Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Sehat dan selamat dengan 4 i + 2 t (islam, iman, ihsan, ikhlas plus taqwa dan tawakkal). Maka harus ada ilmunya. Selamat dalam Islam ialah bertauhid lalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Apa yang diberi Rasul maka ambillah, apa yang dilarangnya maka jauhilah (Al-Hasyr 7). Jadi Allah dan Rasul-Nya adalah nomor satu.

Mohon sumbangan tulisan kesehatan dan agama, dikirm via email ke rifan.mmd@gmail.com. Kami tunggu dan jazakumullah khoiran katsiran.

Rabu, 15 September 2010

PERADABAN MANUSIA TERWUJUD KARENA ADANYA PENGORBANAN

‘Aidin rahimakumullah

Tak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepada Allah swt setiap saat atas semua kenikmatan dan rohmat yang telah dilimpahkan oleh-Nya kepada kita semua selama ini. Kita sampaikan sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya.
Saya berwasiyat kepada hadirin semua dan kepada diri saya sendiri, bertaqwalah kepada Allah, dengan sebenar-benar taqwa. Telah nyata bagi kita semua bahwa untuk menyelesaikan masalah yang kita alami sekarang, tidak ada lain cara yang lebih tepat, lebih efektif, kecuali dengan taqwa.
Hari ini umat Islam berduyun-duyun ke lapangan atau masjid untuk melakukan shalat ‘Idul Adha dengan pakaian yang baik dan wangi. Kita bertakbir, bertahlil dan bertahmid menggema ke langit sejak kemarin sore. Semoga suasana ini menjiwai hari-hari  kita seterusnya.

‘Aidin yang berbahagia
Bangsa Indonesia baru saja dibanjiri oleh berita yang memalukan yang tidak terbayangkan sebelumnya, karena dilakukan oleh para pemimpin dengan level yang tinggi di negeri ini. Sungguh kita terpana dan hanya beristighfar serta timbul rasa malu. Karena apa? Karena tayangan TV kita dapat ditonton di seluruh dunia. Kita sebagai rakyat hanya berharap agar semua pihak menyadari kesalahannya, bertaubat kepada Allah swt dan memperbaiki dengan amal yang sholeh agar perbuatan jahat dan kejinya dihapuskan oleh Allah swt. Kita sunguh takut, akan peringatan Allah swt, bahwa Dia memberikan azab karena kezaliman sekelompok orang, namun seluruh manusia di wilayah itu baik yang zalim maupun yang saleh terkena tanpa kecuali. Firman-Nya:
Dan periharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya”. (QS Al Anfal [8]: 25)
 “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)”. (Al-Isra’ [17]: 58)

Memang, kalau kehancuran akan terjadi di suatu negeri, mula-mula bersumber dari segolongan orang yang mutrof, berlebih-lebihan, bermewah-mewah yang berbuat durhaka. Dalam hal ini Allah telah mengingatkan kepada kita sebagaimana firmannya sbb:
 “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. QS Al Isra [17]: 16.


Dan itu sudah terjadi di Aceh, di Sijeruk Banjarnegara, di Jogja dan Klaten, di Situgintung Ciputat Jakarta, di Tasikmalaya, di Padang Sumatera Barat, dll di negeri kita. Bagi yang tidak percaya silakan mendebat dengan berbagai teori, meisalnya adanya lempeng bumi yang bergerak lalu bertumburan. Tetapi yakinlah bahwa itu azab yang telah Allah timpakan untuk memberi peringatan kepada kita. Banyak diantara kita saja yang masih mengingkari bahwa semua itu adalah azab. Apakah ‘aidin mau bukti sedikit? Sepanjang umur saya, belum pernah mendengar bencana alam terjadi di Jazirah Arab, kecuali banjir yang tidak ada korban di Makkah. Hal itu terjadi karena Makkah ibarat mangkok. Bila hujan lebat, pastilah banjir. Dan kejadian itu amatlah jarang[1]. Mari kita simak peringatan Rasulullah saw yang selaras dengan peringatan Allah dan menjadi landasan pendapat para ulama yang mengatakan bahwa kita sedang mendapat azab:

“Jika pemegang kepercayaan (pemerintah) bertindak zalim, maka pemerintahan itu bagaikan pemerintahan musuh. Jika perzinahan banyak terjadi, maka banyak pula tawanan. Jika banyak terjadi perbuatan homoseksual dan lesbian, maka Allah berlepas tangan dan tidak peduli bencana apa yang menimpa masyarakat” (Hadits Riwayat ath- Thobrony dari Jabir)

Kita telah menyaksikan kemungkaran dan kedurhakaan itu terjadi diantara kita. Dan tampaknya dilakukan tanpa “rikuh-rikuh”. Selain drama kezaliman yang kita saksikan di TV itu, semakin banyak saja kemungkaran terjadi dan sekarang semakin banyak orang yang menganut paham dan melakukan freesex, homoseksual dan lesbian (LUTHIYAH) secara terang-terangan. Sungguh kita takut akan azab Allah yang telah diperingatkan-Nya.

‘Aidin rahimakumullah

Semua yang terjadi di dunia ini, sampai umat manusia membina dirinya menjadi manusia beradab dan untuk komunitasnya membangun peradaban, sehingga makin maju seperti sekarang ini adalah karena adanya pengorbanan. Pengorbanan banyak sekali ragam dan jenisnya. Mengakui salah adalah berkorban, dan sekarang ini sulit kita temui. Yang ada adalah mengakui dirinya yang paling benar. Murid mau pandai, mereka berkorban waktu, tenaga, pikiran. Gurunyapun lebih besar lagi pengorbanannya. Dahulu orang mendirikan rumah, semua tetangganya berkorban, bergotong-royong, meninggalkan tugas pekerjaannya sendiri.
Rasulullah saw berkorban meninggalkan tanah tumpah darahnya dengan terancam pembunuhan bersama sahabatnya yang setia Abu Bakar siddiq ra. Umar ibn Khattab ra berkorban, bersimpuh dan menangis di hadapan orang yang akan dibunuhnya, lalu diucapkannya syahadat. Dan akhirnya dari orang yang tidak beradab, justru menjadi kekasih orang yang akan dibunuhnya, Rasulullah saw, dan menjadi tokoh yang membela mati-matian Rasul saw dan dakwahnya. Akhirnya ia menjadi Kholifah yang mashur. Karena pemikiran dan tindakannya ia ikut memajukan kemanusiaan, Islam dan dakwah. Islam berkembang ke berbagai negeri di Asia, Afrika dan Eropa antara lain karena pengorbanan Abu Bakar, Umar dan para sahabat yang tidak materialistis. Kaum Anshor di Madinah berkorban harta, tanah dan lainnya untuk saudara-saudaranya kaum Muhajirin dari Makkah. Pangeran Diponegoro berkorban untuk umatnya dan bangsanya, bukan makelar tanah atau terusik karena tanah pekuburan leluhurnya terkena proyek jalan Kompeni Belanda. Ia nyata berjuang melawan Penjajah dan memperjuangkan agar syariat Islam  diterapkan di tanah Jawa. Diponegoro berkorban, karena ia lalu dibuang ke Makassar Sulawesi oleh Belanda. Bung Karno juga berkorban, dibuang Belanda ke Digul dan Bengkulu. Lalu apa pengorbanan kita untuk kejayaan agama Allah dan Indonesia? Atau untuk kampung kita? Atau untuk kantor kita?
Bayangkan jika semua kegiatan manusia diukur dengan imbalan materi, maka tidak ada yang mau melakukan pengorbanan, akibatnya pastilah dunia sudah macet sejak awalnya.
Pengorbanan yang teramat berat telah dijalani oleh nabiyullah Ibrahim AS dan puteranya Ismail AS, firman Allah:

 “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Surah Ash Shaffaat [37]: 102)

Pengorbanan yang ikhlas, dilakukan dengan sabar dan tawakkal pasti akan diganti Allah swt, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dan nabi Islamil AS:
 “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya) (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia “Hai Ibrahim, sesunnguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. Surah Ash Shaffaat [37]: 103-110.

‘Aidin rahimakumullah

Hari ini dan 3 hari berikutnya umat Islam melakukan penyelbelihan korban berupa kambing, sapi atau unta. Bukanlah daging atau darahnya yang diterima Allah tetapi taqwanya, sebagaimana firman Allah dalam surah Al Hajj [22]: 37:

 “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.


Kaum muslimin yang berbahagia

Bagi kita yang mampu, lakukanlah kurban tiap tahun, untuk satu keluarga. Kurban jangan hanya sekali seumur hidup, karena perintah kurban datang setiap ‘Idul Adha. Sungguh tak ada artinya uang Rp.1.250.000,- bagi yang mampu. Karena sekarang masyarakat mampu membeli HP yang mahal, sanggup naik pesawat terbang kalau ke Jakarta atau kota lainnya, mampu sering melakukan ibadah umroh bahkan mampu berwisata kemana-mana setiap tahun, tentu makan biaya yang besar. Simaklah firman-Nya:

 “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS Al-Kautsar [108]: 2)

Sungguh banyak manfaat ibadah kurban jika benar-benar umat Islam yang mampu melaksanakannya. Indonesia akan kebanjiran daging, dan menurut fatwa ulama boleh diawetkan (dikalengkan) agar dapat dikirm ke tempat-tempat yang jauh yang membutuhkan, jika di lingkungannya sudah cukup. Jika demikian ini terjadi, tak akan ada ironi yakni masih terjadi kelaparan di negeri kita. Negara kita berpenduduk mayoritas muslim, banyak sekali yang mampu berkorban, namun tidak semua melakukannya setiap tahun. Rasulullah saw menyeru bagi yang mampu kurban tetapi tidak melakukannya pada ‘Idul Adha dengan peringatan yang keras:

“Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan ibadah kurban tetapi dia tidak melakukannya, maka janganlah mendekati tempat ibadah kami” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Ibadah haji juga merupakan pengorbanan yang besar. Siapa yang menjalankan ibadah haji, maka ia telah melakukan pengorbanan yang besar, dari segi biaya, dari segi keberanian berjalan yang sangat jauh dan dari segi meninggalkan keluarga di tanah air. Banyak umat Islam mampu, namun belum mau menunaikan ibadah haji atau tidak berani melakukan ibadah haji atau salah paham lain tentang ibadah haji. Padahal jika amalan hajinya mabrur, tidak ada pahala baginya selain sorga.
Ibadah haji juga termasuk 3 amalan utama sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:
Amal yang utama adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian jihad di jalan-Nya, kemudian haji yang mabrur (Hadits Muttafaq alaih)

Jadi pengorbanan yang hakiki adalah pengorbanan karena Allah swt, dalam segala aspek kehidupan umat manusia. Sedang secara ritual ibadah diwujudkan dengan menyembelih hewan kurban setiap Idul Adha. Mari kita tanyakan kepada diri sendiri, pengorbanan apa yang telah kita lakukan untuk keluarga, untuk kampung kita, untuk kota Semarang, untuk bangsa dan negara kita. Pengorbanan apa yang telah kita lakukan sebagaimana para Nabi, para Wali, dan para pemimpin di semua tingkatan, hanya untuk Allah swt semata dan untuk membangun peradaban manusia yang mulia.

Khotbah ‘Idul Adha 1430 H 10 Dzul Hijjah 1430H / 27 Nopember 2009 Di Halaman Parkir TH Wonderia Semarang, GENUK KARANGLO RW II KELURAHAN TEGALSARI – SEMARANG
Oleh : M. Masyrifan Djamil




[1] Pernah terjadi 15 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar