecuali dia bermadzhab kepada Sunnah Rasul dan mengikutinya. Apapun yang saya ucapkan atau saya tetapkan suatu kaidah, sedang Sunnah Rasul saw bertentangan dengan ucapanku, maka yang diambil adalah Sunnah Rasulullah. Dan pendapat saya juga seperti itu”. (b). Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa telah terang baginya Sunnah Rasulullah saw, maka tidak halal baginya meninggalkan Sunnah tersebut, hanya karena ingin mengikuti perkataan seseorang”. (c). Apabila hadits itu sahih, maka dia itu madzhabku”. (d). “Setiap hadits Nabi saw (sahih) adalah pendapatku, meskipun kamu belum pernah mendengarnya dariku”.
4. Imam Ahmad bin Hambal (Madzhab Hambali): (a). “Janganlah kamu taklid kepadaku, kepada Malik, Syafi’I, Al-Auza’I atau Ats-Tsauri. Tetapi ambillah darimana mereka mengambil”. (b). Pendapat Maliki, Al-Auza’I atau Ats-Tsauri bagiku semua adalah pendapat. Bagiku semuanya sama saja. Adapun Al-Hujjah hanya ada pada atsar-atsar Nabawiyah”. (c). Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah saw, maka sesungguhnya dia berada pada tepi kehancuran”.
Jadi para imam itu demikian rendah hati, tawadhdhu’, tidak sombong, tidak menganggap pendapatnya atau hasil ijtihadnya paling benar, walaupun ilmu agamanya bagaikan lautan yang luas. Namun pengikutnyalah yang terkadang sok bener sendiri, menentang pendapat orang lain, walaupun orang lain itu mengutip Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw yang sahih. Hanya karena bukan berasal dari kelompoknya, maka ditolaklah hal itu. Disitulah pangkal perpecahan umat Islam.
Muslimin rohimakumullah
Nah, sekarang kita telah mendengar penghulu madzhab yang kita ikuti di Indonesia berkata demikian itu. Apakah sekiranya kita masih bersikukuh hanya taklid pada suatu pendapat tanpa mengkaji bagaimana sebenarnya pendapat para imam itu dibangun? Apakah sekiranya ada hadits sahih tetapi bertentangan dengan amalan madzhab, hadits itu kita abaikan? Padahal Allah swt wanti-wanti kepada kita demikian:
Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Ali ‘Imron [3]: 31)
Muslimin rohimakumullah.
Setelah sekarang kita paham kata-kata para imam itu, yang intinya kita harus mengikuti Rasul saw, sesungguhnya kita mendapat tantangan: dalam melakukan suatu amal, kita mau ikut pendapat (amalan) pembesar atau orang banyak ataukah mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah saw?
Oleh karena itu mari kita periksa satu persatu amalan yang umumnya diyakini sebagai amalan agama Islam, apakah benar demikian contoh atau perintah dari Rasul saw? Dengan mengaji secara rutin tentang Tafsir Al-Qur’an dan hadits-hadits yang sahih hal itu dimungkinkan.
Sebagai contoh telah biasa ada amalan nyadran atau ruwahan di bulan Sya’ban (Jawa: Ruwah) ini atau nisfu Sya’ban, untuk menyongsong Romadlon. Ternyata menurut hadits yang sahih, Rasulullah saw menyongsong Romadlon di bulan Sya’ban dengan memperbanyak puasa, sehingga para sahabat sulit menemukan, kapan hari tidak puasanya/berbukanya dan meningkatkan ibadahnya. Semasa Rasul saw tidak ada peringatan Nisfu Sya’ban dsb yang sekarang umum diamalkan, dan dikira sebagai bagian dari ibadah dalam agama Islam.
Sekarang tinggal saudara semua, mana yang lebih ditaati, apakah orang banyak atau Rasul saw. Firman Allah swt ini telah jelas menuntun kita seharusnya bagaimana:
“Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (At-Taubah [9]: 24)
Janganlah kita mau ditakut-takuti oleh manusia, agar kita mengikut saja apa yang diperintahkan, seolah-olah benar sebagai ajaran Islam atau tampak sebagai ibadah, padahal sebenarnya banyak yang bertentangan atau menyelisihi Allah swt dan Rasul saw. Marilah lebih takut kepada Allah swt dan memenuhi perintah-perintah-Nya yakni untuk taat kepada Rasul saw, lebih dibanding taat kepada selainnya. Walaupun kita tetap cinta dan menghormati para imam, ulama, sesepuh, guru, ustadz, keluarga, tetangga, tetapi tidak perlu kita korbankan cinta kita dan ketaatan kita kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw.
Aquulu qoulii haadzaa wastaghfirullaahal ‘adhiem lii walakum walisaa iril muslimin wal muslimaat wal mu’minin wal mu’minaat fastaghfiruuhu innahuu huwal ghofuurur rohiim.
Disampaikan pada Khutbah Jum’at di Masjid Al-Kautsar, Jl. Cempolorejo V Semarang, 23 Juli 2010 oleh Dr. H. M.Masyrifan Djamil, MPH., MMR.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar