Masih sangat terang dalam ingatanku bagaimana para ustadz mengajari anak-anak usia sekolah dasar di masjid setelah sholat maghrib tentang ibadah pokok yakni wudlu, sholat, puasa dan kewajiban mengaji. Anak-anak sejak rata-rata usia 5 tahun memang diajak ayahnya ke masjid, terutama untuk sholat maghrib. Masjid sangat makmur dengan jamaah semua usia di waktu jamaah sholat maghrib. Lalu para orang tua menyerahkan anak-anaknya kepada ustadz untuk dididik mengaji Al-Qur’an juz ‘Amma baik hafalan maupun baca tulisnya disertai pengajaran sholat dst itu. Itulah perkenalanku dengan Al-Qur’an, Al-Hadits dan hukum-hukum Islam yang sederhana. Biasanya untuk anak yang lebih besar, ketika sudah mulai paham membaca huruf Arab, melanjutkan mengaji di rumah ustadznya, bergiliran membaca Al-Qur’an satu-persatu membaca di depan ustadznya. Semoga beliau semua mendapat rahmat dan barokah dari Allah swt, yang sudah wafat diampuni dosanya dan ditempatkan di tempat yang mulia dalam naungan-Nya. Amiin.
Ketika aku bisa membaca huruf Arab dan mulai mengaji Al-Qur’an mulai Al-Fatihah dan Surah A-Baqarah ayahku mendidikku sendiri bagaimana membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan makhroj (pronounciation) yang benar, setiap habis maghrib sampai Isya’. Dia mendidikku sampai khatam Al-Qur’an. Ibuku mendidikku dengan kisah-kisah Islami dan ahlaq mulia serta bagaimana orang yang sukses dunia akherat. Semoga ayah ibuku (almarhum) diampuni dosanya dan mendapat tempat yang mulia dari Allah swt di alam barzakh.
Lalu sampailah usia anak-anak bersekolah di SD. Aku belum cukup umur untuk sekolah SD, tetapi aku sudah naik ke Kelas Nol besar di pertengahan tahun sekolah Taman Kanak-kanak Kartini. Karenyanya aku boleh melanjutkan ke SD meskipun usia belum cukup. Masa itu di kampungku, bersekolah yang afdhol adalah sekolah di dua sekolah yaitu SD di pagi hari dan Madrasah Diniyah di siang sampai sore hari. Jadilah aku siswa SD sekaligus siswa Madrasah. Perkenalanku dengan hadits Nabi bertambah banyak. Namun ustadz tidak merinci satu persatu pelajaran dengan haditsnya. Semua sudah paket pelajaran agama di Madrasah yaitu Fiqih, Nahwu, Shorof, Lughot, Tarih. Ketika kelas IV ditambah lagi pelajaran yang lebih lanjut yaitu Ushul Fiqih, Hadits Bulughul Marom, fiqh seksualitas dan faroidh (hukum waris). Karena interaksi murid dan guru/ustadz kuat, sampai sekarang aku masih ingat satu persatu nama ustadz madrasahku, guru SD, ustadz di Tsanawiyah, guru SMP, guru SMA dan ustadz di Aliyah.
Pelajaran hadits dengan Kitab Bulughul Marom dan Nahwu ditakuti murid, karena murid harus bisa menerjemahkan teks asli (matan) hadits di depan ustadz dan menghafal matan Alfiyah. Di Aliyah pelajaran makin sulit karena semua mata pelajaran menggunakan Kitab Kuning (gundul). Cara pendidikannya mirip di Pesantren yaitu guru membaca Kitab, murid memberi terjemah dengan pena yang runcing sehingga tulisannya kecil-kecil, menggunakan huruf Arab pegon (Arab Melayu). Proses itu dinamai memberi “makno gandul”, karena ditulis miring dari atas kanan turun miring ke kiri, menempel di kata Arab yang diberi terjemah (makno). Sampai akhir sekolah Aliyah, murid tidak diajari ilmu hadits dan derajat-derajat hadits.
Alhamdulillah ayahku telah membekali aku dengan sedikit ilmu alat yakni bahasa Arab/lughot, Nahwu/tata bahasa Arab, Shorof/kata kerja Arab, Fiqh, Ushul Fiqh, Tafsir yang dasar (Jalalain), Hadits, dsb, maka aku bisa belajar sendiri ketika di Fakultas Kedokteran. Toko Buku (TB) agama seperti Toha Putra, dll juga menjadi tempatku mencari buku agama selain TB Merbabu (Gramedia belum lahir) untuk buku kuliah. Baru di pengajian-pengajian mahasiswa aku mengenal hadits sahih, hasan, dhoif dan maudlu’ (palsu). Aku mulai mengenal bahwa Durratun Nasihin banyak hadits dhoifnya dibanding Riyadhush Sholihin (Imam Nawawi). Meskipun tidak intensif, aku mulai membaca Kitab hadits selain Bulughul Marom, dan mulai mengejar mana yang sahih dst. Karena aku sependapat dengan para Imam besar, hanya yang sahih dan hasan yang boleh dipegang sebagai hujjah (dalil) ibadah. Sekarang ini Kitab Hadits Sahih yang besar-besar telah diterjemahkan oleh ahli bahasa Arab/pelajar (santri) ilmu hadits.
Dari perjalananku mengenal hadits ini, yang amat panjang (sejak usia 5 tahun), Anda dapat membuat “shortcut” (jalan pintas) langsung membaca Kitab Hadits yang telah diterjemahkan dan ada keterangan derajat haditsnya untuk pedoman tauhid, ibadah, ahlaq, mu’amalah dan semua aspek kehidupan. Sungguh lebih mudah, alhamdulillah, kebebasan beragama telah membawa kepada jalan yang benar yaitu mengenal langsung sumbernya, meskipun itu buku terjemahan. Tentu ini lebih baik, daripada taqlid buta (ikut-ikutan saja kata orang, tidak tahu bagaimana yang sebenarnya dari Nabi saw dan sahabatnya), sehingga banyak yang tersesat karena tidak mengenal Nabinya sendiri dengan baik. Dan membaca hadits sendiri tentu saja harus diikuti dengan pengajian (kajian bersama, dialog, sharing, bimbingan – bukan one way) dengan ustadz yang cukup pengetahuannya dan sukur-sukur pakar.
Kita sudah syahadat, menyatakan diri muslim, maka wajib mengetahui hadits Nabi Muhammad saw untuk pedoman hidup dan menghidupkan sunnahnya. Karena sudah jelas, mukmin yang selamat, yang tidak akan tersesat sepanjang masa hidupnya sampai kelak di akhirat adalah yang memegang teguh dan mengikuti Al-Qur’an dan Hadits Nabi-Nya, demikian hadits sahih yang kita kaji. Maka bagi yang ada rizqi, buatlah pengajian untuk lingkungan agar masyarakat muslim sekitar Anda bisa mengenal Sunnah Nabi saw dan mengamalkannya. Pahalanya juga buat Anda selamanya dan selama ada yang mendapat terusan keterangan (forwarding information) dan mengamalkannya. Semoga Anda tertarik investasi ini yang pasti untung selama-lamanya.(M. Masyrifan Djamil, 17 Rajab 1432H/19 Juni 2011).
Disajikan sedikit ilmu dan pengalaman bidang kesehatan dan agama Islam kepada siapa saja yang berusaha sehat dan selamat
Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka
Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.
Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar